Archive | Ahlul Bait RSS feed for this section

Dialog rekaan antara Syaikhul Islam dengan Pengarang Al Hikam

8 Apr

Telah tersebar sebuah dialog unik antara pentolan Sufi dengan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pentolan tersebut adalah ibnu Athaillah Al Sakandary.

Sangat mudah untuk menemukan dialog ini di halaman internet, terutama  versi Indonesia yang merupakan terjemahan dari sebuah buku karya Pemuka Naqsabandi kenamaan yang bermukim di Amerika Muhammad Hisyam Kabbani yang juga Continue reading

MINHAJUSSUNNAH: Menyikapi Pembunuhan Al Husein

17 Mar

Menyikapi Peristiwa Karbala

Minhajussunnah IV/553-556

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan;

“Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua golongan dan satu berada di tengah-tengah.

Golongan Pertama: Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu merupakan tindakan benar. Karena Husain radhiyallahu ‘anhu ingin memecah-belah Jamaah kaum Muslimin.Telah Tsabit dalam As Sohih Dari Rasulullah shallalahu Alaihi Wasallam bahwasanya ia bersabda:

“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah dia.”[1]

Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu datang saat urusan kaum Muslimin berada dibawah satu pemimpin (Yazid bin Muawiyah,red) dan Husain radhiyallahu ‘anhu hendak memecah-belah umat.             Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa didalam Islam Continue reading

MAJMU FATAWA : Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Muawiyah

15 Mar

Mari kita menelaah Fatwa Syaikhul Islam terkait fitnah pembunuhan Husain ini! kita ketahui bahwasanya Yazid bin Muawiyah Bin Abu Sufyan merupakan khalifah yang berkuasa ketika Ubaidaullah bin ziyad membantai Husain dan keluarga.

Syaikhul Islam mengatakan:

Belum pernah sebelumnya seorangpun manusia membicarakan masalah Yazid bin Mu’awiyah  dan tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien.
Hingga terjadilah setelah itu beberapa perkara, sehingga manusia melaknat Yazid bin Mu’awiyah, bahkan bisa saja  laknat tersebut berujung kepada laknat terhadap orang lain  dengan menggunakan  kejadian-kejadian tersebut
Sedangkan kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu. Kemudian suatu kaum dari golongan yang ikut mendengar yang demikian meyakini bahwa Yazid termasuk pemuka orang  shalih dan imam yang mendapat petunjuk.

Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisi yang berlawanan:

Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, membunuh sahabat-sahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah (pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain keduanya. Mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal sebagai peminum khamr dan menampakkan maksiat-maksiatnya. Continue reading

MAJMU FATAWA : Pembunuhan Husain bin Ali bin Abu Thalib

12 Mar

Banyak sekali bertebaran kisah-kisah tentang terbunuhnya Husain dari berbagai sumber terutama dari kalangan Syiah. Disini saya mencoba menyusun tulisan dari beberapa tulisan yang telah ada dengan mendasarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan juga Muridnya ibnu Katsir dalam kitabnya Al bidayah Wannihayah disertai sumber-sumber otentik dari hadits-hadits dan atsar yang telah sah.

Isyarat akan terbunuhnya Husain

Jauh hari sebelum Husain terbunuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita Kepada Ali bin Abi Thalib  bahwa Husain akan wafat dalam keadaan terbunuh. Adz-Dzahabi rahimahullah membawakan dari  dari ‘Ali, ia berkata:

“Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kedua mata beliau bercucuran air mata, lalu beliau bersabda: “Jibril baru saja datang, ia menceritakan kepadaku bahwa Husain kelak akan mati dibunuh. Kemudian Jibril berkata: “Apakah engkau ingin aku ciumkan kepadamu bau tanahnya?”. Aku menjawab: “Ya. Jibril lalu menjulurkan tangannya, ia menggenggam tanah satu genggaman. Lalu ia memberikannya kepadaku. Sehingga karena itulah aku tidak kuasa menahan air mataku”.[1]

Kronologi terbunuhnya Husain Radiyallahu anhu

Ketika Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu resmi menjadi khalifah, maka Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu juga sangat memuliakannya, bahkan sangat memperhatikan kehidupan Husain Radhiyallahu ‘anhu dan saudaranya, sehingga sering memberikan hadiah kepada keduanya. Tetapi, ketika Yazid bin Mu’awiyah diangkat sebagai khalifah, Husain Radhiyallahu ‘anhu bersama Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhu termasuk yang tidak mau berbai’at. Bahkan penolakan itu terjadi sebelum Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu wafat ketika Yazid sudah ditetapkan sebagai calon khalifah pengganti Mu’awiyah. Continue reading

Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash

9 Mar

Muawiyah dan Amr Bin Ash termasuk orang-orang beriman. Tidak ada satupun salaf yang menuduh mereka sebagai orang munafik. Bahkan telah Tsabit dalam kitab sohih bahwasanya Amr bin Ash ketika membaiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ia berkata :”Agar Allah mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu”. Maka Rasulullah bersabda: “ tidakkah engkau tahu bahwasanya Islam akan Memusnahkan apa yang telah lalu?”[1].

Dan diketahui bahwa yang Islam yang memusnahkan (dosa,red) merupakan Islamnya orang-orang beriman, bukan Islamnya Orang-orang Munafik.

Amr Bin Ash juga termasuk orang yang berhijrah setelah Hudaibiyah secara sukarela bukan paksaan. Sedangkan orang-orang Muhajirin bukanlah orang Munafik, tetapi yang munafik adalah sebagian orang yang telah ada didalam kaum Anshar yang merupakan Penduduk Madinah. Ketika para pemuka dan kebanyakan penduduknya Masuk Islam, sebagian orang-orang Munafik tersebut berpura-pura sebagai pemeluk Islam. Berbeda dengan  Penduduk Mekkah yang Para pemuka dan kebanyakan Penduduknya adalah kafir, tidak ada yang menunjukkan Keimanannya kecuali orang-orang yang sungguh-sungguh beriman baik lahir maupun batin. Continue reading

Ali dimata Ibnu Taimiyah

18 Nov

Ali bin Muhammad Al-Qadiby

Ibnu Taimiyah memuji Ali bin Abi Thalib dibanyak Tempat dalam karangannya. Beliau menyanjung dan memposisikan beliau sebagai Kholifah keempat setelah Abu Bakr, Umar, dan Utsman Radhiyallaahu anhum layaknya manhaj Ahlussunnah Waljamaah. Hal itu sangat jelas dan lugas nampak bagi para pembaca kitab-kitab Syaikh. Aku tidak mengetahui bagaimana mungkin pandangan Ahli bid’ah dan para pencela Syaikhul Islam terlewatkan dari hal-hal tersebut.

Aku telah mengumpulkan sebagiannya pada pembahasan ini agar dibaca oleh setiap penulis dan para Pencari kebenaran serta untuk mencerahkan mata Ahlussunnah agar tidak nampak didada mereka gangguan ahli bid’ah terhadap Ibnu Taimiyah ketika mereka menelaah tuduhan-tuduhan dzolim tersebut.

Saya Banyak menukil dari Kitab Minhajussunnah karena kitab tersebut merupakan acuan utama para penghujat dan penuduh Ibnu Taimiyah. Penyebabnya adalah bahwa Di dalam Kitab tersebut terdapat beberapa ungkapan yang perlu diwaspadai sebagai Pendapat miring beliau terhadap Ali bin Abi Thalib atau terpahami sebagai ungkapan yang merendahkan Ali Bin Abu Thalib, Maka aku ingin menjelaskan bahwa mereka adalah kaum yang tidak memahami maksud-maksud Syaikh pada ungkapan-ungkapan tersebut, karena mereka melihatnya dengan mata kebencian dan permusuhan pada Agama Sedangkan pemilik mata-mata sejenis ini tidak akan beruntung.

Aku memulai tulisan ini dengan menyebutkan Aqidah beliau –Rahimahullah- tentang sahabat dengan menukil dari kitab Al Aqidah Al Waashitiyyah. Kitab Tersebut merupakan Representasi Aqidah beliau yang Masyhur yang ditulis dengan tangannya serta menyokong pendapat beliau dihadapan ahli bid’ah.

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :

“ Termasuk Ushul Ahlussunnah waljamaah adalah terjaga hati dan lisan mereka terhadap Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seperti apa yang Telah disifatkan kepada Mereka oleh Allah dalam firmanNya :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (10)
(الحشر:10)

Artinya : “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”

Serta mentaati Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pada sabda beliau:

لا تسبوا أصحابي، فوالذي نفسي بيده لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه

Artinya: “ Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku di tanganNya, kalau seandainya salah seorang di antar kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan mencapai segenggam kebaikan salah seorang di antara mereka tidak juga setengahnya”

Menerima apa yang disampaikan oleh Sunnah dan Ijma tentang keutamaan dan kedudukan mereka,

Mengutamakan mereka yang berinfak dan berperang sebelum fathul mekkah –Perjanjian Hudaibiyah- atas mereka yang berperang dan berinfak setelahnya.

Mengutamakan Muhajirin atas Anshar,

Mengimani bahwasanya Allah telah berfirman berkenaan dengan Peserta perang badar yang berjumlah lebih dari 310 orang : “berbuatlah sekehendak kalian, sesungguhnya aku telah mengampuni kalian” ،

Percaya bahwa tak seorangpun yang telah berbaiat dibaawah Pohon akan masuk neraka seperti yang telah dikabarkan Oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, bahkan telah diridhai Oleh Allah serta mereka Ridha kepada Allah. Jumlah mereka lebih dari 1400 orang,

Menetapkankan bahwa sebagian dari mereka telah disaksikan sebagai ahli syurga oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seperti Al Asyrah

Percaya bahwa Tsabit bin Qays bin Syammas dan selainnya termasuk sahabat.

Menetapkan apa yang telah Mutawatir penukilannya terkait dengan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib dan lainnya, namun sebaik-baik ummat ini setelah nabi mereka adalah Abu Bakar kemudian Umar, Memposisikan Utsman pada tempat ketiga dan Ali Radiyallahu anhu pada posisi keempat seperti yang telah ditunjukkan oleh atsar dan Ijma pendahuluan utsman pada masalah pembaitan, meskipun sebelumnya Ahlussunnah berselisih siapa yang lebih utama antara Utsman dan Ali Radiyallahu anhuma setelah mereka bersepakat untuk mendahulukan Abu Bakar dan Umar. Satu kaum mendahulukan Utsman lalu mereka diam, dan menempatkan Ali pada Posisi keempat. kaum lain mendahulukan Ali lalu mereka Tawaqquf. Namun Telah Mantap dalam urusan Ahli Sunnah untuk mendahulukan Utsman dari pada Ali.

Sekalipun masalah Ini –pendahuluan Utsman Atas Ali- bukan termasuk Ushul yang dapat menyesatkan penyelisihnya berdasarkan Jumhur Ahlussunnah, Namun Justeru yang dapat menyesatkan penyelisihnya adalah masalah Khilafah. Mereka Percaya bahwa Kholifah setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman, kemudian Ali. Siapapun yang mencela kekhalifahan salah satu dari mereka maka ia lebih sesat dari keledainya .

Adapun tempat dimana syaikhul Islam Menyebutkan Keutamaan Ali Radhiyallaahu Anhu dan membelanya adalah sebagai berikut:

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :

”Keutamaan Ali dan Posisinya serta ketinggian kedudukannya disisi Allah adalah suatu hal yang sudah diketahui, Alhamdulillah, dari sumber-sumber kokoh yang meyakinkan, tidak memerlukan sokongan riwayat dusta dan sokongan riwayat yang tidak diketahui kebenarannya”.

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

وأما كون عليّ وغيره مولى كل مؤمن ، فهو وصف ثابت لعليّ في حياة النبي صلى الله عليه وسلم وبعد مماته، وبعد ممات عليّ، فعلي اليوم مولى كل مؤمن

“Adapun keadaan Ali dan selainnya bahwa dia adalah kekasih setiap mukmin, itu adalah sifat yang benar untuk Ali sejak Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam hidup dan setelah beliau meninggal dan juga setelah Ali meninggal. Maka Ali pada hari ini tetap wali/kekasih setiap mukmin” (Minhajus Sunnah:7/325)

((وأما علي رضي الله عنه فلا ريب أنه ممن يحب الله ويحبه الله))

“Adapun Ali radhiallahu ‘anhu tidak diragukan lagi bahwa dia adalah termasuk orang yang mencintai Allah dan dicintai Allah” (Minhajus Sunnah:7/218 )

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

((لا ريب أن موالاة علي واجبة على كل مؤمن، كما يجب على كل مؤمن موالاة أمثاله من المؤمنين))

“Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Ali adalah wajib bagi setiap mukmin, sebagaimana diwajibkan bagi setiap mukmin untuk mencintai mukmin yang lainnya

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

بل هم كلهم متفقون على أنه أجلّ قدراً، وأحق بالإمامة، وأفضل عند الله وعند رسوله وعند المؤمنين من معاوية وأبيه وأخيه الذي كان خيراً منه، وعليّ أفضل من الذين اسلموا عام الفتح وفي هؤلاء خلق كثير افضل من معاوية. أهل الشجرة افضل من هؤلاء كلهم ، وعليّ أفضل جمهور الذين بايعوا تحت الشجرة، بل هو أفضل منهم كلهم إلا ثلاثة، فليس في أهل السنة من يقدم عليه أحداً غير الثلاثة، بل يفضلونه على جمهور أهل بدر وأهل بيعة الرضوان، وعلى السابقين الأوَّلين من المهاجرين والأنصار))

“Bahkan mereka (Ahlussunnah) semua sepakat bahwa Ali memiliki kedudukan lebih tinggi, lebih berhak dengan kepemimpinan, dan lebih mulia di sisi Allah dan rasul-Nya serta kaum mukminin dari Mu’awiyah, ayahnya dan saudaranya yang lebih utama darinya (Mu’awiyah). Dan Ali lebih utama dari semua shahabat yang masuk islam pada Fathu Makkah, sedangkan banyak diantara mereka (yang masuk islam pada Fathu Makkah) lebih utama dari Mu’awiyah. Dan Ahlu Syajarah (yang berbaitan di bawah pohon, bai’at ridhwan) lebih utama dari mereka (yang masuk islam pada fathu Makkah), dan Ali lebih utama dari mereka semua yang ikut berbai’at di bawah pohon kecuali dari tiga orang. Tidak ada dari kalangan Ahlussunnah yang mendahulukan seorang pun diatas Ali kecuali dari tiga orang. Bahkan Ali lebih afdhal dari mayoritas Ahlu Badar (yang ikut perang badar) dan yang mengikuti bai’at Ridhwan, dan (lebih utama) dari Sabiqunal Awwalun dari Muhajirin dan Anshar” (Minhajus Sunnah:4/396)

Ibnu Taimiyah Menjelaskan Keberanian Ali Bin Abu Thalib Radiyallahu anhu:

لا ريب أن علياً رضي الله عنه كان من شجعان الصحابة، وممن نصر الله الإسلام بجهاده، ومن كبار السابقين الأوَّلين من المهاجرين والأنصار، ومن سادات من آمن بالله واليوم الآخر وجاهد في سبيل الله، وممن قاتل بسيفه عدداً من الكفار((

“Tidak diragukan lagi bahwa Ali radhiallahu ‘anhu termasuk shahabat yang paling berani, dan termasuk yang Allah menolong islam dengan sebab jihadnya, termasuk shahabat besar sabiqunal awwalun dari muhajirin dan anshar, pembesar orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan (pembesar) orang yang berjihad fii sabilillah, dan Ali dengan pedangnya telah membunuh sejumlah orang kafir.” (Minhajus Sunnah:8/76)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

وأما زهد عليّ رضي الله عنه في المال فلا ريب فيه، لكن الشأن أنه كان أزهد من أبي بكر وعمر

Adapun kezuhudan Ali radhiallahu ‘anhu dalam hal harta maka tidak perlu diragukan lagi, namun permasalahannya adalah kalau dikatakan Ali lebih zuhud dari Abu Bakar dan Uma

Ibnu Taimiyah Berkata:

نحن نعلم أن علياً كان أتقى لله من أن يتعمد الكذب، كما أن أبا بكر وعمر وعثمان وغيرهم كانوا أتقى لله من أن يتعمدوا للكذب

“Kita mengetahui bahwa Ali takut kepada Allah untuk berpegang dengan kedustaan, seperti Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan selain dari mereka juga takut berpegang dengan kedustaan”.

Ibnu Taimiyyah lebih mengutamakan shahabat yang tidak ikut memerangi Ali daripada shahabat yang ikut memerangi Ali:

((وأيضاً فأهل السنة يحبون الذين لم يقاتلوا علياً أعظم مما يحبون من قاتله، ويفضلون من لم يقاتله على من قاتله كسعد بن أبي وقاص، وأسامة بن زيد، ومحمد بن مسلمة، وعبد الله بن عمر رضي الله عنهم. فهؤلاء أفضل من الذين قاتلوا علياً عند أهل السنة.
والحب لعليّ وترك قتاله خير بإجماع أهل السنة من بغضه وقتاله، وهم متفقون على وجوب موالاته ومحبته، وهم من أشد الناس ذبّاً عنه، ورداً على من طعن عليه من الخوارج وغيرهم من النواصب، ولكن لكل مقام مقال))

“dan juga, kecintaan Ahlussunnah terhadap para shahabat yang tidak ikut memerangi Ali lebih besar dari kecintaan mereka terhadap shahabat yang ikut memerangi Ali. Dan lebih mengutamakan shahabat yang tidak ikut memeranginya daripada shahabat yang ikut memeranginya, Seperti Sa’d bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Muhammad bin Maslamah, dan Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhum, mereka ini lebih utama disisi Ahlussunnah daripada (para shahabat) yang ikut memerangi Ali.
Dan mencintai Ali demikian pula menghindar dari peperangan adalah lebih baik dengan kesepakatan Ahlussunnah daripada membencinya dan memeranginya. Dan mereka sepakat wajibnya menjadikan Ali wali dan mencintainya, mereka (ahlussunnah) adalah manusia yang paling gigih membela Ali, dan membantah setiap yang mencelanya dari kalangan Khawarij dan selain mereka dari kalangan nawashib, akan tetapi setiap keadaan ada memiliki penyikapan tersendiri” (Minhajus Sunnah:4/395)

Ibnu Taimiyyah lebih mendahulukan shahabat yang berperang dipihak Ali daripada shahabat yang berperang dipihak Mu’awiyah –radhiallahu ‘anhum ajma’in- beliau berkata:

((معلوم أن الذين كانوا مع علي من الصحابة مثل: عمار وسهل بن حنيف ونحوهما كانوا أفضل من الذين كانوا مع معاوية))

“dan telah diketahui bahwa para shahabat yang berperang di pihak Ali seperti, Ammar, Sahl bin Hunaif dan selain keduanya lebih afdhal dari para shahabat yang ikut berperang di pihak Mu’awiyah” (Majmu’ atur Rasail wal Masail li Ibni Taimiyyah, hal:61)

Ini adalah secuil penukilan dari Ibnu Taimiyah seputar keutamaan Ali dan pembelaan beliau terhadap Ali dihadapan Musuh-musuhnya serta berlepas dirinya Beliau dari segala hal (fitnah.pent) yang disematkan kepada Beliau.

Apakah setelah ini, pantas dikatakan sebagaimana yang dikataan oleh ahli bid’ah yang jahat bahwa Ibnu Taimiyah telah memutar balikkan Fakta terhadap Ali Radhiallaahu anhu serta merendahkannya didalam kitab-kitab beliau!?

سبحانك هذا بهتان عظيم

Orang muslim yang rendah sekalipun tidak akan mengatakan hal tersebut, apalagi terkait dengan syaikhul Islam ibnu Taimiyah yang telah mengikat hari-hari dalam hidupnya untuk membawakan Aqidah ahlussunnah, termasuk dalam lingkup Aqidah tersebut adalah pengutamaan Ali Radiallaahuanhu dan menjadikannya sebagai Khaliafh yang keempat, serta I’tiqadnya bahwasanya Ali berada diatas kebenaran didepan siapapun yang memerangi dan menyelisihinya.

Tetapi dosa Syaikhul Islam disisi para Ahli bid’ah tersebut adalah beliau tidak berlebihan kepada Ali seperti yang mereka lakukan, atau beliau tidak melewati keutamaan yang Allah tetapkan Atas Ali Bin Abu Thalib.

المصدر : رسالة :

ثناء ابن تيمية رحمه الله
على أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضي الله عنه
وأهل البيت رحمهم الله

جمع وترتيب
أبي خليفة علي بن محمد القُضيبي
1424هـ – 2003م

تقديم الشيخ
سليمان بن صالح الخراشي

شبكة الدفاع عن السنة
http://www.d-sunnah.net

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers