MINHAJUSSUNNAH: Menyikapi Pembunuhan Al Husein

17 Mar

Menyikapi Peristiwa Karbala

Minhajussunnah IV/553-556

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan;

“Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua golongan dan satu berada di tengah-tengah.

Golongan Pertama: Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu merupakan tindakan benar. Karena Husain radhiyallahu ‘anhu ingin memecah-belah Jamaah kaum Muslimin.Telah Tsabit dalam As Sohih Dari Rasulullah shallalahu Alaihi Wasallam bahwasanya ia bersabda:

“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah dia.”[1]

Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu datang saat urusan kaum Muslimin berada dibawah satu pemimpin (Yazid bin Muawiyah,red) dan Husain radhiyallahu ‘anhu hendak memecah-belah umat.             Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa didalam Islam

Golongan Kedua: Mereka mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan perkara-perkara keimanan tanpa perintahnya;  tidak boleh melakukan shalat  jama’ah dan kecuali dibelakang orang yang ditunjuknya; dan  tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya.[2]

Golongan Ketiga: Yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama maupun kedua. Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid dan beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin) karena memang peristiwa yang terjadi tidak seperti itu.

Ketika sampai kabar kepadanya tentang (terbunuhnya,red) –anak pamannya-  Muslim bin Aqil ia tidak  jadi meminta baiat (dari penduduk irak, red), tapi meminta untuk dihadapkan kepada –anak Pamannya- Yazid[3] , kedaerah perbatasan, atau dikembalikan ke negerinya. Namun mereka tidak memenuhinya dan penduduk irak memintanya untuk membela mereka, namun itu tidak wajib baginya


Bid’ah-bid’ah setelah Pembunuhan Husein


Syaikhul-Islam mengatakan:

Dengan sebab kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, setan memunculkan dua bid’ah di tengah manusia[4].

Bid’ah kesedihan dan ratapan para hari ‘Asyûra  seperti menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci-maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa[5] Mereka sampai mereka berani mencaci Sâbiqûnal-awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husain radhiyallahu ‘anhu dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan. Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah dan perpecahan di tengah umat. Acara-acara tersebut tidak Wajib apalagi dianjurkan dengan kesepakatan kaum Muslimin, Bahkan Menghidupkan bid’ah kegelisahan dan meratapi musibah-musibah yang telah berlalu termasuk sesuatu yang paling diharamkan oleh Allah dan Rasulnya, begitu juga senang dan berbahagia (atas kematian Husein, red)

Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husain radhiyallahu ‘anhu yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu,red). Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci ‘Ali dan keturunan Beliau radhiyallahu ‘anhu. Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak.

Pengikut Syi’ah  (Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid,red) itulah sang pendusta. Sedangkan si Nashibi (Al Hajjaj, red)  adalah sang Perusak. Yang pertama membuat bid’ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid’ah kesenangan. Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari ‘Asyûra, maka Allah ‘Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu.”

Berkata Harb Al Kirmani: aku bertanya kepada ahmad Bin Hambal tentang hadits tersebut, dia Menjawab: tidak ada asalnya dan tidak memiliki Isnad yang Tsabit, Kecuali apa yang telah diriwayatkan oleh Suyan ibnu Uyainah, dari Ibrahim dan Muhammad bin Muntasyir, dari bapaknya, dia berkata: Telah sampai kepadaku barang siapa yang meluaskan untuk keluarganya di hari Asyura… Alhadits. Dan ibnu Muntasyir adalah orang kufah yang mendengar dan meriwayatkan dari orang-orang yang tidak dikenal. Mereka meriwayatkan bahwasanya siapa yang bercelak pada hari Asyura niscaya tidak akan terkena katarak pada tahun tersebut ,barangsiapa yang mandi pada hari ASyura niscaya tidak akan sakit pada tahun itu. Riwayat-riwayat tersebut membuat orang-orang menganjurkan untuk bercelak, mandi, dan bersenang-senang dengan makanan ekstra kepada keluarga.

Perbuatan-perbuatan Tersebut adalah bid’ah yang sumbernya dari orang-orang yang fanatik maupun benci kepada Al Husein Radiyallahu anhu, sedangkan semua bid’ah adalah sesat dan tidak dianjurkan oleh seorangpun Imam kaum Muslimin yang empat. Baik bid’ah terkait kefanatikan terhadap Husein Maupun kebencian terhadapnya.

Yang sunnah dilakukan Pada hari Asyura adalah Berpuasa berdasarkan pendapat Jumhur. Dianjurkan untuk menyertai puasa  tersebut pada hari ke-9 karena sebagian dari mereka tidak menyukai untuk berpuasa pada hari ke-10 saja. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Minhajussunnah IV/559-560

Syaikhul Islam Rahimahullah Berkata:

Tidak diragukan bahwa pembunuhan Al Husain termasuk dosa yang paling besar. Pelakunya, yang meridhoinya, dan yang membela pembunuhnya layak mendapatkan hukuman Allah.

Namun Pembunuhan beliau tidaklah lebih besar dari pembunuhan orang—orang yang lebih mulia dari beliau dari kalangan Para nabi[6], As Sabiqunal Awwalun, orang yang terbunuh ketika memerangi Musailamah, Syuhada Uhud, Sahabat yang terbunuh di Bi’ru ma’unah, Utsman bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib. Bahkan para Pembunuh Ali Meyakini bahwa Ali telah kafir dan murtad dan membunuhnya adalah ibadah yang agung.

Berbeda dengan para pembunuh Al Husain, Mereka tidak berkeyakinan bahwa ia kafir,  justeru sebagian besar dari mereka tidak suka untuk membunuhnya dan mengira hal itu adalah dosa besar, tetapi mereka membunuh Al Husein karena tujuan pribadi mereka seperti halnya manusia saling bunuh karena kekuasaan


[1] Hadits riwayat Muslim, Bab imaarah

[2] Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan pertama. Ia sangat benci kepada Husain radhiyallahu ‘anhu dan merupakan sosok yang zhalim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husain radhiyallahu ‘anhu. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh ‘Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.

[3] Yazid bin Muawiyah masih terhitung sepupunya karena Muawiyah merupakan Sepupu Rasulullah dan Ali bin Abu thalib

[4] Bid’ah duka cita dari syiah dan bid’ah kesenangan yang disebarkan oleh Hajjaj,red

[5] Para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu.

[6] Kepala Nabi Yahya telah dipersembahkan kepada seorang pelacur. Nabi Zakaria  pun dibunuh. Nabi Musa dan Nabi Isa—’alaihimas salam, umat mereka ingin membunuh mereka berdua. Dan beberapa orang nabi lainnya juga telah dibunuh.

Sumber: Minhajussunnah Juz IV

553

554

555

556

559

560

About these ads

9 Responses to “MINHAJUSSUNNAH: Menyikapi Pembunuhan Al Husein”

  1. ismail December 15, 2010 at 10:07 am #

    semoga Allah mengumpulkan orang2 yg membela Yazid dan Muawiyah di tempat yg sama di akhirat kelak. Beruntunglah kalian yg telah yakin keduanya akan diampuni.

    • dobdob December 17, 2010 at 1:25 am #

      Sayang sekali saudara tidak membaca tulisan saya dengan baik, dari awal hingga akhir, tulisan diatas adalah penjabaran dari penyikapan pembunuhan alhusain dari beberapa goloongan. saya adalah layaknya Ahlussunnah dan Ibnu Taimiyah yang konsisten menyatakan Kesyahidan al Husain secara adil dan tidak berlebihan. sikap ahlussunnah terkait Yazid, dalam hal ini diwakili Ibnu Taimiyah telah dijabarkan dalam bahasan lain di blog ini, begitu juga Muawiyah. silahkan Saudara merujuknya.

    • Sutiyo Tiyo July 22, 2012 at 7:31 am #

      Allah SWT Maha Tahu yang haq dan yang bathil,,,dan Para Malaikat Allah tidak akan salah mencatat amal perbuatan para pembunuh,penyebar fitnah,perusak agama dan penyebar virus bid’ah..Semoga Imam Husein ra.mendapat Tempat terhormat disisi Allah SWT..

  2. dakwahwaljihad January 15, 2011 at 11:55 pm #

    Imam Abu Ja’far ath-Thahawi mengatakan dalam kitabnya yang menjadi rujukan umat Islam di sepanjang zaman
    ( al_Aqiidah ath_Thahaawiyah, “Kami mencintai para shahabat Rasulullah. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.”

  3. Jawara Karawang December 13, 2011 at 8:54 pm #

    Berasal dari golongan manakah ketiga golongan tersebut?

    Terlalu Absurd sepertinya,, kalau admin tidak menyebutkan golongan-golongan diatas secara terperinci.

    • dobdob December 29, 2011 at 11:18 am #

      tulisan ini adalah laporan dari minhajussunnah yang apa adanya, dilain waktu Insya Allah bisa disampaikan

  4. nokia January 22, 2013 at 10:10 pm #

    Yang bikin artikel apa gak baca sejarah, jelas2 muawiyah yang meberotak ke pada Sayidina Ali KW yg pada waktu itu jadi khalifah yang syah, setalah Sayidah Ali terbunuh diteruskan ke Sayidina Hasan atas pemilian umat waktu itu muawiyah tetap memberontak ahirnya kekuasaan di berikan ke muawiayah dari Sayidina Hasan, ini Nas Rasullah bahwa Sayidina Hasan akan menjadi pemersatu umat pada waktu itu, setalah muawiyah meninggal, kok kekuasaan khalifah diserakan ke YAZID (LA), kok gak dikemabliakn ke umat? Sayidina Husein RA, pada waktu itu menolak baid YAZiD LA, karena tidak dipilih oleh umat secara langsung, coba ADMIN Baca KITAB al bidayah al inayah ibnu Katsir, jadi yg memberontak disini mana? jangan memutarkan balikkan sejarah dengan pikiran anda sendiri?

    • dobdob January 30, 2013 at 10:18 am #

      emang Waktu Dinasti SaFawi sama Fathimiyah ada istilah dikembalikan ke umat? ocba deh ente baca sejarah dua dinasti tersebut

  5. nokia January 22, 2013 at 10:14 pm #

    Anda kalau membenci AHLIBAIT jangan membabi buta, kelihatan gobloknya, sejarah diputar balikkan, menurut mayoritas pendapat AHLISUNNAH YAZID (LA) seorang fasik, pemabok dsb, gak pantes memimpin umat islam pada watu itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: