Menyingkap Kesufian Ibnu Taimiyah

20 May

Pengantar

Kajian tentang keterkaitan Ibnu Taimiyah dengan Tasawuf memang menarik untuk dibahas.tentu saja, pro-kontra terkait sosok pria agung ini dalam berinteraksi dengan Tasawuf kerap menjadi buah bibir. Dikalangan tasawuf, beliau sering mendapat celaan dan fitnah, bahkan sebagian kisah hidup beliau dibalik terali besi adalah ulah tokoh-tokoh Shûfî yang mengusulkan pemenjaraannya kepada Amir kala itu. Kisah ini terekam dalam kitab al-Bidâyah Wannihâyah karangan Muridnya dimana ibnu Athoillah Al Sakandarî  menjadi biang keladi pemenjaraan beliau di Mesir pada tahun 707 Hijriah. Bukan itu saja, beberapa tokoh Shûfî modern terkadang mencoba memberikan sentuhan lain terkait interaksi Ibnu Taimiyah dengan Tasawuf dimana beliau diposisikan juga sebagai seorang Shûfî karena pembelaan atau fatwa-fatwa beliau yang berpihak kepada Shûfî dan beberapa Ijazah yang beliau dapat dari masyaikh Shûfî. Sebagai contoh di dalam Majmu Fatâwa 11/16 ketika sebagian orang yang ghuluw memutlakkan kata Shiddiqqin kepada Shûfî dalam Surat al-Nisa ayat 69 :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Beliau memperincinya dengan mengatakan :

هو ـ أي الصوفي ـ في الحقيقة نوع من الصديقين فهو الصديق الذي اختص بالزهد والعبادة على الوجه الذي اجتهدوا فيه فكان الصديق من أهل هذه الطريق كما يقال : صديقو العلماء وصديقو الأمراء فهو أخص من الصديق المطلق ودون الصديق الكامل الصديقية من الصحابة والتابعين وتابعيهم فإذا قيل عن أولئك الزهاد والعباد من البصريين أنهم صديقون فهو كما يقال عن أئمة الفقهاء من أهل الكوفة أنهم صديقون أيضاً كل بحسب الطريق الذي سلكه من طاعة الله ورسوله بحسب اجتهاده وقد يكونون من أجلّ الصديقين بحسب زمانهم فهم من أكمل صديقي زمانهم والصديق من العصر الأول أكمل منه

“Kelompok ini (Shufi-pent) sebenarnya adalah salah satu bagian dari golongan ‘Shiddiqun’. Ia adalah ‘shiddiq’ yang memberikan perhatian khusus terhadap kezuhudan dan ibadah secara sungguh-sungguh. Maka seorang ‘shiddiq’ juga ada yang menjadi penempuh jalan ini, sebagaimana juga ada ‘shiddiq’ dari kalangan ulama dan umara’. Jenis (manusia) ‘shiddiq’ ini lebih khusus dari (manusia) ‘shiddiq’ secara mutlak, namun tetap berada di bawah para (manusia) ‘shiddiq’ yang sempurna ke’shiddiq’annya, dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in.

Maka jika para ahli zuhud dan ibadah dari Bashrah itu disebut sebagai para ‘shiddiqun’, maka para imam dan fuqaha’ dari Kufah pun disebut sebagai para ‘shiddiqun’. Setiap mereka (menjadi ‘shiddiqun’) sesuai dengan jalan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang mereka tempuh dengan kemampuan mereka. Sehingga (dapat disimpulkan) bahwa mereka –para Shûfî- adalah manusia ‘shiddiq’ paling sempurna di zamannya, meski para ‘shiddiqun’ generasi awal  lebih sempurna dari mereka

Secara ekstrim mereka bahkan menisbatkan Ibnu Taimiyah dengan keyakinan bid’ah tabaruk  karena perbuatan orang awam yang meminum air bekas pemandian jenazah beliau.[1]

DR Alawi Maliki malah mengaitkan beliau sebagai orang yang menguatkan hadits Tawasul Nabi Adam Alaihissalam dengan hanya menyitir tulisan beliau dalam  Majmu Fatâwa.[2]

Dilain Pihak, kaum Salafy memposisikan diri sebagai musuh kaum Shûfî dengan permusuhan yang nyaris merata pada seluruh pemahamannya atau paling tidak begitulah yang terlihat secara nyata dalam buku-buku yang dikarang oleh mereka.

Tulisan ini saya tujukkan untuk mengulas pendapat-pendapat ibnu Taimiyah dengan harapan ada kesimpulan yang adil antara dua pihak yang bersebrangan ini dengan prinsip berimbang serta jauh dari ifrath dan tafrith

Definisi Tashawwuf  Menurut Ibnu Taimiyah

Sebagaimana diketahui, bahwa para peneliti tentang Tasawuf memiliki pandangan yang berbeda tentang asal kata yang membentuk frase Tasawuf . Berbagai pertanyaan pun lahir dari masalah ini; apakah “Shûfî” adalah kata asli bahasa Arab atau kata asing yang ‘diarabkan’? Jika ia adalah kata asing, dari bahasa manakah ia berasal? Jika ia adalah kata asli bahasa Arab, apakah ia kata yang jamid atau musytaq?

Perdebatan seputar asal pembentukan “Tasawuf” atau “Shûfî” ini juga diulas oleh Ibnu Taimiyah. Dalam ulasannya, ia menguraikan berbagai pandangan yang ada dalam masalah ini, mendiskusikannya lalu kemudian menyampaikan pandangannya sendiri yang disertai dengan dalil dan argumentasinya. Dari semua pendapat yang ada, umumnya kritik yang dilontarkan oleh Ibnu Taimiyah berkaitan dengan kaidah kebahasaan dalam penisbatan sebuah kata untuk kemudian menjadi “Shûfî”. Meski terkadang kritiknya juga terkait dengan wawasannya tentang sejarah.

Salah satu contohnya adalah ketika ia mengkritik pendapat yang mengatakan bahwa “Shûfî” adalah penisbatan kepada Ahl al-Shuffah. Ibnu Taimiyah mengatakan,:

فقيل: إنّه نسبة إلى”أهل الصفّة” وهو غلط؛ لأنّه لو كان كذالك لقيل : صفّي

“dikatakan: Dia (Shûfî) adalah penisbatan kepada ‘al-Shuffah’, namunhal itu adalah sebuah kekeliruan. Sebab jika demikin, maka seharusnya menjadi ‘shuffy’ صفّي ,  (padahal lafadz seharusnya adalah صوفي.-pent[3])

Di samping itu, ia juga menafikan –berdasarkan fakta sejarah- pendapat ini dengan menyatakan bahwa Shuffah yang terletak di bagian selatan Mesjid Rasulullah saw kala itu bukanlah tempat yang khusus dihuni oleh kelompok tertentu. Tempat itu sepenuhnya untuk orang-orang yang datang ke Madinah sementara mereka tidak mempunyai keluarga atau rumah di Madinah. Kaum muslimin yang berasal dari luar Madinah jika berkunjung ke kota itu dapat menginap di mana saja, dan Shuffah menjadi alternatif terakhir bila mereka tidak menemukan tempat bernaung. Karena itu –menurut Ibnu Taimiyah- penghuni Shuffah selalu berganti. Terkadang jumlahnya banyak, tapi pada kali yang lain menjadi sedikit. Karakternya pun berbeda-beda; ada yang ahli ibadah dan ilmu, namun ada pula yang tidak demikian. Bahkan, diantara mereka kemudian ada yang murtad dan diperangi oleh Nabi saw. Karena itu, tidak ada alasan untuk menisbatkan “Shûfî” kepada Ahl al-Shuffah.[4]

Pada akhirnya, Ibnu Taimiyah lebih menguatkan pandangan yang menyatakan bahwa “Shûfî” adalah sebuah penisbatan pada pakaian dari bulu domba yang dikenal dengan

shuf ( صوف ). Di samping karena alasan kaidah kebahasaan dan sejarah, dari segi fakta, inilah yang ma’ruf karena para Shûfî dan zuhhâd banyak mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.

Beliau mengatakan:

وقيل-وهو المعروف-: إنّه نسبة إلى لبس الصوف؛ فإنة أوّل ما ظهرت الصوفيّه من البصرة، وأوّل من بنى دويرة الصوفية بعض أصحاب عبد الواحد بن يزيد وعبد الواحد من أصحاب الحسن، وكان في البصرة من المبالغة في الزهد والعبادة والخوف ونحو ذالك مالم يكن في سائر أهل الأمصار؛ ولهذا يقال: فقيه كوفي، وعبادة بصريّة

Dikatakan-dan ini yang terkenal-: shûfi adalah penisbatan kepada pakaian dari bulu domba; Awal mula munculnya Shûfîyah adalah dari Bashrah, dan yang pertama kali membangun rumah kecil untuk kaum Shûfî adalah beberapa orang pengikut Abd al-Wahid bin Zaid. Abd al-Wahid bin Zaid ini adalah salah satu murid dari al-Hasan al-Bashri. Saat itu perhatian pada kezuhudan, ibadah, khauf, dan yang semacamnya di Bashrah sangat berlebihan melebihi kota-kota lain. Itulah sebabnya muncul pameo: ‘fikihnya fikih Kufah, tapi ibadahnya ibadah Bashrah’.[5]

Namun, Ibnu Taimiyah memberikan catatan penting yang patut direnungkan. Ia mengingatkan bahwa mengenakan model pakaian tertentu (seperti yang terbuat dari bulu domba) sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai tanda atau bukti kewalian seseorang. Ia mengatakan,

“Para wali Allah sama sekali tidak memiliki ciri yang menjadi kekhasan mereka secara lahiriah dari hal-hal yang mubah. Mereka tidak menjadi beda dengan mengenakan model pakaian tertentu lalu meninggalkan model yang lain, selama keduanya adalah perkara yang mubah.[6]

Hal ini mengantarkan pada kesimpulan lain bahwa dalam hal ini, Ibnu Taimiyah lebih mementingkan ‘isi’ dan ‘kandungan’ yang sesungguhnya daripada harus mementingkan penampilan lahiriah. Itulah sebabnya, dalam mengulas tentang Tasawuf, ia tidak terpaku pada istilah ini secara baku. Ia juga menggunakan istilah “al-Fuqara’” (kaum fakir), “al-Zuhhad” (kaum pelaku kezuhudan), “al-Salikin” (para penempuh jalan menuju Allah), “Ashab al-Qalb” (pemerhati dan pemilik hati), “Arbab al-Ahwal” (para penempuh ahwal), “Ashab al-Shufiyah” (pelaku jalan Shûfî), atau Ashab al-Tashawwuf al-Masyru’ (pelaku Tasawuf yang disyariatkan); semuanya untuk menunjukkan satu makna, yaitu para penempuh jalan ruhani dalam Islam. Sebagaimana ia juga menegaskan bahwa jalan ruhani ini samasekali tidak menjadi monopoli kelompok tertentu. Para ulama, qurra’ dan yang lainnya pun dapat dikategorikan sebagai para penempuh jalan ini, sebab –baginya- Islam adalah sebuah keutuhan antara zhahir dan bathin, jiwa dan raga.

Pembagian Shûfî Menurut Ibnu Taimiyah

Menurut Ibnu Taimiyah, para Shûfî itu dapat dibagi menjadi 3 golongan:

1.      Shûfî yang hakiki (shufiyyah al-haqa’iq)

2.      Shûfî yang hanya mengharapkan rezki (shufiyyah al-arzaq)

3.      Shûfî yang hanya mementingkan penampilan (shufiyyah al-rasm)

Shûfî yang hakiki menurutnya adalah mereka yang berkonsentrasi untuk ibadah menjalani kezuhudan di dunia. Mereka adalah orang-orang yang memandang bahwa seorang Shûfî adalah “orang yang bersih (hatinya) dari kotoran, dipenuhi dengan tafakur, dan yang menjadi sama baginya nilai emas dan batu.”[7]

Menurut Ibnu Taimiyah, seorang Shûfî yang hakiki haruslah memenuhi 3 syarat berikut:

1.     Ia harus mampu melakukan “keseimbangan syar’i”. Yaitu dengan menunaikan yang fardhu dan meninggalkan yang diharamkan. Dengan kata lain, seorang Shûfî yang hakiki harus komitmen dengan jalan taqwa.

2.     Ia harus menjalani adab-adab penempuh jalan ini. Yaitu mengamalkan adab-adab syar’i dan meninggalkan adab-adab yang bid’ah. Atau dengan kata lain, mengikuti adab-adab al-Qur’an dan sunnah Nabi saw.

3.     Bersikap zuhud terhadap dunia dengan meninggalkan hal-hal yang tidak ia butuhkan dan menyebabkannya hidup berlebihan.

Adapun shufiyyah al-arzaq (yang hanya mengharapkan rezki) adalah mereka yang bergantung pada harta-harta wakaf yang diberikan kepada mereka.

Sedangkan shufiyyah al-rasm adalah sekumpulan orang yang merasa cukup dengan menisbatkan diri kepada Shûfî. Bagi mereka yang penting adalah penampilan dan perilaku lahiriah saja, tidak hakikatnya. Menurut Ibnu Taimiyah, mereka ini sama dengan orang yang merasa cukup berpenampilan seperti ulama –hingga menyebabkan orang bodoh menyangka mereka benar-benar ulama, padahal sebenarnya bukan.[8]

Dengan pembagian ini, kita dapat mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah telah mencermati perkembangan Tasawuf dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, ia seperti menegaskan adanya semacam pergeseran dalam memahami Tasawuf yang sesungguhnya. Itulah sebabnya, -sebagaimana telah disinggung sebelumnya- bagi Ibnu Taimiyah, wali Allah yang hakiki itu tidak memiliki model penampilan khusus yang berbeda dengan kaum muslimin lainnya. Mengapa? Karena –menurutnya- para wali itu sebenarnya tersebar dan ada dalam setiap kelompok dan lapisan masyarakat yang berpegang teguh pada Syariat Allah yang benar dan meninggalkan bid’ah. Mereka ada di tengah para ulama, qurra’, prajurit yang berjihad, atau profesi-profesi lainnya. Para wali itu bergerak menunaikan kewajiban duniawi mereka dengan tidak melepaskan penghambaan mereka kepada Allah Ta’ala.[9]

Di sisi yang lain, Ibnu Taimiyah juga mengkritik para Shûfî yang hanya memberikan perhatian terhadap ranah ruhani saja, tanpa memperhatikan ranah lahiri  dan sosial. Baginya, ketimpangan yang terjadi pada salah satu dari sisi ruhani dan lahiri akan mengakibatkan munculnya sebuah bid’ah baru. Sebab Islam sesungguhnya menyerukan kesalehan masyarakat manusia yang utuh, zhahir dan bathin. Seorang Shûfî yang sempurna menurutnya harus mampu menyelaraskan amalan hati dengan amalan duniawi. Ia menyebutnya dengan, “Dunia berkhidmat untuk dien (agama).”[10]

Pendapat Ibnu Taimiyah Terhadap beberapa Tokoh

Salah satu Kontroversi ibnu Taimiyah terkait interakasinya dengan Shûfî adalah beberapa pendapatnya yang menyesatkan bahkan melakukan takfir terhadap beberapa tokoh yang dianggap sebagai pemuka kaum Shûfî, disisi lain dia juga memuji  beberapa tokoh lain yang juga dianggap sebagai pemuka kaum Shûfî. Pendapat beliau tentang tokoh-tokoh tersebut antara lain;

  1. Al HallajBeliau berkata:
    Beberapa orang dari kalangan ahli bid’ah dan zindiq telah menisbatkan diri sebagai seorang shûfî, tetapi menurut pandangan beberapa ahli tahqiq dari kalangan Tashawuf, mereka bukan termasuk Shûfî: misalnya al-Hallâj, sesungguhnya sebagian besar syaikh Thariqat mengingkarinya serta mengeluarkannya dari thariqat. Mereka adalah al Junaid bin Muhammad sayyid Al thâifah dan lainnya. Hal itu disebutkan oleh Syaikh Abu Abd al Rahmân al Sulamî dalam kitab Thabaqât al Shûfiyyah dan juga disebutkan oleh al Hâfiż Abû Bakr al Baghdâdî dalam kitab târîkh Baghdad.[11]
  2. Ibnu ArabiBagi siapapun yang menggeluti Kitab-kitab Ibnu Taimiyah niscaya Ia akan menemukan bahwa Ibnu Taimiyah amat bersemangat dalam memperingatkan kaum Muslimin dari bahaya paham kafir ibnu Arabi dan tak pernah diriwayatkan bahwa beliau mementahkan kecaman serta pengkafirannya terhadap ibnu Arabi. Beliau telah menulis panjang lebar sebuah risalah khusus tentang ibnu Arabi sebagai bantahan terhadap keyakinannya yang menyatakan bahwa Fir’aun termasuk mukmin. Syaikh Abdurrahman bin Abdul khalik telah menulis sebuah kitab kecil tentang pertentangan antara ibnu Taimiyah dan Ibnu Arabi terkait paham wihdatul wujud yang dipeluk oleh Ibnu Arabi. Dalam Majmu Fatawa disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah telah mengkafirkan Ibnu Arabi sekalipun begitu banyak kutipan kata-kata mutiaranya yang membuatnya lebih dekat dengan Islam.[12]
  3. Syaikh Abdul Qadir Jailâni, al- Junaid, dllBeliau berkata:
    Para Imam kaum Shûfî dan para syaikh mereka yang terkenal seperti al Junaid bin Muhammad dan para pengikutnya, Syaikh Abd al Qâdir dan semisalnya. Mereka adalah termasuk orang-orang yang paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan .
    selanjutnya beliau mengatakan :Seluruh perkataan Syaikh Abdul Qâdir Jailanî terkait dengan ittiba kepada perintah dan meninggalkan larangan serta sabar atas apa yang telah ditakdirkan.[13]
    Dalam tempat lain beliau mengatakan :
    Siapapun dari kalangan tashawwuf dan Ma’rifah yang menempuh jalan al-Junaid, maka dia telah mendapat petunjuk, sukses, dan berbahagia.[14]
    Dalam tempat lain beliau mengatakan: al junaid dan semisalnya merupakan Imam yang telah mendapat petunjuk, Siapapun yang menyelisihinya adalah sesat.[15]

Kesimpulan

Para pembaca mungkin sedikit bingung atau agak terkesan dengan sikap ibnu Taimiyah terhadap Shûfîsme, karena mungkin tidak sesuai dengan apa yang digambarkan sebelumnya. Jika Ibnu Taimiyah terkesan membela dan memuji beberapa hal terkait dengan Shûfîsme, maka pastikan bahwa itu adalah Shûfî jenis pertama yang disebut ibnu taimiyah dengan istilah shufiyyah al-Haqa’iq. Namun jika dilain tempat Ibnu Taimiyah berbicara keras terhadap Shûfî atau tokohnya seperti Ibnu Arabi dan Al Hallaj maka Itu karena mereka termasuk kaum zindiq yang belakangan dinisbahkan sebagai Shûfî atau mereka termasuk shufiyyah al-Arzaq dan atau shufiyyah al-Rasm yang ingin berbagi pujian sebagai orang shâleh namun sebenarnya hanya mencari keuntungan dunia.

Lalu bagaimana dengan kaum Salafy yang terkesan meratakan Shûfîsme sebagai kesesatan, maka saya katakan hal itu dikarenakan  di zaman ini terlalu sulit menemukan Shûfîsme yang tidak identik dengan pengagungan terhadap Ibnu Arabi dan al Hallaj serta pembolehan terhadap praktek-praktek yang menjurus kepasa kesyirikan atau bahkan murni kesyirikan.

Adapun sebagian penulis dari kalangan shûfî yang mengatakan bahwa ibnu Taimiyah adalah seorang shûfî lalu mengaitkannya dengan praktek bid’ah, maka dapat dipastikan bahwa mereka memotong-memotong fatwa Ibnu Taimiyah dan atau menggunakan fatwa tersebut tidak pada tempatnya untuk menggambarkan seolah ada perbedaan antara pengikutnya dengan ibnu taimiyah sendiri. Bagi orang yang mencintai beliau, maka tidak ada cara lain kecuali merujuk kitab-kitab beliau dan bertanya kepada ahli ilmu.

Perkataan paling tepat tentang Shûfî adalah sebagaimana yang dikatakan ibnu Taimiyah:

“Banyaknya hal-hal yang terjadi terkait ijtihad dan perselisihan tentang mereka membuat Orang-orang berselisih pendapat mengenai tasawuf. Sebagian mencela tasawuf seraya berkata bahwa Mereka adalah ahli bid’ah yang telah keluar dari Sunnah. Dari para imam yang mewakili kelompok ini kita dapatkan banyak fatwa yang kemudian banyak diikuti oleh kelompok lain terutama dari kalangan ahli fiqh dan ilmu kalam. Sementara kelompok yang lain memujinya secara berlebihan seraya mengatakan bahwa ahli tasawuf adalah makhluk yang paling mulia dan sempurna setelah Nabi. Apa yang dikemukakan oleh kedua kelompok ini sama-sama tercela.

Yang benar, mereka adalah Mujtahid dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wataala sebagaimana orang-orang yang taat kepada Allah, diantara mereka ada yang mendahului (dalam kebaikan-pent) dan dekat sesuai dengan ijtihadnya, sebagian lagi berada dipertengahan yang merupakan golongan kanan, kedua golongan tersebut kadang-kadang berijtihad kemudian salah. Diantara mereka juga ada yang berdosa lalu bertaubat atau tidak bertaubat. Orang yang mengaku bagian dari tashawuf juga ada yang mendzolimi diri mereka sendiri serta berbuat maksiat kepada Rabbnya.[16]

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat

Saudaramu: dobdob

Disadur dari tulisan : TASAWUF IBNU TAIMIYAH dengan berbagai perubahan sesuai dengan misi blog ini

Oleh : Abu Miqdad Al Maidany


[1] Al-Bidayah wannihayah, peristiwa-peristiwa tahun 728 Hijriah. yang saya maksud disini adalah tabarruk dengan benda,waktu, dan tempat  yang tidak warid dari Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam, adapun yang warid dari Rasulullah shallallâhu alaihi Wasallâm dan dilakukan sesuai petunjuk beliau, maka hal itu masyru’ dan sunnah dilakukan

[2] Mafâhîm Yajib ‘an tushohhâh,  penisbatan ini telah dibantah oleh Syaikh Shâlih alu Syaikh dalam kitab Hâżihi Mafâhîmunâ; hadits tersebut dinyatakan secara tegas kelemahannya dalam bantahannya terhadap al Bakrî

[3] Majmû Fatâwa 11/6

[4] al-Furqan baina Auliya’ al-Rahman wa Auliya’ al-Syaithan hal. 36-37.

[5] Majmû Fatâwa 11/6-7

[6] al-Furqân baina Auliya’ al-Rahman wa Auliya’ al-Syaithân, hal. 36

[7] Majmû Fatâwa 11/19

[8] Majmu’ al-Fatawa 11/19-20

[9] Al-Furqan baina Auliya’ al-Rahman wa Auliya’ al-Syaithan, hal. 58.

[10] Al-Siyasah al-Syar’iyyah, hal. 179.

[11] Majmû Fatâwa 11/18

[12] Majmû Fatâwa 2/143, 2/368

[13] Majmû Fatâwa 8/369

[14] Majmû Fatâwa 14/355

[15] Majmû Fatâwa 5/321

[16] Majmû Fatâwa 11/18. dari susunan kata-katanya, beliau terlihat melakukan iqtibas dalam memberi kesimpulan ini berdasarkan surat Fathir ayat 32

About these ads

14 Responses to “Menyingkap Kesufian Ibnu Taimiyah”

  1. Wangsa Sentono May 24, 2010 at 3:27 am #

    Tulisan anda sangat menarik dan komplit. Bagi saya simpel saja sebelum kita menyembah sesuatu kenalilah apa yang kita sembah. Apabila kita menyembah Allah kenalilah Allah melalui diri sendiri. Kitab dan tulisan adalah referensi tetapi mengenal Allah adalah prakteknya.

    Salam

  2. Abdul Syukur June 28, 2010 at 9:25 am #

    Ustadz,

    Ada anggapan dari sebagian kalangan khususnya Sufi/Tasawuf bahwa Syaikhul Islam terlibat/ikut dalam Thariqot Qadariyah.

    Benarkah anggapan ini?

    Terkait dengan penjelasan dari topik yang antum buat, saya tertarik dengan kalimat dibawah ini:

    ibnu Athoillah Al Sakandarî menjadi biang keladi pemenjaraan beliau di Mesir pada tahun 707 Hijriah. Kalau berkenan mohon diberikan penjelasan lengkap dari kitab Al-Bidayah Wa Nihayah tersebut.

    Syukron

    • dobdob June 29, 2010 at 12:49 am #

      Mungkin yang antum maksud adalah thariqot Qadiriyah, yaitu yang mengklaim Syaikh Abdul Qadir Jailani sebagai pendirinya. mungkin karena dalam beberapa tempat Ibnu Taimiyah memang memuji Syaikh Abdul Qadir Jailani, itu saja, padahal logika ini sangat gegabah, karena dalam beberapa tempat para ulama banyak memuji ulama bermazhab lain tapi dia tidak bermazhab dengan mazhab tersebut. dan juga sebaliknya, Imam Nawawi memberi peringatan tegas agar tidak tertipu dengan Abu Hamid Al Ghazali tentang sholat raghaib dimalam Nisfu, tapi toh keduanya tetap dianggap Bermazhab Syafii. lagipula Syaikh Abdul Qadir memang Seorang yang mumpuni dari segi keilmuan dan sucia dari segi akhlak tanpa perlu mengkaitkannya dengan sufisme.

      untuk masalah terkait peristiwa-peristiwa tahun 707 Hijriah mohon antum usaha sendiri, cari di hawadits tahun 707 Hijriah di Bidayah wannihayah. mohon jadi Ikhwan yang mandiri.

  3. baz August 7, 2010 at 9:41 am #

    kutipannya baik dan semaksimal mungkin menilai satu persoalan secara adil. waffaqana Allah ila ‘l-khair wa ‘s-sadaad…

  4. Dayat October 11, 2010 at 4:00 pm #

    Supaya inshof saja. Dalam menilai ktb Mafahim Yajibu An Tushahhab anda tendensius dan argumen anda tdk msk akal, coba anda baca ta’liq Mafahim yg d tls oleh Saudaranya Dr. Al Maliki. Nilai anda kpd al Hallaj dan Ibnu Arobi jg tdk jujur dan hanya mau mengambil pndpt ibnu taimiyah dan pembela salafi. Coba dong buka refernsi yg bnyk.

    • dobdob October 12, 2010 at 2:14 am #

      “semoga Allah menjadikan Inshof sebagai motor penggerak tulisan-tulisan saya. saudaraku, saya telah mengemukakan apa yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al raddu alal Bakri. Seharusnya reaksi anda adalah dengan memulai meneliti kitab tersebut untuk juga membandingkan pendapat ibnu taimiyah tentang hadits tersebut. alih-alih melakukan itu, anda malah langsung memvonis saya berargumen tidak masuk akal dan malah memberikan saya PR. mengenai Penilaian saya terhadap Al Hallaj dan Ibnu Arobi yang cenderung berkiblat kepada ibnu Taimiyah saja, maka seharusnya anda secara teliti membaca judul tulisan ini yang memang mengkhususkan tentang kesimpulan pendapat ibnu Taimiyah tentang shufi dan tokohnya yang terkesan simpang siur atau bahkan dibuat simpangsiur diantara para pendukung dan pembencinya. namun begitu, ibnu Taimiyah juga terlihat memberi rujukan pendapatnya dari Thabaqât al Shûfiyyah dan tarikh baghdad. nah agar sama-sama inshof, anda juga seharusnya meneliti juga pendapat kedua pengarang kitab tersebut terhadap ibnu Arobi dan al Hallaj.
      sekarang, siapa yang tendensius?”

  5. Abu Abdulkarim November 4, 2010 at 3:00 am #

    Assalamu’alaykum.

    Ustadz, saya mendapatkan artikel yang isinya tentang makalah Tasawuf Ibnu Taimiyah, artikelnya ada di link: http://abulmiqdad.multiply.com/journal/item/3/Makalah-TASAWUF_IBNU_TAIMIYAH
    Mohon tanggapan dari ustadz mengenai isi artikel tersebut, apakah bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya atau ada sumber dari penulis yang tidak benar?

    Jazaakallohu Khoir

  6. Abdul Syukur November 4, 2010 at 5:59 am #

    @ Abu Abdulkarim

    Tulisan Ust. dob_dob kan menyadur dengan sedikit perubahan dari tulisannya Abu Miqdad (baca keterangan dibawahnya artikel Ust. dob_dob)

    Jadi ya intinya sama saja :)

  7. Dianth January 7, 2011 at 2:55 pm #

    Bismillah. Menurut saya penulis berusaha mengungkapkan penjelasan ibnu taymiah ttg tasawuf dgn cukup adil, sayangnya penulis membuat kesimpulan dgn memihak pemikiran salafy (sy rasa memang penulisnya pengikut salafy) dgn mengatakan terlalu sulit menemukan sufi…. Saya menyaksikan sufi seperti itu selalu ada sama disetiap zamannya. Apa yg dikatakan ibnu taimiyah tentang 3 kelompok sufi itu kondisinya sama dgn sekarang ini. Yg bilang terlalu sulit itu karena tidak pernah mencari dan dari awalnya sudah membenci sufi dan tasawuf. Saya saksikan sendiri banyak sekali tarekat-tarekat sufi berusaha membersihkan dirinya dari pengaruh-pengaruh ajaran sesat dan bidah-bidah. Tapi kalau masalah-masalah yg furu yg dipermasalahkan seperti zikir berjamaah, tawasul, tasbih, ziarah kubur dll dianggap bidah yg merupakan amalan kaum sufi, sampai kiamatpun tak ada tarekat yg tidak bidah menurut kelompok salafy ini. Menurut saya pandangan yg menganggap semua sufi sesat dan ahli bidah, hal ini juga ghuluw terhadap tasawuf. Masalah Syekh Abdul Qodir aljilani haruslah jujur diberitakan faktanya bahwa dia adalah seorang sufi dan banyak murid dan pengikutnya sampai sekarang adalah dari kelompok sufi. Demikian pendapat saya. Salam.

    • Agus Awaludin October 21, 2011 at 10:20 am #

      Shohih Dianth, bahkan keturunannya2 jga msih bnyak. wa’alaikumussalam wa rohmatullah. :-)

  8. haditya endrakusuma March 4, 2011 at 10:16 am #

    Tulisan yang sangat obyektif, faktual dan berimbang.

    Dan memang yang dikritisi dan anggap menyimpang dalam “Tasawwuf” oleh Imam Ibn Taimiyyah adalah “tasawwuf” yang telah terilfiltrasi dengan faham-faham Filsafat, Bathiniyah dan Kalam atau yang dikenal dengan Tasawwuf Falasifah.

  9. Javad Al-Kadzim August 3, 2011 at 12:20 pm #

    Jika ente memang pecinta Ibnu Taimiyah maka ente wajib membalas mubahalah ane
    “Jika pada kitab Minhajus Sunnah karya Ibnu Taimiyah tidak ada satu kalimatpun yang menghina Imam Ali alaihis salam maka ane akan dihukum Alloh dengan hukuman yang sepedih-pedihnya sampai akhir hayat ane”

  10. feqir February 2, 2012 at 9:50 pm #

    sayangnya, pendapat dalam tulisan ini bukanlah representasi kaum Wahhabi secara umum.. jadi cuma hiasan tanpa kepala… sayang abu dob2 bukan pemuka salafi

  11. ekal February 21, 2013 at 1:27 am #

    Tulisan anda cukup netral. Memang sulit di zaman sekarang ini mencari yang haq…. Tapi yang pasti TIDAK SEMUA TASAWUF ITU SESAT…. Wallaahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: