<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ibnu Taimiyah</title>
	<atom:link href="http://syaikhulislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syaikhulislam.wordpress.com</link>
	<description>Menguak keagungan seorang Syaikhul Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 07:04:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='syaikhulislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://syaikhulislam.wordpress.com/osd.xml" title="Ibnu Taimiyah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://syaikhulislam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Fitnah dari Timur</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/02/21/fitnah-dari-timur/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/02/21/fitnah-dari-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 12:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontroversial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari Rasulullah pernah mendoakan negeri Yaman dan Syam, cerita ini terekam dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sohihnya حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=751&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/tempat-sial.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-753" title="tempat sial" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/tempat-sial.png?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Suatu hari Rasulullah pernah mendoakan negeri Yaman dan Syam, cerita ini terekam dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sohihnya</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” </em><a href="#_ftn1"><em><strong>[1]</strong></em></a><em>[Shahih Bukhari 2/33 no 1037]</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>-<span style="text-decoration:underline;">Selanjutnya hadits ini kita sebut hadits pertama</span>-</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Yaman dan Syam adalah negeri yang jelas, lalu dimanakah letak Najd yang dimaksud dalam hadit diatas? Sebenarnya dalam menafsirkan lafadz Najd, kebanyakan ulama ulama condong  memvonis bahwa yang dimaksud adalah negeri Iraq, sekalipun begitu Realitas yang terjadi sekarang membuat beberapa orang bingung karena yang familiar di telinga dan lisan bahwa daerah Najd berada di Arab Saudi tepatnya dekat Diríyah dan sekitarnya yang merupakan tempat kelahiran Muhammad bin Abdul Wahab yang belakangan diperkenalkan oleh Penjajah Inggris sebagai perndiri sebuah Aliran yang ditakuti dunia dan mereka mereka menamakannya “Wahabi.”. ditambah lagi orang-orang yang tinggal disekitar daerah tersebut dinisbahkan dengan nama al-Najdi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apa itu Najd?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Secara bahasa Najd adalah tanah yang tinggi. Pemilik Kamus terkenal Asli Indonesia- KH Ahmad Warson Munawwir- menyebutkan dalam kamusnya</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>أنجد البناء: إرتفع</em><em> artinya tinggi</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>النجد : مصدر نجد</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(ج نُجُدٌ ونِجَادٌ ونُجُودٌ واَنجَادٌ) </em><em> artinya tanah yang tinggi.</em><a href="#_ftn2">[2]</a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika anda ingin menambah Pengetahuan tentang Makna Najd, silahkan membuka kamus-kamus unggulan seperti </em>seperti Lisan Al-’Arab, Mu’jam Maqayis Al-Lughah, dan Al-Qamus Al-Muhit niscaya anda akan mendapati bahwa mereka akan bersepakat bahwa Najd itu adalah tanah yang tinggi.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam mensyarahkan hadits ini Al hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani menukil pendapat al Khattabi tentang najd yang merupakan negeri Iraq:</p>
<p style="text-align:right;">نجد من جهة المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها وهي مشرق أهل المدينة، وأصل نجد ما ارتفع من الأرض وهو خلاف الغور فإنه ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور ومكة من تهامةِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Najd</em><em> Itu berada disebelah timur. Siapapun yang berada diMadinah, maka najdnya adalah pedalaman Iraq dan sekitarnya. Itulah sebelah timur Madinah. Asal kata Najd adalah tanah yang meninggi, berbeda dengar ghaur yang berarti tanah yang rendah. Seluruh Tihamah merupakah Ghaur dan Mekkah termasuk bagian Tihamah</em>.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu Ibnu Hajar menambahkan pernyataan al Khattabi bahwa Najd adalah setiap tanah yang tinggi dengan mengatakan</p>
<p style="text-align:right;">كل شيء ارتفع بالنسبة إلى ما يليه يسمى المرتفع نجدا والمنخفض غورا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Setiap yang lebih tinggi  dibandingkan dengan sekitarnya dinamakan Najd dan setiap yang lebih rendah dinamakan Ghaur</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari pemahaman Ini tentu kandidat tafsiran Najd terkait hadits nabi diatas menjadi banyak. Bahkan pemilik kitab <em>Mu’jamul buldan</em> Menyebutkan ada 12 <em>Najd</em> yang pernah dikenal oleh orang Arab dan tentu dataran Najd di Saudi Arabia<a href="#_ftn4">[4]</a> dan Juga Negeri iraq termasuk diantara yang bernama Najd<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menelisik Hadits-Hadits terkait</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita tidak akan mendapatkan informasi jelas dan tepat jika hanya mengandalkan bahasa untuk mencari tahu  tentang Najd yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam hal ini tentu kita harus membandingkan hadits-hadits yang memiliki kaitan dengan hadits diatas.</p>
<p style="text-align:justify;">Perselisihan tentang dimanakan tanduk setan itu akan muncul  mengerucut kepada dua tempat Najd Yamamah yang merupakan daerah sekitar Riyadh dan atau Dir’iyah atau negeri Iraq</p>
<p style="text-align:left;">Berikut beberapa hadits terkait</p>
<p style="text-align:right;">حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [[20/طه/40</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “<strong>Wahai penduduk ‘Iraq</strong>, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang berasal dari keluarga Fir’aun karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan</em>.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>-<span style="text-decoration:underline;">Selanjutnya hadits diatas kita sebut hadits kedua</span>-</strong></p>
<p style="text-align:right;">حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari] <strong>Rabi’ah dan Mudhar </strong></em>[Shahih Bukhari no 3126]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>-<span style="text-decoration:underline;">Selanjutnya hadits diatas kita sebut hadits ketiga</span>-</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Telah dinukil beberapa pendapat terkait tafsir dari najd dalam hadits pertama, diantaranya:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Najd adalah Negeri Iraq</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah Pendapat yang paling banyak dinukil. Pendapat ini merupakan pendapat Imam khattabi, Ibnu Abdil Bar<a href="#_ftn6">[6]</a>, al Kirmani<a href="#_ftn7">[7]</a>, dan Allamatul Iraq al Alusi<a href="#_ftn8">[8]</a>. Pendapat ini tentunya dikuatkan Oleh para pendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab seperti Syaikh Albani dan murid-muridnya dan sekumpulan Ulama Hijaz. Mereka berdalil dengan hadits kedua dan sejenisnya yang secara jelas mengatakan bahwa fitnah tersebut akan datang dari Iraq. Selain itu kajian hadits-hadits dan Realitas tentang kemunculan Dajjal dan Khawarij juga menguatkan bahwa iraqlah yang dimaksud negeri sumber Fitnah tersebut. Ditambah lagi dengan perang jamal, pembunuhan cucu Rasulullah, dan perang saudara hingga sekarang mengambil lokasi di Iraq.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/majmu-ibnu-taimiyah-20_3161.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-752" title="majmu Ibnu Taimiyah 20_316" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/majmu-ibnu-taimiyah-20_3161.png?w=104&#038;h=150" alt="" width="104" height="150" /></a>Ibnu Taimiyah pernah meunjukkan bahwa hadits-hadits tersebut merujuk kepada Kufah- Iraq-, beliau berkata:</p>
<p style="text-align:right;">ومعلوم أنه كان بالكوفة من الفتنة والتفرق ما دل عليه النص والإجماع، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : الفتنة من ههنا، الفتنةمن ههنا، الفتنة من ههنا،من حيث يطلع قرن الشيطان</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Diketahui bahwa di Kufah terjadi fitnah dan perpecahan yang telah ditunjukkan oleh Nash dan Ijma karena ada Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: fitnah dari arah sini, fitnah dari arah sini, fitnah dari Arah sini, yaitu dari tempat munculnya tanduk setan</em><a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/najd.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-758" title="Najd" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/najd.png?w=240&#038;h=151" alt="" width="240" height="151" /></a> Najd Adalah Tanah Kelahiran Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini banyak Muncul di jaman ini dari kalangan Syiah, Alawiyah, dan Pendukung tokoh Asyáriyah dari libanon yang bernama al Harary. Mereka terkenal dengan nama gerakan Ahbas atau AICP. Kalangan-kalangan ini adalah musuh dakwah Syaikh Muhammad bin abdul Wahab. Mereka berhujjah dengan Hadits ketiga karena Kabilah <em>Rabiah</em> dan <em>Mudhar</em> menurut mereka hidup di Hijaz dan sekitarnya bukan Iraq. Mereka juga berhujjah dengan hadits ramalan Rasulullah terhadap Dzulkhuwaisirah at Tamimi dan realitas munculnya Musailamah yang merupakan keturunan bani hanifah dari Kabilah Rabiah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Najd adalah seluruh daerah Masyriq al Arabiy</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita perhatikan, hadits-hadits yang memberitakan tentang fitanah dan tanduk setan banyak merujuk kepada kata masyriq secara umum maupun masyriq dalam hal arah dan matahari terbit. Dari sini lahirlah pendapat ini</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini lebih Moderat dan mengambil jalan tengah dari perselisihan diatas. Dalam kitab Naqdu al Taqdis<a href="#_ftn10">[10]</a> ibnu  Taimiyah berkata:</p>
<p style="text-align:right;">قد تواتر عن النبي إخباره بأن الفتنة ورأس الكفر من المشرق الذي هو مشرق مدينته كنجد وما يشرق عنها</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah Mutawatir khobar dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bahwa fitnah dan pangkal kekufuran berasal dari timur  –timur Madinah-  seperti Najd dan semua daerah sebelah timurnya (Madinah)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau memberikan contoh yang terjadi di Najd Hijaz</p>
<p style="text-align:right;">ولا ريب أن من هؤلاء ظهرت الردة وغيرها من الكفر، من جهة مسيلمة الكذاب وأتباعه وطليحة الأسدي وأتباعه، وسجاح وأتباعها، حتى قاتلهم أبو بكر الصديق ومن معه من المؤمنين، حتى قتل من قتل، وعاد إلى الإسلام من عاد مؤمنا أو منافقا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak diragukan lagi bahwa disana muncul kemurtadan dan hal-hal lain yang termasuk kekufuran, diantaranya Musailamah al Kadzab dan para pengikutnya, Thalihah al Asadiy dan para pengikutnya, Sujah dan para pengikutnya hingga mereka diperangi oleh abu Bakar as Shiddiq dan orang-orang mukmin yang bersama beliau. Ada yang terbunuh dan ada yang kembali sebagai mukmin maupun Munafiq</em>.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ibnu Taimiyah ini tidak bertentangan dengan apa yang telah ia katakan di Majmu Fatawâ diatas, karena negeri Iraq berada di Masyriq</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/lajnah_931.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-755" title="lajnah_93" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/lajnah_931.png?w=139&#038;h=150" alt="" width="139" height="150" /></a> <a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/lajnah_94.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-756" title="Lajnah_94" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/lajnah_94.png?w=73&#038;h=150" alt="" width="73" height="150" /></a>Senada dengan hal ini, Ulama-ulama yang merupakan anggota lembaga Fatwa tertinggi diarab Saudi yang diketuai Oleh Syaikh Abdul Aziz bin bazz memfatwakan bahwa hadits-hadits semacam ini berlaku umum untuk tempat yang disebut Masyriq. Setelah memaparkan pendapat para ulama tentang Tafsir hadits-hadits ini, mereka menyimpulkan</p>
<p style="text-align:right;">والظاهر أن الحديث يعم جميع المشرق الأدنى والأقصى والأوسط، ومن ذلك فتنة مسيلمة وفتنة المرتدين من ربيعة ومضر وغيرهما</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang nampak, hadits itu berlaku umum untuk seluruh Masyriq baik yang dekat, jauh maupun tengah. Termasuk fitnah tersebut adalah Fitnah Musailamah dan fitnah orang-orang Murtad dari Kabilah Rabiah dan Mudhar dan selain keduanya</em>.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apa itu Masyriq?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/mashriq.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-757" title="mashriq" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/mashriq.png?w=200&#038;h=160" alt="" width="200" height="160" /></a>Kita sebagai Ajam mungkin terjebak dengan kata ini dan menerjemahkan secara letterlijk dengan istilah ‘timur’ , tapi kita tidak sepenuhnya benar, masyriq menurut orang arab dan yang sering disebut dalam banyak istilah sejarah merupakan suatu bagian wilayah timur tengah yang membentang dari laut tengah disebelah barat hingga dataran tinggi Iran disebelah timur. Daerah tersebut adalah daerah disebelah timur Jazirah arab, sebaliknya mereka menyebut wilayah sebelah barat seperti Tunisia dan maroko dengan istilah Maghrib yang secara Bahasa berarti ‘barat’. Dari sini kita bisa tahu bahwa wilayah masyriq adalah Iraq, Palestina, Yordania, Libanon, Arab Saudi, Uni emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman, Bahrain. Adapun mesir dan sudan merupakan daerah percampuran antara masyriq dan maghrib.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jembatan antar pendapat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Sohih Bukhari disebutkan</p>
<p style="text-align:right;">حدثنا علي بن عبد الله حدثنا سفيان عن اسماعيل عن قيس عن أبي مسعود يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلم قال : من ههنا جاءت الفتن نحوالمشرق والجفاء وغلظ القلوب في الفدادين أهل الوبر عند أصول اذناب الابل والبقر في ربيعة ومضر</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepadaku Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepadaku Sufyan dari Ismail dari Qais dari Abi Mas’ud, telah sampai  kepadanya bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wasallam berkata: dari sini datang fitnah yaitu sekitar masyriq, kasar dan keras hati ada pada Fadadin yaitu Arab pedalaman yang bermata pencaharian dari unta dan sapi pada kabilah Rabiah dan Mudhar<a href="#_ftn13"><strong>[13]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Kita tahu bahwa orang-orang iraq tidak dikenal sebagai pengembala atau peternak Unta, namun itu adalah mata pencaharian orang-orang Hijaz kala itu, sebaliknya Orang Hijaz tidak bermata pencaharian sebagai peternak Sapi, namun itu adalah mata pencaharian orang-orang iraq yang mengkhususkan diri beternak sapi dan bercocok tanam.</p>
<p style="text-align:justify;">Benar, Penduduk Hijaz adalah keturunan kabilah Mudhar dan Rabiah, tapi jangan salah!. kebanyakan bangsa arab adalah keturunan dua kabilah besar ini. Rasulullah merupakan keturunan dari kabilah Mudhar. Beliau adalah Mudhar bin Nazzar bin Maad bin Adnan. Kabilah ini bercabang menjadi dua kabilah yaitu kabilah Qays Ailan bin Mudhar dan Qabilah Ilyas bin Mudhar yang dari sinilah asal Bani Tamim Moyang Syaikh Muhammad bin abdul Wahab dan juga suku Quraisy yang merupakan moyang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam</p>
<p style="text-align:justify;">Kabilah Rabiah merupakan salah satu kabilah pokok terbesar bangsa arab selain Mudhar dari keturunan Adnan. Beliau adalah Rabiah bin Nazzar bin Maad bin Adnan. Kabilah ini hidup di Hijaz kemudian pindah ke timur, utara, dan tengah Jazirah Arab. Salah satu keturunan Rabiah yaitu Abdul Qais pindah ke daerah timur dari jazirah arab. Bani Hanifah yang juga masih keturunan Rabiah menetap di Yamamah. Dari Bani Hanifah inilah Musailamah al kadzab berasal.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita telah mengetahui asal usul Qabilah Rabiah dan Mudhar serta besar dan banyaknya cabang-cabang dari mereka, maka dipastikan bahwa penyebaran mereka tidak hanya disatu tempat (Hijaz,red), namun mereka tersebar diseantaro jazirah arab, karena mereka adalah pangkal kabilah arab utama dan terbesar. Dalam Kitab Ansharul Husain karangan Muhammad Mahdi syamsuddin halaman 218 disebutkan  “ kami mengetahui bahwa kebanyakan penduduk Bashrah  berasal dari Kabilah Rabiah dan Mudhar”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari pembahasan ini maka jelaslah bahwasanya hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa fitnah tersebut bisa saja terdapat terjadi secara umum diseluruh Masyriq, hanya saja telah datang beberapa isyarat dan realitas bahwa tafsirannya mengerucut kepada Najd Hijaz dan negeri Iraq.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kaidah Penting</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>keutamaan yang tetap dalam bentuk umum tidak menjadi ketetapan bagi individu begitu juga kecaman yang tetap dengan keumuman tidak menjadi ketetapan bagi Individu.<br />
Jika benar bahwa yang dimaksud Najd adalah Iraq atau Yamamah (Hijaz), maka kita tidak boleh menetapkan celaan dan kecaman kepada pribadi-pribadinya karena tidak otomatis penduduk negeri tersebut menjadi tercela. Berapa banyak orang fasik dan tercela  berada di Madinah, Mekkah dan Syam sedangkan banyak sekali orang alim lagi terpuji tinggal dan lahir di Iraq dan Hijaz. Dalam sebuah hadits yang ditujukan kepada penduduk Madinah disebutkan</li>
</ul>
<p style="text-align:right;padding-left:30px;">إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah ditengah-tengah rumah kalian seperti tetesan-tetesan Hujan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Apakah boleh kita mencela penduduk Madinah atau Ulama madinah? Hasya Wa kalla</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bumi tidak mensucikan individu<br />
Begitu indah apa yang dikatakan oleh dua orang yang telah dipersaudarakan oleh Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam. karena cintanya Salman kepada abu Darda, beliau menginginkan Saudaranya tersebut Pindah bersamanya ke Syam sebagai daerah yang kerap dipuji oleh Rasulullah. lalu Abu Darda menjawab dengan jawaban yang perlu ditulis dengan tinta emas, Abu Darda menjawab:&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;">أما بعد, فأن الأرض المقدسة لا تقدس أحداً, وإنما يقدس الإنسان بعمله</p>
<p><em>Amma ba’du, Sesungguhnya tanah yang disucikan tidak dapat mensucikan seorangpun, Yang bisa mensucikan seseorang adalah amalnya</em>.</li>
<li>Celaan dan kecaman terhadap suatu daerah tertentu terkait fitnah yang akan terjadi didaerah tersebut tidak terjadi sepanjang kurun dan waktu tapi terkadang daerah tersebut adalah mercusuar dari pengetahuan dan keilmuan serta kejayaan.<br />
Syaikh Abdul Latif Alu Syaikh yang merupakan keturunan Syaikh Muhammad bin abdul Wahab mengatakan :&nbsp;</p>
<p>ولا يقول مسلم بذم علماء العراق لما ورد فيها، وأكابر أهل الحديث وفقهاء الأمة أهل الجرح والتعديل أكثرهم من أهل العراق</p>
<p><em>Seorang muslim tidak layak mencela Ulama Iraq karena hadits-hadits tersebut, para pembesar ahli hadits dan para fuqaha Ummat serta ahli Jarh dan ta’dhil kebanyakan berasal dari Iraq</em><a href="#_ftn14">[14]</a></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kepada para Pencela Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saya amat mengkhawatirkan kalau mereka termasuk dalam khitob  firman Allah Subhanahu Wataala:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu&#8217;min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar</em>.</p>
<p style="text-align:center;">Qurán surat Al Buruj :10</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Bukhari <em>2/33 no 1037</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al Munawwir hal 1388</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Al-’Asqalani, Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Hajar, Fath Al-Bari Bi Sharh Sahih Al-Bukhari, Dar Al-Ma’rifah, Beirut, 1379H, 13: 47</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Disebut Najd Hijaz, yaitu daerah sekitar Riyadh sekarang dan Dir’iyah</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Mu’jam al Buldân 5:265</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Tamhid 1/279</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Al Fath 13/47</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Ghayatul Amani Fi Raddi Ala al Nabhani 2/148</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Majmu Fatawâ jilid 20/316</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Kitab ini memiliki Nama lain yaitu Bayan Talbis Jahmiyah dan merupakan bantahan terhadap salah satu kitab milik Imam al Razi</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Bayan Talbis Jahmiyah 1/17-24</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Fatawâ Lajnah Daimah lil buhuts wal Ifta, Abdurrazak al duwais jilid 3 pertanyaan nomor 6667. ditandatangani oleh Syaikh abdul Aziz bin Baz, syaikh Abdullah Ghudayyan, Syaikh Abdullah bin Quud, Syaikh Abdul Razaq al Afifi</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> HR Bukhari</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Mishbahu al Dzulam hal 236</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/kontroversial/'>Kontroversial</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/751/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=751&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/02/21/fitnah-dari-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/tempat-sial.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tempat sial</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/majmu-ibnu-taimiyah-20_3161.png?w=104" medium="image">
			<media:title type="html">majmu Ibnu Taimiyah 20_316</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/najd.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Najd</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/lajnah_931.png?w=139" medium="image">
			<media:title type="html">lajnah_93</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/lajnah_94.png?w=73" medium="image">
			<media:title type="html">Lajnah_94</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/02/mashriq.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">mashriq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istiwa dan Duduk</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/01/31/istiwa-dan-duduk/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/01/31/istiwa-dan-duduk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 08:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=728</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah rumor disebarkan oleh orang-orang tertentu bahwa Ibnu taimiyah memaknakan istiwa dengan duduk serta menetapkan sifat duduk kepada Allah layaknya makhluk.Lantaran persangkaan tersebut mereka mengatakan bahwa Ibnu taimiyah adalah seorang Mujassimah. Dengan bermohon pertolongan dari Allah yang Dzatnya tinggi diatas Arsy, Saya akan membahas rumor ini agar hal yang samar menjadi jelas. Rumor ini tersebar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=728&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebuah rumor disebarkan oleh orang-orang tertentu bahwa Ibnu taimiyah memaknakan istiwa dengan duduk serta menetapkan sifat duduk kepada Allah layaknya makhluk.Lantaran persangkaan tersebut mereka mengatakan bahwa Ibnu taimiyah adalah seorang Mujassimah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan bermohon pertolongan dari Allah yang Dzatnya tinggi diatas Arsy, Saya akan membahas rumor ini agar hal yang samar menjadi jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumor ini tersebar lewat perkataan seorang alim ahli Tafsir yang bernama Abu Hayyan al Andalusi. Beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">وقد قرأت في كتاب لأحمد بن تيمية هذا الذي عاصرناه وهو بخطه سماه ‏كتاب العرش: &#8220;إن الله يجلس على الكرسي وقد أخلى مكانا يقعد معه فيه رسول الله ‏&#8221;، ‏تحيَّل عليه <em> </em>مح<em><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/hayyan1.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-733" title="hayyan1" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/hayyan1.png?w=108&#038;h=150" alt="" width="108" height="150" /></a></em><em> </em>مد بن عبد <em> </em><em> </em>الحق وكان أظهر أنه داعية له حتى أخذه منه ‏وقرأنا ذلك فيه<em><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/hayyan2.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-734" title="hayyan2" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/hayyan2.png?w=99&#038;h=150" alt="" width="99" height="150" /></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em>Aku telah membaca sebuah kitab milik Ibnu Taimiyah yang sejaman denganku, kitab tersebut merupakan tulisannya yang dia namakan “kitab al Arsyi” : Sesungguhnya Allah duduk diatas kursi dan ia mengosongkan tempat untuk duduk Rasulullah bersamanya.<span id="more-728"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Makna Istiwa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama ahlussunnah mengatakan bahwa istiwa memiliki 4 makna.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim menyebutkan dalam Nuniyahnya:</p>
<p style="text-align:center;">فلهم عبارات عليها أربع                          **         قد حصلت للفارس الطعان</p>
<p style="text-align:center;">وهي &#8220;استقر&#8221; ، وقد &#8220;علا&#8221; ، وكذلك &#8220;ار        **         تفع&#8221; الذي ما فيه من نكران</p>
<p style="text-align:center;">وكذاك قد &#8220;صعد&#8221; الذي هو رابع                   **         وأبو عبيدة صاحب الشيباني</p>
<p style="text-align:center;">يختار هذا القول في تفسيره                         **           أدرى من الجهمي بالقرآن</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mereka memiliki beberapa ungkapan tentangnya </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya telah terjadi pada prajurit berkuda yang banyak menikam</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Yaitu istaqarra, ála demikian juga irtafaa</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang tidak ada penolakan padanya</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Demikin pula shaida menjadi yang keempat</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sedang abu Ubaidah sahabat asy Syaibani</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Memilih pendapat ini dalam tafsirnya</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dia lebih tahu tentang Alqur’an daripada Jahmi</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan bait Nunniyah ini kita ketahui bahwa makan istiwa terkait sifat Allah ada 4. Secara rinci sifat-sifat tersebut adalah</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li style="text-align:left;">al-uluw (tinggi)<br />
arti ini sesuai dengan tafsir dari Mujahid sebagaimana yang diriwayatkan      oleh Imam Bukhori dalam Kitabnya :وقال مجاهد: ﴿استوى على العرش﴾ أي:      <strong>علا</strong> على العرش</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>al Irtifa’</em> (meninggi)<br />
arti ini sesuai dengan tafsir dari Abu Aliyah sebagaimana diriwayatkan      oleh Imam Bukhari dalam kitabnya dan ia jadikan Judul bab:باب: ﴿وكان عرشه على الماء﴾، ﴿وهو      رب العرش العظيم﴾: قال أبو العالية: ﴿استوى إلى السماء﴾ <strong>ارتفع</strong> ﴿فسواهن﴾      فخلقهن، وقال مجاهد: ﴿استوى﴾ <strong>علا</strong> ﴿على العرش&nbsp;</p>
<p>al Imam al Baghawi ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 29 beliau      menukil dari Ibnu Abbas dengan mengatakan:</p>
<p>قال ابن عباس:  وأكثر مفسري السلف أي <strong>ارتفع</strong> إلى السماء</p>
<p>Ibnu Abbas berkata: kebanyakan ahli tafsir dari kalangan Salaf      mengartikan meninggi kelangit</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>as Suud</em> (naik)<br />
makna ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas melalui al Farra’. Syaikh albani      menerangkan bahwa sanad alfarra ke ibnu abbas melwati rijal-rijal yang      Tsiqah</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">makna ini juga dipilih oleh abu Ubaidah sahabat Imam syaibani berdasarkan penuturan dari Ibnu Qayyim dan al  Dzahabi</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Al istiqrar</em> (menetap)<br />
al Dzahabi mentolerir makna Ini sekalipun cenderung tidak menyetujuinya,      beliau berkata:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">قال الذهبي: ((قال الإمام محيي السنة أبو محمد الحسين بن مسعود البغوي الشافعي عن قوله تعالى ﴿ثم استوى على العرش﴾: ”قال الكبي ومقاتل: <strong>استقر</strong>، وقال أبو عبيدة: صعد“ قلتُ [أي الذهبي]: لا يعجبني قوله استقر، بل أقول كما قال مالك الإمام: الاستواء معلوم))</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">al Dzahabi berkata: berkata al Imam Penghidup Sunnah abu Muhammad al Husain bin Mas’ud al Baghawi al Syafii tentang firman Allah Taala ; ثم استوى على العرش berkata al Kabî dan Muqatil : <strong>menetap</strong>,  berkata abu Ubaidah; <strong>Naik. </strong>aku (al Dzahabi) katakan: aku tidak heran kalau dia mengatakan maknanya menetap, tapi aku katakan seperti yang dikatakan Imam Malik: istiwa itu diketahui</p>
<p style="text-align:justify;">kata istiwa dalam bahasa arab memiliki makna yang banyak hingga belasan, namun paling tidak makna tersebut bisa dibagi menjadi empat bagian:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Jika kata Istiwa tersebut mujarrad (tidak disandarkan kepada huruf      apapun setelahnya)<br />
salah satu arti istiwa disini berarti: sempurna,lengkap. Allah berfirman:ولما بلغ أشده      فاستوى&nbsp;</p>
<p><em>dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya</em> (QS. Al-Qhasas: 14)</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>yang disandarkan dengan huruf   (إلى) Maka      artinya adalah إرتفع      وعلا  (naik dan tinggi). Sebagian ahli ilmu      mengartikan dengan قصد   (menuju) seperti yang disebutkan oleh      Ibnu katsir ketika mentafsirkan Al baqarah ayat 29, namun makna yang      pertama lebih banyak dipilih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Allah      berfirman:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap”</em> (QS. Fushilat: 11)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit”</em> (QS. Al-Baqarah: 29)</p>
<p style="padding-left:60px;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” </em>(QS. Al-Baqarah: 29)</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Yang terikat dengan huruh ( على ), maka tidak ada artian lain kecuali :’naik, tinggi,      menetap’. Allah berfirman:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>“Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”</em> (QS. Thaha: 5)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>“Supaya kamu duduk di atas punggungnya”</em> (QS. Az-Zukhruf: 13)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>dan tegak lurus di atas pokoknya</em> (QS. Al-Fath: 29)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi</em> (QS. Hud: 44)</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>yang terhubung dengan Wawu maiyah maka berarti sama atau rata,      dalam kitab <em>Mukhtashar jiddan </em> disebutkan contoh <em>Mauf’ul maah</em>استوى الماء و الخشبة<strong> </strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em>Ketinggian air dan kayu itu sudah sama atau rata</em><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah bahasan  ringkas tentang makna istiwa berdasarkan pendapat para ulama</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sifat Duduk Allah</strong><strong><br />
</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Permasalah tentang penetapan <em>Julus</em> dan <em>quud</em><strong> </strong>bagi Allah Subhanahu Taala merupakan masalah rumit yang berkutat seputar tafsir dari firmanNya :</p>
<p style="text-align:justify;">عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا<br />
kebanyakan ahli tafsir memaknakan مقاما محمودا   sebagai syafaat nabi kepada Ummatnya dihari akhir, Namun Imam Mujahid yang merupakan sayyidul  Mufassirin memiliki pendapat lain sebagaimana dinukil Oleh para Ulama diantara oleh al imam At thabari ketika menafsirkan Surat al Isra ayat 79 setelah ia memaparkan pendapat kebanyakan ulama yang mengatakan ayat tersebut terkait dengan syafaat Rasulullah. Beliau berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وهذا وإن كان هو الصحيح من القول في تأويل قوله ( عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا ) لما ذكرنا من الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه والتابعين ، فإن ما قاله مجاهد من أن الله يقعد محمدا صلى الله عليه وسلم على عرشه ، قول غير مدفوع صحته ، لا من جهة خبر ولا نظر ، وذلك لأنه لا خبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أحد من أصحابه ، ولا عن التابعين بإحالة ذلك</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Semua ini, sekalipun inilah yang benar dari tafsir firman Allah </em><em>عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا</em><em> berdasarkan apa riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan dari Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, para sahabat, dan tabiin. Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhmmad shallallahu alaihi Wasallam diatas Arsy-Nya adalah perkataan yang tidak bisa ditolak kesosihannya baik dari segi khobar maupun nadzar. Hal itu karena tidak ada berita dari Rasulullah dan tidak satupun dari sahabat maupun tabiin tentang kemustahilannya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan diatas, jelaslah bahwa at Thabari cenderung memilih pendapat bahwa ayat ini terkait dengan masalah Syafaat Rasulullah diakhirat kelak, namun begitu dia mentolerir pendapat Mujahid yang menyatakan bahwa مقاما محمودا adalah Allah mendudukkan Rasulullah diatas Arsyi-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai tafsir  مقاما محمودا,  para ahli tafsir banyak sekali yang membicarakan hal ini dan mereka ada membenarkan atau mentolerir seperti yang dilakukan Oleh at Thabari dan al Syaukani dalam Fathul Qadir. Sebagian mereka ada yang hanya menukil riwayat mujahid tersebut  tanpa memberikan komentar sama sekali seperti yang dilakukan Oleh Imam Khozin dan al Baghawi. Fakta  paling mengherankan adalah Abu Hayyan al Andalusî  juga menukil pendapat mujahid dan mendiamkannya. Hal berbeda yang dia lakukan hanyalah membawakan bantahan al Wahidi  tentang pendapat Mujahid tersebut tanpa membenarkan Atau menyalahkan. beliau berkata:</p>
<p style="text-align:right;">الخامس : ما قالت فرقة منها مجاهد ، وقد روي أيضا عن ابن عباس أن المقام المحمود هو أن يجلسه الله معه على العرش . وذكر الطبري في ذلك حديثا وذكر النقاش عن أبي داود السجستاني أنه قال : من أنكر هذا الحديث فهو عندنا متهم ما زال أهل العلم يحدثون بهذا . قال ابن عطية : يعني من أنكر جوازه على تأويله .</p>
<p style="text-align:justify;">Kelima:<em>Apa yang dikatakan oleh sebuah firqah diantaran Mujahid, Da telah meriwayatkan juga bahwa </em><em>مقاما محمودا</em><em> </em><em>bermakna Allah mendudukkan dia (Rasulullah, pent) bersamanya diatas Arsy. At  Thabari menyebutkan beberapa hadits tentang hal tersebut dan menyebutkan An Nuqqas dari Abu Dawud al Sijistanî bahwa beliau berkata: siapapun yang mengingkari hadits ini maka disisi kami termasuk orang yang tertuduh selama ahli ilmu tetap membicarakan hal ini. Berkata Ibnu Athiyyah: yaitu mengingkari kebolehan penakwilannya. (mengingkari bahwa takwil </em><em>مقاما محمودا</em><em> adalah Allah mendudukkan Rasulullah bersamanya diatas Arsyi-Nya, pent)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu katsir menyebutkan sebuah cerita yang terjadi pada tahun 317 Hijriah<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:right;">وفي سنة 317 وقعت فتنة ببغداد بين أصحاب أبي بكر المروذي الحنبلي وبين طائفة من العامة اختلفوا في تفسير قوله تعالى</p>
<p style="text-align:right;">عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا  فقالت الحنابلة يجلسه معه على العرش وقال الآخرون المراد بذلك الشفاعة العظمى فاقتتلوا بسبب ذلك وقتل بينهم قتلى فإنا لله وإليه راجعون</p>
<p style="text-align:right;">وقد ثبت في صحيح البخاري أن المراد بذلك الشفاعة العظمى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pada tahun 317 hijriah terjadi fitnah di Baghdad antara pengikut Abu Bakr al Marwadzi al Hambali dan sekelompok orang. Mereka berselisih tentang firman Allah Taala </em><em>عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا </em><em> Hanabilah (pengikuat Al Marwadzi, pent) berpendapat Bahwa Allah mendudukkannya diatas Arsy sedangkan yang lain berkata bahwa maksud ayat tersebut adalah Syafaatul Udzma. Mereka kemudian saling bunuh dan jatuhlah Korba. Innalillaahi Wainna ilaihi Rajiun. Sungguh telah valid didalam sohih Bukhari bahwasanya yang dimaksud adalah Syafaatul udzma yang merupakan Syafaat </em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Marwadzi merupakan orang yang amat Fanatik terhadap pendapatnya ini dan bahkan mengarang kitab khusus untuk membela pendapat mujahid ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Terlalu banyak riwayat dari para ulama yang mengungkapkan dalil tentang didudukkannya Rasulullah Shallallaahu alaihi Wasallam diatas Arsy-nya. Orang yang paling banyak mengungkapkan dalil-dalil tersebut adalah al Imam Al Khallal dalam kitabnya Assunnah. Beliau membawakan Puluhan<a href="#_ftn2">[2]</a> riwayat yang mendukung pendapat beliau tersebut</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa riwayat tersebut antara lain:</p>
<p style="text-align:right;">وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ , قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ حَمَّادٍ الْمُقْرِئُ صَاحِبُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ الْمِصْرِيُّ , قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ , قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ , عَنْ لَيْثٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ : {عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبَّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا} قَالَ :<strong> يُقْعِدُهُ عَلَى الْعَرْشِ</strong> , قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ حَمَّادٍ : مَنْ ذُكِرَتْ عِنْدَهُ هَذِهِ الأَحَادِيثُ فَسَكَتَ عَنْهَا فَهُوَ مُتَّهَمٌ , فَكَيْفَ مَنْ رَدَّهَا وَطَعَنَ فِيهَا , أَوْ تَكَلَّمَ فِيهَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>telah bercerita kepada kami Abu bakr, dia berkata: telah menceritakan kepadaku  Hammad al Muqri sahabat Abu Abdillah Ahmad Bin Hambal dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin solih al Mishri, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hassan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Laits dari Mujahid</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>: </em><em>{عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبَّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا}</em><em> dia berkata: Dia mendudukkannya diatas Arsy, berkata abu Bakr Hammad: Siapapun yang  disebutkan hadits ini kepadanya kemudian diam, maka dia tertuduh, apalagi yang menolak dan mencelanya atau membicarakan (penolaknnya, pent)</em><em> </em></p>
<p style="text-align:right;">وَذَكَرَ أَبُو بكر المروذي فِي مختصر كتاب الرد عَلَى من رد حديث مجاهد، سألت أَبَا عبد اللَّه عَن</p>
<p style="text-align:right;">الأحاديث الَّتِي تردها الجهمية فِي الصفات والرؤية والإسراء وقصة العرش، فصححها أَبُو عبد اللَّه وَقَالَ: قد تلقتها الأمة بالقبول تمر الأخبار كَمَا جائت</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Bakr al Marwadzi menyebutkan pada Mukhtashar kitab bantahan terhadap siapapunyang membantah hadits Mujahid, aku bertanya kepada Abu Abdillah (imam Ahmad, pent) tentang hadits-hadits yang ditolak oleh Jahmiyah tentang Sifat, ru’yah, isra’, dan cerita tentang  Arsy, Maka Abu Abdillah mensohihkannya dan berkata: Sungguh Umat telah sepakat untuk menerima dan perlakukanlah khobar tersebut sebagaimana dia datang.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Albani dan al Imam al Dzahabi mendhoifkan semua riwayat tentang  didudukkannya Nabi diatas Arsy. Ketika membawakan biografi Muhammad bin Mush’ab yang merupakan syiakhnya ulama Baghdad bernomor 461 dalam kitabnya Al uluw Al Dzahabi mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">وقال المروذي سمعت أبا عبد الله الخفاف سمعت ابن مصعب وتلا عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا قال نعم يقعده على العرش ذكر الإمام أحمد محمد بن مصعب فقال قد كتبت عنه وأي رجل هو</p>
<p style="text-align:right;">فأما قضية قعود نبينا على العرش فلم يثبت في ذلك نص بل في الباب حديث واه وما فسر به مجاهد الآية كما ذكرناه</p>
<p style="text-align:right;">فقد أنكر بعض أهل الكلام فقام المروذي وقعد وبالغ في الإنتصار لذلك وجمع فيه كتابا وطرق قول مجاهد من رواية ليث بن أبي سليم وعطاء بن السائب وأبي يحيى القتات وجابر بن يزيد</p>
<p style="text-align:right;">فممن أفتى في ذلك العصر بأن هذا الأثر يسلم ولا يعارض أبو داود السجستاني صاحب السنن وإبراهيم الحربي وخلق بحيث أن ابن الإمام أحمد قال عقيب قول مجاهد أنا منكر على كل من رد هذا الحديث وهو عندي رجل سوء متهم سمعته من جماعة وما رأيت محدثا ينكره وعندنا إنما تنكره الجهمية وقد حدثنا هارون بن معروف حدثنا محمد بن فضيل عن ليث عن مجاهد في قوله عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا قال يقعده عن العرش فحدثت به أبي رحمه الله فقال</p>
<p style="text-align:right;">لم يقدر لي أن أسمعه من ابن فضيل بحيث أن المروذي روى حكاية بنزول عن إبراهيم بن عرفة سمعت ابن عمير يقول سمعت أحمد بن حنبل يقول هذا قد تلقته العلماء بالقبول</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Berkata al Marwadzi: aku mendengar Abu Abdillah al Khoffaf aku mendengar Ibnu Mush’ab dan ia membaca ayat </em><em>عسى أن يبعثك ربك مقاما</em><em> </em><em>ia berkata ‘yah’ Dia mendudukkannya diatas arsy. Imam Ahmad menyebutkan Muhammad bin Mush’ab kemudian ia berkata: aku telah menulis darinya dan memangnya dia siapa?”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Adapun permasalah terkait didudukannya nabi kita diatas Arsy, maka tidak ada satupun Nash yang valid, bahkan dalam bab tersebut terdapat hadits yang lemah. Apa yang ditafsirkan oleh Mujahid tentang ayat ini sebagaimana yang telah diingkari oleh ahli kalam. Maka al Marwadzi bersikeras membela dan mengumpulkan tulisan terkait hal tersebut dan memasukkan qaul Mujahid dari riwayat Laits bin abi Sulaim dan Atha bin Saib dan Abi Yahya al Quttat dan jabir bin Yazid.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Termasuk yang berfatwa pada masa itu bahwa atsar tersebut diterima dan tidak boleh ditentang adalah Abu Daud Al Sijistanî pemiliki kitab sunan dan Ibrahim al Harbi dan lain-lain dimana anak Imam Ahmad berkata setelahi perkataan Mujahid: saya mengingkari setiap orang yang menolak hadits ini, menurutku pengingkar hadits ini adalah orang yang buruk lagi tertuduh. Aku mendengarnya dari banyak orang dan aku tidak mendapati satupun Muhaddits yang mengingkarinya. Disisiku pengingkarnya adalah jahmiyah. Sungguh telah bercerita kepada kami Harun bin Ma’ruf, telah bercerita kepada kami Muhammad bin fudhail dari laits dari Mujahid tentang FirmanNya </em><em>عسى أن يبعثك ربك مقاما</em><em> dia berkata: Ia mendudukkanya di Arsy, maka aku ceritakan kepada ayahku (Imam Ahmad) Rahimahullah, kemudian beliau berkata: aku tidak ditakdirkan untuk mendengar dari ibnu fudhail. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>al Marwadzi meriwayatkan cerita tentang Nuzul dari Ibrahim bin Arafah, aku mendengar ibnu Umair berkata, aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: Para ulama telah sepakat menerima ini<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu taimiyah adalah orang yang cenderung menetapkan riwayat tentang didudukkannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam diatas Arsy meskipun tidak menetapkan persetujuan dan penolakan maupun menakwilnya</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وقد صنف القاضي أبو يعلى كتابه في إبطال التأويل ردا لكتاب ابن فورك وهو وإن كان أسند الأحاديث التي ذكرها وذكر من رواها ففيها عدة أحاديث موضوعة كحديث الرؤية عيانا ليلة المعراج ونحوه وفيها اشياء عن بعض السلف رواها بعض الناس مرفوعة كحديث قعود الرسول صلى الله عليه وسلم على العرش رواه بعض الناس من طرق كثيرة مرفوعة وهي كلها موضوعة وإنما الثابت أنه عن مجاهد وغيره من السلف وكان السلف والأئمة يروونه ولا ينكرونه ويتلقونه بالقبول</p>
<p style="text-align:right;">وقد يقال إن مثل هذا لا يقال إلا توقيفا لكن لا بد من الفرق بين ما ثبت من ألفاظ الرسول وما ثبت من كلام غيره سواء كان من المقبول أو المردود</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sungguh Qadhi Abu Ya’la telah mengarang sebuah kitab yang bernama Ibthal al Ta’wil sebagai bantahan terhadap Ibnu Fawraq, sekalipun dalam kitab tersebut ia memberikan sanad hadits-hadits yang dan menyebutkan rawinya, namun didalam kitab tersebut banyak sekali hadits-hadits maudhu. Misalnya hadits melihat Allah dengan mata telanjang di malam Mi’raj dan semisalnya. ada beberapa perkara dari sebagian Salaf yang diriwayatkan oleh sebagian orang secara marfu seperti hadits duduknya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diatas Arsy, hadits tersebut diriwayatkan oleh sebagian orang dari banyak jalan yang marfu namun semuanya Maudhu. Hadits yang Valid hanya dari Mujahid dan selain beliau dari kalangan Salaf dan mereka serta para imam meriwayatkannya, tidak mengingkarinya dan sepakat menerimanya<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kadang-kadang dikatakan bahwa hal semacam ini bersifat tauqifi, namun perlu dibedakan antara apa yang valid dengan lafadz-lafadz dari Rasulullah dengan yang valid dari perkataan orang lain dalam masalah penerimaan dan penolakan. <a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian beliau memberikan rambu-rambu dalam hal ini dengan mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">فما جاءت به الأثار عن النبي من لفظ القعود و الجلوس في حق الله تعالى كحديث جفعر ابن ابي طالب و حديث عمر أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Semua atsar yang datang tentang nabi dengan lafadz quud dan julus yang terkait dengan Allah Taala seperti hadits Ja’far bin abi Thalib dan hadits Umar lebih utama untuk dikatakan tidak menyerupai Sifat Jism Hamba</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari riwayat-riwayat yang telah saya sebutkan baik dari yang menyetujui maupun tidak, adalah jelas bahwa Ibnu Taimiyah tidak mengada-ngada apalagi terjerumus kedalam bid’ah Tajsim. Beliau hanya mengikuti pendahulunya dari kalangan Salaf  Seperti At thabari, al Marwadzi, Imah Ahmad, Abdullah Bin Ahmad, Abu Daud al Sijistani pemilik sunan Abu Daud, al Khallal, Ibrahim bin Harbi, Muhammad bin Mush&#8217;ab dan bahkan dikatakan hal itu juga menjadi pendapat Imam Syafii seperti yang dituturkan oleh Al Dzahabi dalam Biografi Muhammad bin Mush&#8217;ab dan banyak lagi. Al Ajurri Juga membuat bab khusus tentang hal ini dalam kitab beliau &#8216;al syariah&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita mau jujur, kenapa kita tidak bersikap seperti At thabari yang mentolerir pemahaman sebagian orang tentang makna مقاما محمود<em>ا</em><em> </em>yang berarti Allah mendudukkan Muhammad diatas Arsy-Nya. atau kalau mau bersikeras mengkafirkan Ibnu Taimiyah, lakukanlah itu juga pada ulama-ulama yang membela Mujahid. Naudzubillah Min dzalik.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu Saya tekankan bahwa disini saya tidak mentarjih pendapat manapun terkait tafsir ayat tersebut. Tulisan ini hanya untuk membela ibnu Taimiyah dari tuduhan orang yang menuduh Ibnu Taimiyah Mujassimah karena mengabarkan riwayat-riwayat yang telah saya sebutkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Antara Istiwa dan duduk </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah lain muncul terkait riwayat-riwayat didudukkannya nabi diatas arsy, yaitu apakah istiwa juga bermakna duduk? Ibnu Utsaimin pernah mendapat pertanyaan tentang hal ini:</p>
<p style="text-align:right;">سئل العلامة ابن عثيمين رحمه الله في لقاء الباب المفتوح</p>
<p style="text-align:right;">فضيلة الشيخ : عثمان الدارمي في رده على بشر المريسي أورد أن الاستواء يأتي بمعنى الجلوس ، مارأي فضيلتكم ؟</p>
<p style="text-align:right;">الجواب : الاستواء على الشيء في اللغة العربية يأتي بمعنى الاستقرار والجلوس قال تعالى (لتستووا على ظهوره )  الزخرف: 13</p>
<p style="text-align:right;">والانسان على ظهر الدابة جالس أم واقف ؟</p>
<p style="text-align:right;">هو جالس ، لكن هل يصح أن نثبته في استواء الله على العرش ؟ هذا محل نظر</p>
<p style="text-align:right;">فإن ثبت عن السلف أنهم فسروا ذلك بالجلوس فهم أعلم منا بهذا والا ففيه نظر</p>
<p style="text-align:right;">والا نقول : الكيف ـ أعني ـ الاستواء مجهول ، ومن جملة الجهل ألاّ ندري أهو جالس أم غير جالس ، ولكن نقول : معنى الاستواء : العلو ، هذا أمر لاشك فيه</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dalam sebuah acara pertemuan terbuka, al Allamah Ibnu Utsaimin pernah ditanya:</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Fadhilatus Syaikh: Utsman al Darimi ketika membatah Bisyr al Muraisy mengatakan bahwa salah satu makna istiwa adalah duduk, bagaimana pendapatmu?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Jawab:</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Istiwa diatas sesuatu dalam bahasa arab bermakna menetap dan duduk. Allah berfirman</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:right;"><em>لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Supaya kamu duduk di atas punggungnya” (QS. Az-Zukhruf: 13)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Manusia diatas punggung hewan tunggangan duduk atau berdiri?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dia duduk. Tetapi apakah boleh kita menetapkan makna tersebut pada istiwa Allah diatas Arsy? Inilah objek  penelitiannya.  Namun demikian kita katakan bahwa kaif (bagaimana) istiwanya Allah itu adalah majhul, termasuk dalam konsep majhul tersebut adalah kita tidak tahu apakah dia duduk atau bukan duduk. Tapi kita katakan makna istiwa adalah “tinggi”. Inilah yang tidak diragukan. <a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin wacana atau tersebarnya istiwa dengan makna Julus atau quud terkait dengan riwayat dari Kharijah bin Mush’ab yang mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">روى الإمام عبد الله عن أحمد بن سعيد الدارمي عن أبيه قال: سمعت خارجة يقول ))الجهمية كفار، بلغوا نساءهم أنهن طوالق وأنهن لا يحللن لأزواجهن، لا تعودوا مرضاهم، ولا تشهدوا جنائزهم. ثم تلا {طه ، ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى} إلى قوله عز وجل: {الرحمن على العرش استوى} <strong>وهل يكون الاستواء إلا بجلوس</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Imam Abdullah meriwayatkan dari Ahmad bin Said Al Darimi dari bapaknya dia berkata: aku mendengar  Khorijah berkata (jahmiyah itu kafir, Sampaikan oleh kalian bahwa isteri-iseri mereka telah terthalaq dan mereka tidak halal bagi suami mereka, jangan dijenguk ketika sakit,dan janganlah jenazah mereka disaksikan (dianggap baik) kemudian beliau membaca </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em>{طه ، ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى} إلى قوله عز وجل: {الرحمن على العرش استوى}</em><em> </em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>bukankah istiwa itu dengan duduk!</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diketahui bahwa Ibnu Taimiyah begitu juga muridnya Ibnul Qayyim al Jauziyah hanya menyebutkan kata duduk terkait tafsir dari Mujahid tentang surat al isra ayat 79, bukan memaknakan Istiwa dengan duduk. Yang paling mungkin duduk adalah sifat fi’liyah Allah tersendiri bukan sekedar makna dari Istiwa. Jalan yang saya tempuh adalah seperti syaikh Utsaimin yang cenderung tawaquf dalam masalah istiwa bermakna duduk. Yang jelas penetapan makna-makna istiwa adalah tatabbu’ dan istiqra, bukan hal yang Qathi’. Jika hal  itu benar, maka al Imam utsman al Darimi lebih alim dari kita. Lagipula tujuan utama tulisan ini dibuat adalah untuk memberikan informasi tentang kelirunya orang-orang itu mencela ibnu taimiyah untuk hal yang secara jelas dan meyakinkan terdapat dalam riwayat-riwayat para ulama-ulama terdahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat peristiwa-peristwa yang terjadi pada tahun tersebut dalam Bidayah Wan nihayah</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Silahkan membaca As sunnah karya beliau bab Dzikru al Maqam al Mahmud mulai riwayat no. 236</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> al Uluw lil aliyyil Ghaffar hal.170 riwayat no 461 Maktabah Adhwa al Salaf</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Kata-kata ini mirip dengan yang diucapkan Imam Ahmad terkait riwayat semacam ini</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Dar’ut taarudh aql Wa al naql 3/19</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Liqa’ bab al Maftuh pertanyaan nomor 450</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/pembelaan/'>Pembelaan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/728/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=728&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/01/31/istiwa-dan-duduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/hayyan1.png?w=108" medium="image">
			<media:title type="html">hayyan1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/hayyan2.png?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">hayyan2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Berselisih&#8221; dengan Imam</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/01/03/berselisih-dengan-imam/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/01/03/berselisih-dengan-imam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 11:56:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=719</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Perbedaan Mazhab merupakan hal yang tidak dapat dihindari, masalah timbul  ketika kita harus mempraktekkan apa yang kita yakini benar itu terbentur oleh perbedaan tersebut. Konsekwensi perbedaan Mazhab ini terkadang amat merepotkan  ketika terjadi didalam sholat, Bagaimana para Ulama memandang permasalahan Ini, terutama pendapat ibnu taimiyah yang merupakan isu utama dalam blog ini? Kaidah utama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=719&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/quarrel.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-720" title="Quarrel" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/quarrel.png?w=300&#038;h=238" alt="" width="300" height="238" /></a>Perbedaan Mazhab merupakan hal yang tidak dapat dihindari, masalah timbul  ketika kita harus mempraktekkan apa yang kita yakini benar itu terbentur oleh perbedaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsekwensi perbedaan Mazhab ini terkadang amat merepotkan  ketika terjadi didalam sholat, Bagaimana<span id="more-719"></span> para Ulama memandang permasalahan Ini, terutama pendapat ibnu taimiyah yang merupakan isu utama dalam blog ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Kaidah utama yang dipegang oleh Ibnu taimiyah adalah sahnya sholat makmum sekalipun ada perbedaan antara imam dan makmum dalam gerakan atau bacaan sholat tertentu. Beliau pernah ditanya mengenai hal tersebut:</p>
<p style="text-align:right;">وسئل شيخ الإسلام ابن تيمية رَحمه اللّه : هل تصح صلاة المأموم خلف من يخالف مذهبه</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah ditanya: Apakah sah sholat seorang makmum yang sholat mengikuti Imam yang berbeda mazhabnya?</p>
<p style="text-align:right;">فأجاب : وأما صلاة الرجل خلف من يخالف مذهبه فهذه تصح باتفاق الصحابة والتابعين لهم بإحسان والأئمة الأربعة ولكن النزاع في صورتين : إحداهما : خلافها شاذ وهو ما إذا أتى الإمام بالواجبات كما يعتقده المأموم لكن لا يعتقد وجوبها مثل التشهد الأخير إذا فعله من لم يعتقد وجوبه والمأموم يعتقد وجوبه فهذا فيه خلاف شاذ . والصواب الذي عليه السلف وجمهور الخلف صحة الصلاة</p>
<p style="text-align:right;">والمسألة الثانية : فيها نزاع مشهور إذا ترك الإمام ما يعتقد المأموم وجوبه مثل أن يترك قراءة البسملة سرا وجهرا والمأموم يعتقد وجوبها . أو مثل أن يترك الوضوء من مس الذكر أو لمس النساء أو أكل لحم الإبل. أو القهقهة أو خروج النجاسات أو النجاسة النادرة والمأموم يرى وجوب الوضوء من ذلك فهذا فيه قولان . أصحهما صحة صلاة المأموم وهو مذهب مالك وأصرح الروايتين عن أحمد في مثل هذه المسائل وهو أحد الوجهين في مذهب الشافعي بل هو المنصوص عنه فإنه كان يصلي خلف المالكية الذين لا يقرءون البسملة ومذهبه وجوب قراءتها . والدليل على ذلك ما رواه البخاري وغيره عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : { يصلون لكم فإن أصابوا فلكم ولهم وإن أخطئوا فلكم وعليهم } فجعل خطأ الإمام عليه دون المأموم</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun sholat seseorang dibelakang orang yang berbeda mazhab adalah sah berdasarkan kesepakatan para sahabat dan yang mengikuti mereka dalam kebaikan serta empat Imam. Namun pertentangan terjadi pada dua kasus:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: perbedaannya itu ganjil yaitu jika seorang imam melakukan perbuatan yang wajib seperti apa yang diyakini oleh makmum namun ia tidak meyakini bahwa perbuatan tersebut adalah wajib. Misalnya Tasyahud akhir jika dilakukan oleh orang (imam) yang tidak meyakini kewajibannya sementara makmum meyakininya sebagai kewajiban. Inilah  perbedaan yang ganjil. Yang benar sesuai dengan pendapat salaf dan jumhur sahabat adalah sahnya sholat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah kedua: terdapat perbedaan yang terkenal jika seorang Imam meninggalkan perbuatan yang diyakini kewajibannya oleh makmum. Misalnya Imam meninggalkan membaca bismillah sedangkan makmum meyakininya sebagai kewajiban. Atau Imam tidak berwudhu karena menyentuh kemaluan, menyentuh wanita, makan daging unta, tertawa keras, keluar banyak najis, atau najis yang jarang sedangkan makmum menganggap wajib berwudhu. Dalam hal ini ada dua pendapat: yang paling sohih adalah sahnya sholat makmum dan itu merupakan mazhab malik dan merupakan pendapat yang paling tegas diantara dua pendapat dari Imam Ahmad pada masalah-masalah seperti ini. Ini juga merupakan salah satu dari dua pendapat didalam mazhab Syafii bahkan yang <em>manshus</em> dari Imam Syafii. Sesungguhnya beliau pernah sholat dibelakang penganut mazhab maliki yang tidak membaca bismillah sedangkan mazhab beliau mewajibkannya. Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh al Bukhori dan lainnya dari Nabi Shallallaahu alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Shalatlah bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka”. Beliau menjadikan kesalahan Imam sebagai tanggungan Imam sendiri berbeda dengan makmum.</p>
<p style="text-align:justify;">Ijma tentang sahnya mengikut imam yang berbeda mazhab dikuatkan oleh ibnu Qudamah:</p>
<p style="text-align:right;">فأما المخالفون في الفروع كأصحاب أبي حنيفة , ومالك , والشافعي : فالصلاة خلفهم صحيحة غير مكروهة ، نصَّ عليه أحمد ; لأن الصحابة والتابعين ومن بعدهم : لم يزل بعضهم يأتم ببعض , مع اختلافهم في الفروع , فكان ذلك إجماعاً&#8221; انتهى</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun perbedaan dalam masalah furu’ seperti pengikut Mazhab Abu Hanifah, Malik, dan  Syafii: Maka sholat dibelakang mereka adalah sah tidak makruh. Hal ini diputuskan oleh Imam Ahmad; karena para sahabat, tabiin dan orang-orang setelah mereka senantiasa berimam satu sama lain padahal mereka berbeda dalam masalah furu. Hal itu adalah Ijma. selesai<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Boleh berbeda dengan Imam tapi mengikuti lebih utama</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Permasalah berbedanya makmum dengan Imam berkutat pada hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam:</p>
<p style="text-align:justify;">إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا وإذا رَفَعَ فَارْفَعُوا وإذا قال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وإذا صلى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
<em>&#8220;Hanyalah dijadikan imam adalah untuk diikuti, maka jika imam sholat berdiri maka sholatlah kalian (wahai para mekmum-pent) berdiri juga, jika imam ruku&#8217; maka ruku&#8217;lah kalian, dan jika imam bangkit maka bangkitlah, dan jika imam berkata &#8220;Sami&#8217;allahu liman hamidahu&#8221; ucapkanlah &#8220;Robbanaa wa lakalhamdu&#8221;. Jika imam sholat berdiri maka sholatlah berdiri, dan jika imam sholat duduk maka sholatlah kalian seluruhnya dengan duduk&#8221;</em><a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a><em> </em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits diatas juga senada dengan hadits berikut:</p>
<p style="text-align:right;">أَمَا يَخْشَى الَّذِيْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam bahwa Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai?”<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari hadits diatas terdapat gambaran jelas bahwa terlarangnya penyelisihan makmum terhadap Imam adalah Jika perselisihan tersebut terjadi pada Hal-hal yang dzohir dan dapat membuat makmumnya tertinggal atau mendahului Imam.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Nawawi berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وَأَمَّا قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَام لِيُؤْتَمّ بِهِ فَمَعْنَاهُ عِنْد الشَّافِعِيّ وَطَائِفَة فِي الْأَفْعَال الظَّاهِرَة</p>
<p style="text-align:justify;"><em> “Adapun sabda beliau </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>: (Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti) maka maknanya menurut Syafi’iy dan sebagian ulama adalah di dalam perbuatan-perbuatan yang dhahir ”</em> <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyah menyinggung sebuah perbedaan yang boleh dilakukan oleh makmum ketika dia sedang berimam dengan orang yang berbeda pendapatnya tentang duduk istirahat.</p>
<p style="text-align:right;">سئل عن رجل يصلي مأموما ويجلس بين الركعات جلسة الاستراحة ولم يفعل ذلك الإمام فهل يجوز ذلك له ؟ وإذا جاز : هل يكون منقصا لأجره لأجل كونه لم يتابع الإمام في سرعة الإمام ؟</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau ditanya tentang seseorang yang sholat menjadi makmum dan melakukan duduk istirahat antara rakaat sementara Imam tidak melakukannya. Apakah itu boleh? Kalau itu boleh, apakah tidak mengurangi pahalanya karena tidak bersegera mengikuti Imam</p>
<p style="text-align:right;">وفأجاب : جلسة الاستراحة قد ثبت في الصحيح أن النبي صلى الله عليه وسلم جلسها ; لكن تردد العلماء هل فعل ذلك من كبر السن للحاجة أو فعل ذلك لأنه من سنة الصلاة</p>
<p style="text-align:right;">فمن قال بالثاني : استحبها كقول الشافعي وأحمد في إحدى الروايتين</p>
<p style="text-align:right;">ومن قال بالأول : لم يستحبها إلا عند الحاجة كقول أبي حنيفة ومالك وأحمد في الرواية الأخرى . ومن فعلها لم ينكر عليه وإن كان مأموما ; لكون التأخر بمقدار ما ليس هو من التخلف المنهي عنه عند من يقول باستحبابها وهل هذا إلا فعل في محل اجتهاد فإنه قد تعارض فعل هذه السنة عنده والمبادرة إلى موافقة الإمام فإن ذلك أولى من التخلف لكنه يسير فصار مثل ما إذا قام من التشهد الأول قبل أن يكمله المأموم والمأموم يرى أنه مستحب أو مثل أن يسلم وقد بقي عليه يسير من الدعاء هل يسلم أو يتمه ؟ ومثل هذه المسائل هي من مسائل الاجتهاد والأقوى أن متابعة الإمام أولى من التخلف لفعل مستحب والله أعلم</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Duduk istirahat merupakan hal yang telah valid dilakukan oleh  Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam didalam kitab sohih, akan tetapi para ulama berselisih antara apakah Nabi melakukannya karena kebutuhan beliau yang sudah tua?, ataukah Nabi melakukannya karena termasuk sunnah dalam sholat?. Barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan kedua maka ia menganggapnya mustahab sebagaimana pendapat As-Syafi&#8217;i dan salah satu riwayat dari Ahmad. Dan barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan pertama maka ia tidak menganggapnya mustahab kecuali jika memerlukannya sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Malik, dan salah satu riwayat dari Ahmad.</p>
<p style="text-align:justify;">Barangsiapa yang melakukan duduk istirahat maka tidak boleh diingkari meskipun posisinya sebagai makmum (sementara imam tidak melakukannya-pent) <strong>karena keterlambatannya mengikuti (imam yang tidak duduk istirahat) hanya sedikit dan tidak termasuk keterlambatan yang dilarang –menurut mereka yang berpendapat akan mustahabnya duduk istirahat-</strong>. Bukankah ini cuma perbuatan yang merupakan perkara ijtihad? Karena sesungguhnya telah bertentangan antara melakukan sunnah ini –yaitu menurutnya- dengan bersegera mengikuti imam?, sesungguhnya mengikuti imam lebih utama daripada terlambat. Akan tetapi keterlambatan tersebut hanya sedikit, maka perkaranya seperti jika imam berdiri dari tasyahhud awal sebelum makmum menyelesaikan (bacaan) tasyahhud awal padahal makmum memandang mustahabnya menyempurnakan bacaan tasyahhud awal (sehingga akhirnya sang makmum terlambat beridiri-pent). Atau seperti jika imam salam padahal sang makmum masih ingin berdoa sedikit lagi, apakah sang makmum segera salam ataukah menyempurnakan dahulu doanya?. Permasalahan-permasalahan seperti ini termasuk permasalahan ijtihad, dan yang paling kuat adalah bahwa bersegera mengikuti imam itu lebih utama dari pada terlambat karena melakukan perkara yang mustahab. Wallahu A&#8217;lam<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini dikuatkan oleh Faqihuzzaman Muhammad Bin Sholih al Utsaimin</p>
<p style="text-align:right;">فإذا سقط الجلوس في التشهد من أجل المتابعة فليسقط الجلوس للاستراحة من أجل المتابعة لكني أقول لما كان التخلف في جلسة الاستراحة يسيراً فإن الجلسة لا تعد مخالفة للإمام ولا تبطل الصلاة لو جلس لكننا نأمره أن لا يجلس</p>
<p style="text-align:justify;">Jika duduk tasyahud bisa gugur karena mengikuti Imam (yang lupa, pent) maka duduk istirahat juga bisa gugur karena mengikuti Imam. Tapi aku menganggap ketinggalan yang ringan dalam duduk istirahat tidak dianggap menyalahi Imam dan tidak batal sholat kalau ia melakukannya, tapi saya memerintahkan agar tidak duduk istirahat (mengikuti imam, pent)<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi jelas untuk hal-hal yang merupakan ijtihad dan bisa mempengaruhi dalam hal tertinggal atau mendahului imam dan atau terlihat mencolok secara dzohir maka makmum wajib mengikuti Imam. Namun jika tertinggalnya ringan saja, maka makmum boleh melakukannya namun tetap disarankan untuk mengikuti Imam.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> al Mughni Jilid 11/2</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Hadits riwayat Al-Bukhari no 657</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Hadits riwayat Muslim</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Bin Al-Hajjaj</em> 4/134</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Majmû Al-Fatâwâ Jilid 22/451-452</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Majmû Al-Fatâwâ Jilid 13/538</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fatwa/'>Fatwa</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/719/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=719&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2011/01/03/berselisih-dengan-imam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2011/01/quarrel.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Quarrel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kapan iedul Adha? Ikut pemerintah Atau Saudi?</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/11/10/kapan-iedul-adha-ikut-pemerintah-atau-saudi/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/11/10/kapan-iedul-adha-ikut-pemerintah-atau-saudi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 07:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Kenyataan akan adanya perbedaan pelaksanaan Puasa Arafah untuk tahun ini kembali menjadi kenyataan setelah pemerintah Republik Indonesia yang di amini oleh MUI  menetapkan berdasarkan sidang itsbat yang mengacu pada terbitnya hilal di Indonesia menyatakan bahwa hilal sama sekali tidak terlihat. Ini berarti Bulan Dzul qa’dah adalah 30 hari. Berbeda dengan wilayah Saudi yang menetapkan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=703&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/11/hilal.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-704" title="Hilal" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/11/hilal.png?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a>Kenyataan akan adanya perbedaan pelaksanaan Puasa Arafah untuk tahun ini kembali menjadi kenyataan setelah pemerintah Republik Indonesia yang di amini oleh MUI  menetapkan berdasarkan sidang itsbat yang mengacu pada terbitnya hilal di Indonesia <span id="more-703"></span>menyatakan bahwa hilal sama sekali tidak terlihat. Ini berarti Bulan Dzul qa’dah adalah 30 hari. Berbeda dengan wilayah Saudi yang menetapkan bahwa Dzulqa&#8217;dah adalah 29 hari yang berkonsekwensi berbedanya hari pelaksanaan ied dan Puasa Arafah.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana Ibnu Taimiyah memandang perbedaan Mathla’ terkait iedul Qurban?<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Pembahasanan kali ini akan menyoroti pendapat beliau dengan perbandingan pendapat-pendapat Ulama lain dijaman ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut rekaman pertanyaan penduduk Madinah kepada ibnu Taimiyah terkait Pembahasan Kita</p>
<p style="text-align:right;">سئل شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى: عن أهل مدينة رأى بعضهم هلال ذي الحجة، ولم يثبت عند حاكم المدينة فهل لهم أن يصوموا اليوم الذي في الظاهر التاسع. وإن كان في الباطن العاشر؟</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Syaikhul Islam ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah ditanya: Dari Penduduk Madinah yang sebagian dari mereka telah melihat <em>hilal</em> Bulan Dzulhijjah, tetapi belum ada ketetapan dari Hakim Madinah. apakah mereka berpuasa yang secara dzohir hari itu adalah tanggal 9. sekalipun secara bathin (kemungkinan tersembunyi, pent) adalah tanggal 10.&#8221;</p>
<p style="text-align:right;">فأجاب: نعم. يصومون التاسع في الظاهر المعروف عند الجماعة، وإن كان في نفس الأمر يكون عاشراً، ولو قدر ثبوت تلك الرؤية. فإن في السنن عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه قال: ( صومكم يوم تصومون، وفطركم يوم تفطرون، وأضحاكم يوم تضحون) أخرجه أبو داود، وابن ماجه، والترمذي وصححه. وعن عائشة ـ رضي الله عنهاـ أنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: (الفطر يوم يفطر الناس، والأضحى يوم يضح الناس) رواه الترمذي، وعلى هذا العمل عند أئمة المسلمين كلهم</p>
<p style="text-align:right;">فإن الناس لو وقفوا بعرفة في اليوم العاشر خطأ أجزأهم الوقوف بالاتفاق، وكان ذلك اليوم يوم عرفة في حقهم. ولو وقفوا الثامن خطأ ففي الأجزاء نزاع. والأظهر صحة الوقوف أيضاً، وهو أحد القولين في مذهب مالك، ومذهب أحمد وغيره. قالت عائشة ـ رضي الله عنها ـ «إنما عرفة اليوم الذي يعرفه الناس» ا.هـ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;beliau menjawab: yah. mereka berpuasa di tanggal sembilan yang dzohir yang diketahui oleh Jamaah. sekalipun sebenarnya itu bisa saja tanggal sepuluh. kalau ditakdirkan ru&#8217;yah itu benar, maka didalam sunan dari Abu Hurairah dari nabi shallallahu alaihi Wasallam beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه قال: ( صومكم يوم تصومون، وفطركم يوم تفطرون، وأضحاكم يوم تضحون) أخرجه أبو داود، وابن ماجه، والترمذي وصححه. وعن عائشة ـ رضي الله عنهاـ أنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: (الفطر يوم يفطر الناس، والأضحى يوم يضح الناس) رواه الترمذي</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Abu hurairah dari nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya beliau bersabda: Berbuka kalian adalah hari dimana kalian berbuka dan penyembelihan kalian adalah hari dimana kalian menyembelih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, at Tirmidzi<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a> dan beliau mensohihkannya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Aisyah Radhiyallahu anha beliau berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam: berbuka kalian (iedul fithri, pent) adalah ketika kalian berbuka dan Iedul Adha adalah hari dimana kalian berqurban. Diriwayatkan oleh Tirmidzi</em></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang diamalkan seluruh kaum Muslimin<br />
sesungguhnya jika mereka wukuf di Arafah pada hari kesepuluh karena keliru niscaya wukuf mereka mencukupi (sah, pent) dan hari itu tetaplah hari Arafah untuk mereka. kalau mereka wukuf tanggal delapan karena keliru, maka kesahannya diperselisihkan. yang paling kuat adalah SAH. itulah salah satu dari dua pendapat dalam mazhab malik, Ahmad dll. berkata Aisyah.</p>
<p style="text-align:center;">«إنما عرفة اليوم الذي يعرفه الناس»</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya Arafah adalah hari yang diketahui oleh manusia.<a href="#_ftn2"><strong>&#8220;[2]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana kita ketahui bahwa beberapa ulama memilih pendapat yang berbeda dari pendapat diatas dengan menegaskan bahwa iedul Adha dan atau Arafah terkait dengan pelaksanaan ibadah haji di Saudi Arabia, oleh karena itu mereka memilih untuk menyamakan harinya dengan hari dimana wukuf dan sholat ied diadakan di kerajaan Saudi Arabia sekalipun secara jelas berdasarkan rukyah dan hisab ahli Astronomi bahwa hari dimana mereka berpuasa dinegara mereka masih tangal delapan Dzulhijjah.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara jelas dan tegas Ibnu Taimiyah mensahkan ru’yah penduduk Madinah dan tidak sedikitpun menyarankan untuk menunggu  keputusan penduduk Mekkah. Hal ini berarti Ibnu Taimiyah memandang bahwa iedul Adha itu sesuai dengan terlihatnya Hilal dinegeri Masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman :</p>
<p style="text-align:center;"><strong>يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah bahwa itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.”</em> (Al-Baqarah: 189)</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ayat diatas jelaslah bahwa yang menjadi patokan adalah Hilal sebagai jawaban dari mereka yang bertanya tentang fungsi hilal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak hadits-hadits yang juga mengaitkan ibadah-ibadah di awal hari kesepuluh bulan Dzulhijjah dengan menyebutkan tanggalnya seperti anjuran tidak memotong rambut dan kuku. Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align:center;">إذا دخلت <strong>العشر</strong> وأراد أحدكم أن يضحي فلا يأخذ من شعره ولا من ظفره شيئاً</p>
<p style="text-align:justify;">dalam lafadz Muslim disebutkan:</p>
<p style="text-align:center;">( إذا رأيتم <strong>هلال ذي الحجة</strong>، وأراد أحدكم أن يضحي &#8230; )</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits diatas menunjukkan keterkaitan antara ibadah-ibadah tersebut dengan hilal dan tanggal dibulan Dzulhijjah.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Muhammad Bin sholih al utsaimin pernah ditanya terkait penentuan awal syawal dan Dzulhijjah.</p>
<p style="text-align:right;">سئل الشيخ إبن عثيمين من بعض موظفي سفارة بلاد الحرمين في إحدى الدول : ونحن هنا نعاني بخصوص صيام شهر رمضان المبارك وصيام يوم عرفة ، وقد انقسم الأخوة هناك إلى ثلاثة أقسام</p>
<p style="text-align:right;">قسم يقول : نصوم مع المملكة ونفطر مع المملكة</p>
<p style="text-align:right;">قسم يقول: نصوم مع الدولة التي نحن فيها ونفطر معهم</p>
<p style="text-align:right;">قسم يقول : نصوم مع الدولة التي نحن فيها رمضان ، أما يوم عرفة فمع المملكة</p>
<p style="text-align:right;">وعليه آمل من فضيلتكم الإجابة الشافية والمفصلة لصيام شهر رمضان المبارك ، ويوم عرفة مع الإشارة إلى أن دولة . . . وطوال الخمس سنوات الماضية لم يحدث وأن وافقت المملكة في الصيام لا في شهر رمضان ولا في يوم عرفة ، حيث إنه يبدأ صيام شهر رمضان  بعد إعلانه في المملكة بيوم أو يومين ، وأحيانا ثلاثة أيام</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Syaikh Muhammad bin Sholih ‘Utsamin pernah mendapat pertanyaan dari pegawai kedutaan kerajaan dua tanah haram disalah satu Negara : Kami disini sangat menganggap penting puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat pertama: kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi   Arabia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat kedua: kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ketiga: kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi   Arabia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai puasa bulan Ramadhan dan puasa Hari Arofah. Kami memberikan sedikit informasi bahwa lima tahun belakangan ini, kami tidak pernah bersamaan dengan Saudi Arabia ketika melaksanakan puasa Ramadhan dan puasa Arofah. Biasanya kami di negeri ini memulai puasa Ramadhan dan puasa Arofah setelah pengumuman di Saudi Arabia. Kami biasa telat satu atau dua hari dari Saudi, bahkan terkadang sampai tiga hari. Semoga Allah senantiasa menjaga antum.&#8221;</p>
<p style="text-align:right;">فأجاب</p>
<p style="text-align:right;">اختلف العلماء رحمهم الله فيما إذا رؤي الهلال في مكان من بلاد المسلمين دون غيره ، هل يلزم جميع المسلمين العمل به ، أم لا يلزم إلا من رأوه ومن وافقهم في المطالع ، أو من رأوه ، ومن كان معهم تحت ولاية واحدة ، على أقوال متعددة ، وفيه خلاف آخر</p>
<p style="text-align:right;">والراجح أنه يرجع إلى أهل المعرفة ، فإن اتفقت مطالع الهلال في البلدين صارا كالبلد الواحد ، فإذا رؤي في أحدهما ثبت حكمه في الآخر ، أما إذا اختلفت المطالع فلكل بلد حكم نفسه ، وهذا اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى وهو ظاهر الكتاب والسنة ومقتضى القياس :</p>
<p style="text-align:right;">أما الكتاب فقد قال الله تعالى : ( فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون ) فمفهوم الآية : أن من لم يشهده لم يلزمه الصوم</p>
<p style="text-align:right;">وأما السنة فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم ( إذا رأيتموه فصوموا ، وإذا رأيتموه فأفطروا ) مفهوم الحديث إذا لم نره لم يلزم الصوم ولا الفطر</p>
<p style="text-align:right;">وأما القياس فلأن الإمساك والإفطار يعتبران في كل بلد وحده وما وافقه في المطالع والمغارب ، وهذا محل إجماع ، فترى أهل شرق آسيا يمسكون قبل أهل غربها ويفطرون قبلهم ، لأن الفجر يطلع على أولئك قبل هؤلاء ، وكذلك الشمس تغرب على أولئك قبل هؤلاء ، وإذا كان قد ثبت هذا في الإمساك والإفطار اليومي فليكن كذلك في الصوم والإفطار الشهري ولا فرق</p>
<p style="text-align:right;">ولكن إذا كان البلدان تحت حكم واحد وأَمَرَ حاكمُ البلاد بالصوم ، أو الفطر وجب امتثال أمره ؛ لأن المسألة خلافية ، وحكم الحاكم يرفع الخلاف</p>
<p style="text-align:right;">وبناء على هذا صوموا وأفطروا كما يصوم ويفطر أهل البلد الذي أنتم فيه سواء وافق بلدكم الأصلي أو خالفه ، وكذلك يوم عرفة اتبعوا البلد الذي أنتم فيه</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Syaikh menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat dalam masalah ru’yah hilal apabila di satu negeri kaum muslimin telah melihat hilal sedangkan negeri lain belum melihatnya. Apakah kaum muslimin di negeri lain juga mengikuti hilal tersebut ataukah hilal tersebut hanya berlaku bagi negeri yang melihatnya dan negeri yang satu matholi’ (tempat terbit hilal) dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat yang lebih kuat adalah kembali pada ru’yah hilal di negeri setempat. Jika dua negeri masih satu matholi’ hilal, maka keduanya dianggap sama dalam hilal. Jika di salah satu negeri yang satu matholi’ tadi telah melihat hilal, maka hilalnya berlaku untuk negeri tetangganya tadi. Adapun jika beda matholi’ hilal, maka setiap negeri memiliki hukum masing-masing<strong>. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Pendapat inilah yang lebih bersesuaian dengan Al Qur’an, As Sunnah dan qiyas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalil dari Al Qur’an yaitu firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align:right;">فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Dipahami dari ayat ini, barang siapa yang tidak melihat hilal, maka ia tidak diharuskan untuk puasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dalil dari As Sunnah, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p style="text-align:center;">إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا</p>
<p style="text-align:justify;">“Jika kalian melihat hilal Ramadhan, maka berpuasalah. Jika kalian melihat hilal Syawal, maka berhari rayalah.” (HR. Bukhari no. 1900 dan Muslim no. 1080). Dipahami dari hadits ini, siapa saja yang tidak menyaksikan hilal, maka ia tidak punya kewajiban puasa dan tidak punya keharusan untuk berhari raya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dalil qiyas, mulai berpuasa dan berbuka puasa hanya berlaku untuk negeri itu sendiri dan negeri yang terbit dan tenggelam mataharinya sama. Ini adalah hal yang disepakati. Engkau dapat saksikan bahwa kaum muslimin di negeri timur sana -yaitu Asia-, mulai berpuasa sebelum kaum muslimin yang berada di sebelah barat dunia, begitu pula dengan buka puasanya. Hal ini terjadi karena fajar di negeri timur terbit lebih dulu dari negeri barat. Begitu pula dengan tenggelamnya matahari lebih dulu di negeri timur daripada negeri barat. Jika bisa terjadi perbedaan sehari-hari dalam hal mulai puasa dan berbuka puasa, maka begitu pula hal ini bisa terjadi dalam hal mulai berpuasa di awal bulan dan mulai berhari raya. Keduanya tidak ada bedanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi yang perlu jadi perhatian, jika dua negeri yang sama dalam matholi’ (tempat terbitnya hilal), telah diputuskan oleh masing-masing penguasa untuk mulai puasa atau berhari raya, maka wajib mengikuti keputusan penguasa di negeri masing-masing. Masalah ini adalah masalah khilafiyah, sehingga keputusan penguasalah yang akan menyelesaikan perselisihan yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berdasarkan hal ini, hendaklah kalian berpuasa dan berhari raya sebagaimana puasa dan hari raya yang dilakukan di negeri kalian (yaitu mengikuti keputusan penguasa). Meskipun memulai puasa atau berpuasa berbeda dengan negeri lainnya. Begitu pula dalam masalah puasa Arofah, hendaklah kalian mengikuti penentuan hilal di negeri kalian.&#8221;<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ditempat lain syaikh pernah ditanya tentang perbedaan penentuan hari Arafah karena perbedaan mathla:</p>
<p style="text-align:right;">سئل الشيخ ابن عثيمين عما إذا اختلف يوم عرفة نتيجة لاختلاف المناطق المختلفة في مطالع الهلال فهل نصوم تبع رؤية البلد التي نحن فيها أم نصوم تبع رؤية الحرمين ؟</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Syaikh pernah ditanya tentang perselisihan hari Arafah karena perbedaan berbagai daerah-daerah dalam hal terbitnya Hilal. Apakah kami berpuasa dengan mengikuti rukyah negeri dimana kami berada atau berpuasa mengikuti rukyah negeri dua tanah haram (Arab Saudi, pent)&#8221;</p>
<p style="text-align:right;">فأجاب فضيلته بقوله : هذا يبنى على اختلاف أهل العلم: هل الهلال واحد في الدنيا كلها أم هو يختلف باختلاف المطالع ؟</p>
<p style="text-align:right;">والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع ، فمثلا إذا كان الهلال قد رؤي بمكة ، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع ، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد ، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم ، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة ، هذا هو القول الراجح ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا ) وهؤلاء الذين لم ير في جهتهم لم يكونوا يرونه ، وكما أن الناس بالإجماع يعتبرون طلوع الفجر وغروب الشمس في كل منطقة بحسبها ، فكذلك التوقيت الشهري يكون كالتوقيت اليومي</p>
<p style="text-align:justify;">“Permasalahan ini adalah derivat dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya di Mekkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arofah pada hari ini karena hari ini adalah hari Iedul Adha di negara mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.<a href="#_ftn4">[4]</a><br />
Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “<em>Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya</em>” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)”. <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengikuti Pemerintah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai Ahlussunah, mengikuti pemerintahan dinegeri Muslim merupakan sebuah kewajiban. Salah satu diantaranya adalah penyelenggaraan sholat ied.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini dinukil banyak pendapat dari para Ulama diantaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul islam berkata dalam Aqidah Thahawiyah:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan mereka (ahlus sunnah wal jama’ah) memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh syari’at. Mereka berpendapat untuk menegakkan haji, shalat jum’at, dan hari raya bersama para penguasa, apakah mereka orang-orang baik ataukah orang-orang jelek. Dan berpendapat untuk menegakkan shalat jama’ah, jihad dan menegakkan nasehat untuk umat”.</em><a href="#_ftn6"><em><strong>[6]</strong></em></a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Syaikh Shalih al-Fauzan رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Yang demikian karena tujuan kaum muslimin adalah menyatukan kalimat dan menghindari perpecahan dan perselisihan. Karena penguasa yang fasik tidak lepas dari kedudukannya sebagai penguasa yang harus ditaati dan tidak boleh ditentang, apalagi jika sampai berakibat menelantarkan kewajiban-kewajiban dan menumpahkan darah”</em><a href="#_ftn7"><em><strong>[7]</strong></em></a><em>. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Demikian pula menegakkan hari raya-hari raya bersama para penguasa yang mengimami shalat mereka. Apakah ia orang baik ataukah orang jelek. Dengan jalan yang damai ini, jelaslah bahwa agama Islam ini merupakan jalan tengah di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang-orang yang melalaikan”</em><a href="#_ftn8"><em><strong>[8]</strong></em></a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tempat lain Ibnu Taimiyah menegaskan:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah (dengan cara apapun, pen) tidak akan berbeda dengan orang yang mengikuti pemerintah dengan melihat ru&#8217;yah hilal ; baik sebagai mujtahid yang benar atau (mujtahid) yang salah atau lalai. Sebagaimana telah disebutkan dalam Shahih, bahwa Nabi bersabda tentang para penguasa :</p>
<p>&#8220;Shalatlah bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka&#8221;.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Jadi, kesalahan dan kelalaian pemerintah tidak ditanggung kaum muslimin yang tidak melakukan kelalaian atau kesalahan<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jelaslah bahwa Melaksanakan ied sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia  adalah lebih utama karena dua hal:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: ketetapan pemerintah Indonesia berdasarkan kemunculan Hilal dinegeri ini dengan penetapan yang dikawal oleh ulama yang mendalam ilmunya tentang hilal dan disepakati berbagai ormas Islam. Selain itu kami telah menukil dan menjelaskan terpilihnya pendapat ini sebagai penentuan awal Hilal Dzulhijjah berdasarkan Alqur’an dan Sunnah serta Fatwa para Ulama</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua: Sebagai Rakyat muslim yang memiliki pemimpin Muslim, maka mengikuti titah pemimpin adalah sesuai dengan Prinsip-prinsip pokok Aqidah Ahlussunnah Waljamaah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekalipun begitu, tidak layak bagi pemeluk agama Islam untuk berselisih dan melakukan hal-hal yang kontraproduktif bagi persatuan kaum muslimin. Hal ini karena masalah penentuan hilal baik syawal maupun Dzulhijjah adalah ikhtilaf yang <em>mu’tabar</em> diantara para Ulama.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Imam turmudzi mengatakan: ”Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan mengatakan,’Maksud hadits ini adalah puasa dan hari raya hendaknya dilakukan bersama jama’ah dan mayoritas manusia ”. (Lihat Tamamul Minnah, I/399, Al Maktabah Al Islamiyyah). jadi bisa dikatakan maksudnya adalah hari dimana mayoritas orang berbuka atau menyembelih. Allahu a’lam</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Majmu’ Fatâwa Jilid 25/202</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin</em><em>,</em> 19/24-25, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H]</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Sebagian orang berpendapat untuk hanya mengambil kemunculan hilal di Mekkah Saudi Arabia dengan menyandarkan pada Fatwa tegas Syaikh Utsaimin yang terlihat kontradiktif dengan dua fatwa diatas. Beliau pernah ditanya dalam Fatwa nurun ala al darbi tentang Zakat dan Puasa:</p>
<p style="text-align:right;">السؤال: حسين محمود أردني يدرس الطب في كراتشي بالباكستان يقول ما حكم الاختلاف في رؤية هلال رمضان أو هلال شوال بين بلدان المسلمين وكيف يفعل المسلم إذا حصل اختلاف قد يصل إلي يومين بزيادة أو نقصاً فمن بدأ الصيام مثلاً في بلد متأخر بيومين ثم صادف في نهاية الشهر أن سافر إلي بلد آخر كان متقدماً في الصيام وعلى هذا فسيكون العيد عندهم مبكراً فماذا يفعل هذا القادم <strong>وما الحكم إن كان الفرق أيضاً في رؤية هلال ذي حجة فيكف يكون الحكم والعمل بالنسبة ليوم عرفة وما قبله وما بعده</strong><strong> </strong></p>
<p>Beliau menjawab panjang lebar dan untuk masalah hilal dzulhijjah beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">أما بالنسبة لرؤية هلال ذي الحجة فإن المعتبر بلا شك البلد التي فيها إقامة المناسك فإذا ثبت الهلال فيها عمل به ولا عبرة ببقية البلدان وذلك بأن الحج مخصوص بمكان معين <strong>لا يتعداه</strong> فمتى ثبت رؤية ذي الحجة في ذلك المكان وما ينسب إليه فإنه يثبت الحكم حتى لو خالفه بقية الأقطار</p>
<p>Adapun terkait ru’yah hilal Dzulhijjah maka yang dianggap tanpa keraguan adalah negeri dimana ditegakkan Manasik. Adapun rukyah dinegeri-negeri lain tidak perlu dianggap. Hal itu karena haji itu khusus ditempat tertentu dan tidak diperselisihkan. Kapanpun ada ketetapan terlihatnya hilal Dzulhijjah pada termpat tersebut atau yang dekat dengan tempat tersebut, maka terjadilah ketetapan hukum sekalipun berbeda dengan tempat-tempat lain diberbagai penjuru. (http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1960.shtml)</p>
<p>Akan terlihat samar jika kita tidak meneliti dan memperhatikan jawaban yang diutarakan syaikh Utsaimin. Namun dengan penelitian lebih lanjut jelaslah bahwa yang dimaksud Syaikh utsaimin adalah hal-hal yang terkait dengan ibadah haji seperti wukuf, melontar Jumrah, dll. Hal ini bisa kita simpulkan dari ketegasan syaikh utsaimin dengan mengatakan tidak ada perselisihan dalam hal tersebut (لا يتعداه). Kalaulah yang dimaksud adalah penentuan awal hilal Dzulhijjah, maka hal tersebut adalah hal yang umum bagi para thalibul ilmi apalagi ulama sekaliber Syaikh utsaimin untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan tajam diantara Ulama dulu dan sekarang. Allahu a’lam</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Majmu Fatawa wa Rosail Fadhilah al Syeikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin </em><em>jilid 20 halaman 47-</em>48, cetakan Dar al Tsuraya Riyadh, cetakan kedua tahun 1426 H.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a>Aqidah Washitiyyah, terdapat dalam Majmu’ Fatâwa 3/158</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Syarh Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Shalih Fauzan, hal. 216</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8"><em><strong>[8]</strong></em></a><em> </em><em>Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 336</em><em> </em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Hadits Riwayat bukhari: Kitab Adzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Majmu Fatâwa  25/206</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fatwa/'>Fatwa</a>, <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/703/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=703&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/11/10/kapan-iedul-adha-ikut-pemerintah-atau-saudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/11/hilal.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Hilal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JIka Wanita Haidh Suci sesaat sebelum Matahari Terbenam?</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/11/08/jika-wanita-haidh-suci-sesaat-sebelum-matahari-terbenam/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/11/08/jika-wanita-haidh-suci-sesaat-sebelum-matahari-terbenam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 07:57:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan merupakan hamba yang banyak melewatkan waktu sholat karena beberapa halangan Syar’I terutama haidh dan Nifas. Pembahasan berikut adalah sebuah permasalah pelik jika seorang wanita mendapati dirinya telah suci dari haidh hanya seukuran satu rakaat sebelum waktu itu berakhir. Apakah dia wajib Mengqadhanya? Dan bagaimanakah status sholat yang bisa dijama? Apakah dia wajib mengqadha keduanya? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=694&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/11/sunset_10.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-696" title="sunset_10" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/11/sunset_10.png?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Perempuan merupakan hamba yang banyak melewatkan waktu sholat karena beberapa halangan Syar’I terutama haidh dan Nifas. Pembahasan berikut adalah sebuah permasalah pelik jika seorang wanita mendapati dirinya telah suci dari haidh hanya seukuran satu rakaat sebelum waktu itu berakhir. Apakah dia wajib Mengqadhanya? <span id="more-694"></span>Dan bagaimanakah status sholat yang bisa dijama? Apakah dia wajib mengqadha keduanya?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat Ibnu Taimiyah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;">أن المواقيت لأهل الأعذار ثلاثة ولغيرهم خمسة فإن الله تعالى قال: { أقم الصلاة طرفي النهار وزلفا من الليل } فذكر ثلاثة مواقيت والطرف الثاني يتناول الظهر والعصر والزلف يتناول المغرب والعشاء وكذلك قال: { أقم الصلاة لدلوك الشمس إلى غسق الليل } والدلوك هو الزوال في أصح القولين يقال: دلكت الشمس وزالت وزاغت ومالت فذكر الدلوك والغسق وبعد الدلوك يصلى الظهر والعصر وفي الغسق تصلى المغرب والعشاء ذكر أول الوقت وهو الدلوك وآخر الوقت وهو الغسق والغسق اجتماع الليل وظلمته</p>
<p style="text-align:right;">ولهذا قال الصحابة كعبد الرحمن بن عوف وغيره: إن المرأة الحائض إذا طهرت قبل طلوع الفجر صلت المغرب والعشاء وإذا طهرت قبل غروب الشمس صلت الظهر والعصر وهذا مذهب جمهور الفقهاء كمالك والشافعي وأحمد</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwasanya waktu-waktu bagi orang yang ber-udzur ada tiga dan untuk selain mereka ada lima.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">أقم الصلاة طرفي النهار وزلفا من الليل</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam</em> (QS: Huud ayat 114)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah telah menyebutkan 3 waktu. Tepi siang yang kedua mencakup dzhur dan Ashar sedangkan kata az Zulaf mencakup Maghrib dan Isya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah juga berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">أقم الصلاة لدلوك الشمس إلى غسق الليل</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam </em>(QS: al Isrâ ayat 78)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>al Duluk</em> adalah <em>al Zawal</em> ( tergelincir) menurut pendapat tersohih diantara dua pendapat yang ada. Dalam bahasa arab bisa dikatakan :</p>
<p style="text-align:center;">دلكت الشمس وزالت وزاغت ومالت</p>
<p style="text-align:justify;">Allah menyebutkan istilah <em>al dulûk</em> dan <em>al ghasaq</em>. Setelah duluk ( tergelincir matahari) adalah waktu sholat dzuhur dan Ashar, sedangkan setelah <em>ghasaq</em> adalah waktu sholat maghrib dan Isya. Allah menyebutkan Awal waktu dengan istilah <em>dulûk</em> dan dan akhir waktu dengan istilah <em>ghasaq. </em>Makna<em> ghasaq</em> adalah berkumpulnya antara malam dengan gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah alasan perkataan sahabat-seperti Abdurrahman bin Auf dan lainnya<a href="#_ftn1">[1]</a>-: <strong>Sesungguhnya perempuan haidh yang suci sebelum terbit Fajar, maka dia sholat maghrib dan Isya, Jika Ia suci sebelum terbenam matahari, maka dia sholat Dzuhur dan Ashar. Inilah Mazhab jumhur Fuqaha seperti Malik, syafii, dan Ahmad</strong>.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatian: Ibnu Taimiyah menyebutkan pendapat tersebut secara berulang-ulang<a href="#_ftn3">[3]</a>, namun beliau tidak menegaskan pendapat pribadi beliau. Sekalipun demikian sepertinya beliau mendukung pendapat tersebut karena mendesaknya hajat ummat terhadap permasalahan tersebut dan juga beliau telah menetapkan adanya atsar dari sahabat. Allahu a’lam</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ibnu Taimiyah ini juga disinggung oleh banya ulama diantaranya:<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat Ibnu Qudamah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Kitab al Mughni (II/46) :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>119. Permasalahan</strong>: Jika seorang perempuan suci dari haidnya, orang kafir masuk Islam, dan anak kecil mencapai baligh sebelum matahari terbenam maka ia sholat Dzuhur kemudian Ashar.  dan jika anak kecil mencapai baligh, orang kafir masuk Islam, dan permpuan  suci dari haidnya sebelum terbit Fajar maka Ia sholat maghrib dan Isya yang akhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat seperti ini diriwayatkan terkait orang haidh yang telah suci dari Abdurrahman bin Auf, ibnu Abbas, Thawus, Mujahid, an Nakhai, zuhri,  Rabiah, Malik, al laits, As Syafii, Ishaq, dan Abu Tsaur. Imam Ahmad berkata: kebanyakan tabiin berpendapat seperti ini kecuali Hasan seorang diri. Dia berkata: tidakw ajib kecuali sholat yang didapati ketika suci saja. Ini juga bendapat (sufyan ) atsauri dan ahli ra’yi karena waktu yang pertama telah keluar ketika dia sedang berudzur maka tidak wajib seperti jika ia mendapatkan sedikit dari waktu sholat yang kedua. Dihikayatkan dari Malik jika seseorang mendapatkan waktu sekitar lima rakaat dari waktu yang kedua, maka wajib untuk menunaikan yang pertama karena ukuran rakaat yang pertama dari  lima rakaat  tersebut adalah waktu untuk sholat yang pertama ketika udzur maka wajib dengan mendapatkannya seperti itu juga jika seseorang mendapatkan rakaat tersebut diwaktu ikhtiar. Berbeda kalau Ia mendapatkan waktu denga ukuran kurang dari itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal itu karena ada riwayat dari al Astram, Ibnul Mundzir, dan lain-lain dengan sanadnya sampai kepada Abdurrahman bi Auf dan Abdullah bin Abbas bahwa mereka berdua  pernah berfatwa tentang Seorang perempuan haidh yang suci sebelum seukuran satu rakaat sebelum terbit fajar (subuh,red): “Dia harus sholat maghrib dan isya, dan kalau Ia suci sebelum matahari terbenam maka ia harus sholat dzhuhur dan Ashar. Hal itu karena waktu kedua dan pertama adalah satu waktu dalam keadaan udzur. Kalau dia masih mendapatkan kesempatan diwaktu udzur tersebut, maka ia wajib menunaikannya sebagaimana ia wajib menunaikan kewajiban yang kedua.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz </strong></p>
<p style="text-align:right;">إذا طهرت الحائض أو النفساء قبل غروب الشمس وجب عليها أن تصلي الظهر والعصر في أصح قولي العلماء، وهكذا إذا طهرت قبل طلوع الفجر وجب عليها أن تصلي المغرب والعشاء.</p>
<p style="text-align:right;">وقد روي ذلك عن عبد الرحمن بن عوف، وعبد الله بن عباس رضي الله عنهما، وهو قول جمهور أهل العلم.</p>
<p style="text-align:right;">وهكذا لو طهرت الحائض والنفساء قبل طلوع الشمس وجب عليها أن تصلي صلاة الفجر.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika seorang perempuan haidh atau nifas suci sebelum terbenamnya matahari maka wajib menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar berdasarkan pendapat ulama yang paling sohih. Begitupula jika Ia Suci sebelum terbitnya Fajar, maka wajib menunaikan Sholat maghrib dan Isya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Lajnah Daimah</strong></p>
<p style="text-align:right;">وجاء في فتاوى اللجنة الدائمة للإفتاء (6/158) : &#8221; إذا طهرت المرأة من الحيض أو النفاس قبل خروج وقت الصلاة الضروري لزمتها تلك الصلاة وما يجمع إليها قبلها ، فمن طهرت قبل غروب الشمس لزمتها صلاة العصر والظهر، ومن طهرت قبل طلوع الفجر الثاني لزمتها صلاة العشاء والمغرب ، ومن طهرت قبل طلوع الشمس لزمتها صلاة الفجر</p>
<p style="text-align:justify;">JIka seorang perempuan haidh atau nifas suci sebelum keluarnya waktu sholat yang darurat maka dia harus menunaikan Sholat tersebut dan sholat sebelumnya yang bisa dijama’. Kalau ia suci sebelum terbenamnya matahari maka dia harus menunaikan Sholat Ashar dan Dzuhur. Kalau ia suci sebelum terbit fajar yang kedua maka wajib menunaikan sholat Isya dan Maghrib. Kalau ia Suci sebelum terbit matahari maka wajib menunaikan sholat Fajar (subuh, red)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau memiliki pendapat berbeda dengan mayoritas ulama ketika mensyarah kitab <em>Zâdul Mustaqni’</em></p>
<p style="text-align:right;">وَمَا يُجْمَعُ إِلَيْهَا قَبْلَها &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align:right;">قوله: «وَمَا يُجْمَعُ إلَيْهَا قَبْلَها» ، أي: ولزمه ما يُجمع إليها قبلها، مثال ذلك: إذا أدرك من وقت صلاة العصر قَدْر ركعة أو قَدْرَ التَّحريمة لزمته صلاة العصر، ولزمته صلاة الظُّهر أيضاً، وإن أدرك ذلك من وقت صلاة العشاء لزمته صلاة العشاء وصلاة المغرب أيضاً، وإن أدرك ذلك من وقت صلاة الفجر لا يلزمه إلا الفجر؛ لأنها لا تُجمع إلى ما قبلها</p>
<p style="text-align:right;">فإن قيل: ما وجه وجوب صلاة الظُّهر في المثال الأوَّل؛ وصلاة المغرب في المثال الثَّاني؟</p>
<p style="text-align:right;">فالجواب: الأثرُ، والنَّظرُ</p>
<p style="text-align:right;">أما الأثر: فإنَّه رُوي ذلك عن ابن عباس وعبد الرحمن بن عوف رضي الله عنهم</p>
<p style="text-align:right;">وأما النَّظر: فلأن وقت الصَّلاة الثانية وقت للأولى عند العُذر الذي يُبيح الجمع، فلما كان وقتاً لها عند العُذر صار إدراك جُزء منه كإدراك جزء من الوقتين جميعاً، وهذا هو المشهور من المذهب</p>
<p style="text-align:right;">وقال بعض أهل العلم: إنه لا يلزمه إلا الصَّلاة التي أدرك وقتها فقط، فأما ما قبلها فلا يلزمه. وهو القول الرَّاجح. واحتجوا بالأثر والنَّظر.</p>
<p style="text-align:right;">أما الأثر: فقول الرَّسول عليه الصَّلاة والسَّلام: «من أدرك ركعةً من الصَّلاة فقد أدرك الصَّلاة. و«أل» في قوله: «الصَّلاة» للعهد، أي: أدرك الصَّلاة التي أدرك من وقتها ركعة، وأما الصَّلاة التي قبلها فلم يدرك شيئاً من وقتها، وقد مَرَّ به وقتها كاملاً، وهو ليس أهلاً للوجوب فكيف نلزمه بقضائها؟</p>
<p style="text-align:right;">وقوله صلّى الله عليه وسلّم: «من أدرك ركعة من العصر قبل أن تغرب الشمس فقد أدرك العصر، ولم يذكر وجوب قضاء الظُّهر</p>
<p style="text-align:right;">وأما النَّظر فقالوا: إن هذا مُقتضى القياس الصَّحيح؛ لأننا متَّفقون على أنه لو أدرك ركعةً من صلاة الظُّهر ثم وُجِدَ مانعُ التكليف، لم يلزمه إلا قضاء الظُّهر فقط، مع أن وقت الظُّهر وقتٌ للظُّهر والعصر عند العُذر والجمع، فما الفرق بين المسألتين؟! كلتاهما أتى عليه وقت إحدى الصَّلاتين وهو ليس أهلاً للتكليف، لكن في المسألة الأولى مَرَّ عليه وقت الصَّلاة الأُولى، وفي المسألة الثانية مَرَّ عليه وقت الصَّلاة الثانية، فأنتم إما أن تُلزموه بالقضاء في المسألتين، كما قال به بعض العلماء، وإما ألا تُلزموه فيهما كما قاله أيضاً آخرون  ، أمَّا أن تُفرِّقوا فلا وجه لذلك.</p>
<p style="text-align:right;">فإن قالوا: فَرَّقنا بناءً على الأثر الوارد عن الصَّحابة، فالجواب: الأثر الوارد عن الصَّحابة يُحمل ـ إن صَحَّ ـ على سبيل الاحتياط فقط؛ خوفاً من أن يكون المانعُ قد زال قبل أن يخرج وقت الأُولى، ولا سيما الحيض، فإن الحيض قد لا تعلم المرأة بطُهْرِها إلا بعد مُدَّة من طهارتها</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Mushannif :  وَمَا يُجْمَعُ إلَيْهَا قَبْلَها</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Wajib menunaikan sholat sebelumnya yang bisa dijama dengan sholat sesudahnya. Contoh: jika seseorang mendapati sekedar satu rakaat Waktu sholat ashar atau sekedar waktu tahrim maka wajib menunaikan sholat Ashar dan juga Dzuhur. Kalau terjadi seperti itu pada Sholat isya<a href="#_ftn4">[4]</a>, maka wajib menunaikan sholat isya dan maghrib. Dan kalau mendapatkan waktu sholat fajar maka hanya wajib sholat fajar saja karena tidak bisa dijama dengan waktu sholat sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau dikatakan: apa dasar kewajiban menunaikan sholat dzuhur pada contoh yang pertama dan Sholat maghrib pada contoh yang kedua?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabanya adalah : <em>Atsar</em> dan <em>nadzar<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">dari sisi atsar: telah diriwayatkan dari ibnu Ibnu Abbas dan Abdurrahman bin Auf <em>Radhiyallau anhum</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi nadzar: Waktu sholat yang kedua adalah waktu untuk sholat pertama ketika udzur yang membolehkan Jama’. Dengan alasan waktu sholat yang pertama adalah juga waktu untuk sholat kedua, maka mendapatkan sebagian waktunya sama halnya dengan mendapatkan waktu kedua sholat tersebut. Ini telah masyhur dalam pendpat mazhab-mazhab.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian ahli ilmu berkata: sesungguhnya tidak ditunaikan kecuali hanya sholat yang didapatkan waktunya saja. Adapun sholat yang sebelumnya tidak wajib ditunaikn. Inilah pendapat yang <em>rajih</em><a href="#_ftn6">[6]</a><em>. </em> Mereka berhujjah dengan Atsar dan nadzar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi atsar adalah sabda Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam :</p>
<p style="text-align:center;">من أدرك ركعةً من الصَّلاة فقد أدرك الصَّلاة</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Siapa yang mendapatkan satu rakaat dari sholat maka ia telah mendapatkan sholat</em><a href="#_ftn7"><em><strong>[7]</strong></em></a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">«أل» pada kata «الصَّلاة» adalah <em>lil ahdi </em> yang berarti orang tersebut dianggap telah mendapatkan sholat dari sholat yang waktunya telah ia dapatkan seukuran  satu rakaat. Adapun sholat sebelumnya maka tentu dia sama sekali tidak mendapati waktunya dan waktunya juga telah lewat oleh karena itu dia bukanlah orang yang mendapat kewajiban untuk menunaikannya, lalu kenapa kita mewajibkan orang tersebut untuk menunaikannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Sabda Rasulullah shallallâhu alaihi Wasallam:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">من أدرك ركعة من العصر قبل أن تغرب الشمس فقد أدرك العصر<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalat Ashar sebelum terbenamnya matahari, maka sungguh dia telah mendapati shalat Ashar<a href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits tersebut Rasulullah tidak mewajibkan menunaikan sholat dzuhur.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi nadzar mereka mengatakan: sesungguh hal in adalah tuntutan Qiyas yang sohih, karena kita sepakat bahwa seseorang yang mendapatkan satu rakaat sholat dzuhur kemudian datang penghalang taklif,  maka dia tidak diwajibkan apapun kecuali dzuhur saja. Padahal waktu dzuhur adalah untuk zuhur dan Ashar ketika udzur dan jama. Apa perbedaan antara dua masalah ini? Keduanya mendatangkan sholat disalah satu dari dua waktu sholat dan dalam keadaan tidak menanggung. Tapi pada masalah yang pertama adalah waktu sholat pertama telah lewat dan pada masalah yang kedua terlewat sholat yang kedua<a href="#_ftn9">[9]</a>. Kalian punya pilihan untuk wajib Menunaikan dua sholat tersebut dalam dua masalah diatas sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama atau tidak mewajibkan keduanya sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama lain. Adapun memisah-misahkannya, maka tidak ada pendapat seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau mereka mengatakan: kita pisahkan saja berdasarkan atsar dari sahabat, maka jawabannya adalah Atsar sahabat tersebut –kalau benar-diamalkan untuk berhati-hati saja karena khawatir penghalang tersebut telah hilang sebelum keluar waktu yang pertama, Apalagi dalam kasus Haidh. Karena kadang-kadang perempuan tidak mengetahui dia telah suci kecuali setelah beberapa saat.<a href="#_ftn10">[10]</a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Terjadi perselisihan tentang wajib tidaknya menunaikan sholat yang telah lewat waktunya bagi perempuan yang mendapati kesempatan untuk sholat satu rakaat diwaktu yang kedua pada sholat yang bisa dijama’. Pendapat paling selamat dan hati-hati adalah pendapat Jumhur berdasarkan atsar dari para sahabat dan riwayat dari kebanyakan tabiin yang telah ditetapkan oleh para Ulama dan juga tafsir dari Alqur’an sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah. Lagipula kebenaran biasanya berada bersama jumhur. Allahu a’lam</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Dinukil juga pendapat ibnu Abbas mengenai hal ini</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Majmû Fatâwa : 24/25</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Majmû Fatâwa : 23/334</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Mendapat waktu sekedar satu rakaat sebelum terbitnya fajar shadiq, red</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Imam Haramain dalam Waraqat mengatakan : وَالنَّظَرُ : هُوَ الْفِكْرُ فِي حَالِ الْمَنْظُورِ فِيهِ<br />
nadzar adalah berpikir tentang sebuah objek yang diteliti</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Inilah pendapat syaikh utsaimin dalam permasalahan ini yang menyelisihi pendapat mayoritas.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lebih jelas sabda Rasulullah:</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ وَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرِبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, maka sungguh dia telah mendapati shalat Shubuh. Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalt Ashar sebelum terbenamnya matahari, maka sungguh dia telah mendapati shalat Ashar.”</em> (Muttafaq `alaih)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> ibid</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Yakni dia tidak sempat melaksanakan sholat yang kedua karena datang halangan diwaktu pertama terus menerus hingga waktu sholat kedua berakhir.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Kitab sholat Syarh al mumthi ala Zâd al Mustaqni jilid II</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fatwa/'>Fatwa</a>, <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/694/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=694&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/11/08/jika-wanita-haidh-suci-sesaat-sebelum-matahari-terbenam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/11/sunset_10.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sunset_10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fitnah Tajsim</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/21/fitnah-tajsim/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/21/fitnah-tajsim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 10:57:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda? Jika anda jawab “yah” maka anda belum tentu benar. Jika anda jawab “tidak”  Maka anda kemungkinan salah. Loh kok. Mumet…. Bingung??? Apa itu Jism? Pendapat ahli bahasa Ibnu Mandzur berkata: الجِسْمُ: جماعة البَدَنِ أَو الأَعضاء من الناس والإِبل والدواب وغيرهم من الأَنواع العظيمة Aljismu: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=663&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/09/materi.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-664" title="materi" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/09/materi.png?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda jawab “yah” maka anda belum tentu benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda jawab “tidak”  Maka anda kemungkinan salah.</p>
<p style="text-align:justify;">Loh kok. Mumet…. Bingung???</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Apa itu Jism?<span id="more-663"></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat ahli bahasa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Mandzur berkata:</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> الجِسْمُ: جماعة البَدَنِ أَو الأَعضاء من الناس والإِبل والدواب وغيرهم من الأَنواع العظيمة</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aljismu</em>: kumpulan dari badan atau anggota-anggota seorang manusia, onta, binatang berkaki empat, dan lain-lain yang merupakan bagian yang makhluk yang besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli bahasa hanya menggunakan istilah Jism untuk sesuatu yang berat dan padat, mereka tidak menamakan udara sebagai jism dan jasad lain halnya dengan tubuh manusia yang jelas mereka sebut sebagai jism. Pandangan ahli bahasa tentang Jism sesuai dengan firman Allah taala:</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> وإذا رأيتهم تعجبك أجسامهم </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>Dan apabila kamu melihat mereka, <strong>tubuh-tubuh</strong> mereka menjadikan kamu kagum</em>. (QS al Munâfiqûn:4)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ayat lain Allah berfirman</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>وزاده بسطة في العلم والجسم</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan<strong> tubuh</strong> yang perkasa</em>.(QS albaqarah:247)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat ahli filsafat dan Mutakallimin.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyah berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun ahli kalam dan para  filosof  berselisih tentang makna Jism: Sebagian dari mereka mengatakan bahwa Jism itu adalah sesuatu yang eksis, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang berdiri sendiri, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari atom, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari materi dan gambaran, sebagian lagi mengatakan bahwa bahwa jism adalah sesuatu yang bisa ditunjuk dengan isyarat indra, sebagian lagi mengatakan bahwa jism itu tidak tersusun dari apapun tapi ia justeru yang ditunjuk<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang didefinisikan oleh para mutakallimin dan ahli filsafat sama sekali tidak dikenal  dalam bahasa arab baik dalam kitab-kitab maupun syair-syair mereka. Ruh sekalipun ditunjuk, turun, dan naik serta berdiri sendiri namun tidak dinamakan sebagai jism oleh ahli bahasa oleh karena itu mereka menyebutkan istilah jism dan ruh. Disini bisa kita ketahui bahwa “dan” disini berkonsekwensi perbedaan makna (<em>mughayarah</em>).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Teka-teki</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi manakah yang anda pilih ketika menjawab yah atau tidak?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika dinafikan, lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa jism itu sesuatu yang bisa ditunjuk, padahal Ahlusunnah dan juga Asyairah beriman bahwa Allah bisa dilihat disyurga. Padahal sesuatu yang dilihat dengan mata adalah sesuatu yang ditunjuki dengan indra.?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika dikatakan Allah adalah jism, lalu bagaimana dengan pendapat ahli bahasa yang mengatakan bahwa tubuh dan anggota-anggotanya adalah jism<a href="#_ftn2">[2]</a>?</p>
<p style="text-align:justify;">Bingungkah anda?</p>
<p style="text-align:justify;">Disinilah perlunya memahami sesuatu secara kompleks dan mendetail.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyah berkata:</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>أما الكلام في الجسم والجوهر ونفيهما أو إثباتهما , فبدعةٌ</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>ليس لها أصلٌ في كتاب الله ولا سنة رسوله</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> ولا تكلم أحدٌ من الأئمة والسلف بذلك نفياً ولا إثباتاً . انتهى</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Adapun pembicaraan tentang jism dan jawhar serta penafian dan penetapannya merupakan kebidahan yang tidak memiliki asal dari kitab Allah dan sunnah rasulnya serta tidak pernah dibicarakan oleh seorangpun dari para imam-imam Salaf dengan menafikannya atau menetapkannya</em>.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tempat lain beliau mengatakan</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>وأما القول الثالث : فهو القول الثابت عن أئمة السنة المحضة</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>كالإمام أحمد ومَنْ دونه , فلا يطلقون لفظ الجسم لا نفياً ولا إثباتاً , لوجهين :</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>أحدهما : أنه ليس مأثوراً , لا في كتاب ولا سنة ,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>ولا أثر عن أحد من الصحابة والتابعين لهم بإحسان , ولا غيرهم من أئمة المسلمين ,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>فصار من البدع المذمومة .</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>الثاني : أن معناه يدخل فيه حق وباطل ,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>والذين أثبتوه أدخلوا فيه من النقص والتمثيل ما هو باطل ,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>والذين نفوه أدخلوا فيه من التعطيل والتحريف ما هو باطل . انتهى</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan adapun pendapat yang ketiga: itulah pendapat yang tetap dari para imam Sunnah yang murni. Seperti Imam Ahmad dan selainnya. Mereka tidak memutlakkan lafadz jism baik dalam penafian maupun penetapan karena dua hal.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama: hal tersebut tidak ma’tsur baik dalam qur’an, sunnah, maupun atsar sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Tidak juga dari para imam kaum musllimin yang lain. Maka jadilah hal tersebut sebagai bid’ah yang tercela. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua: maknanya yang bisa jadi haq maupun batil. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Orang-orang yang menetapkannya [secara mutlak] bisa masuk dalam penjelekkan dan penyerupaan yang merupakan kebathilan.<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sedangkan orang yang menafikannya [secara mutlak] bisa masuk dalam ta’thil dan tahrif yang merupakan kebatilan</em>.<a href="#_ftn5">[5]</a> <a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Kesimpulan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Lafadz <em>jism</em> terkait sifat Allah adalah lafadz yang Muhtamil serta sebuah bahasan muhdats yang diada-adakan oleh para filosof dan Mutakallimun. Sebagai Ahlissunnah kita harus menghindarinya. Jika kita ditanya tentang hal ini maka Ibnu Taimiyah memberikan Jalan keluar dengan perkataannya:</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>فيقال لمن سأل بلفظ الجسم : ما تعني بقولك ؟</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>أتعني بذلك أنه من جنس شيء من المخلوقات ؟</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>فإن عنيتَ ذلك , فالله قد بيَّنَ في كتابه أنه لا مثل له , ولا كفوَ له , ولا نِدَّ له ؛</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>وقال : ( أفمن يخلق كمن لا يخلق )</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>فالقرءان يدل على أن الله لا يماثله شيء , لا في ذاته ولا صفاته ولا أفعاله ,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>فإن كنتَ تريد بلفظ الجسم ما يتضمن مماثلة الله لشيء من المخلوقات ,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>فجوابك في القرءان والسنة . انتهى</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka direspon bagi siapapun yang bertanya dengan lafadz jism: apa yang anda maksud? Apakah yang anda maksud adalah bahwa Dia termasuk jenis dari makhluknya?  Kalau jelas begitu maksudnya, maka Allah telah menjelaskan didalam kitabnya bahwa Dia tidak serupa,setara, dan tidak bersekutu dengan apapun. Allah berfirman: Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. (QS al Nahl:17). Al Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai oleh apapun baik  zat, sifat, maupun perbuatannya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kalau yang engkau maksud dengan lafadz Jism mengandung penyerupaan Allah dengan makhluknya, maka jawaban untukmu ada didalan Alqur’an dan Sunnah</em>.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya beliau menegaskan:<br />
<span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>ولهذا اتفق السلف والأئمة على الإنكار على المشبهة الذين يقولون</strong></span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>بصر كبصري , ويدٌ كيدي , وقدم كقدمي . انتهى</strong></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Oleh karena itu Salaf telah bersepakat untuk mengingkari Musyabbihah yang mengatakan penglihatan [Allah] seperti penglihatanku, tangan [Allah] seperti tanganku, kaki [Allah] seperti kakiku</em>.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Disini Ahlussunnah dan salaf tidak membicarakan penafian maupun penetapan jism pada Allah, begitu juga lafadz-lafadz lain yang tidak terdapat dalam al Qur’an maupun Sunnah seperti arah dan tahayyuz dan semisalnya. Tetapi Ahlussunnah menyifatkan Allah Taala sesuai dengan apa yang Ia Sifatkan bagi dirinya dalam alQur’an dan apa yang disifatkan oleh Rasulnya. Mereka tidak melangkahi alQur’an dan Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al Barbahari berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak membicarakan rabb kecuali sesuai dengan apa yang Ia sifatkan bagi dirinya Ajja Wajalla dalam Qur’an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah untuk para sahabatnya.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga menjelaskan bahwa lafadz-lafadz bid’ah tersebut adalah sumber bid’ah:</p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah! Semoga Allah memuliakanmu! Kalau saja manusia menahan diri dalam perkara-perkara muhdats, tidak melangkah lebih jauh, dan tidak melahirkan kalimat-kalimat yang tidak pernah datang dari atsar Rasulullah juga sahabatnya,maka niscaya tidak akan ada kebid’ahan<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Al Hafidz Abdul Ghani al Maqdisi Rahimahullah menyetujui kaidah seperti ini dengan mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">“Termasuk Sunnah yang tetap adalah diam dari sesuatu yang tidak datang nashnya dari Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam atau yang telah disepakati oleh kaum muslimin untuk memutlakkannya dan meninggalkan perselisihan dalam penafian dan penetapannya. Begitu juga pada perkara yang hanya bisa ditetapkan dengan nash Syari’,dan juga pada perkara yang hanya bisa dinafikan dengan dalil Sami’ <a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan dan nukilan Ibnu taimiyah juga menjadi bukti bahwa beliau bukanlah seorang mujassimah, Justeru ketika Asyairah membatasi bahwa <em>jism</em> itu adalah satu hal, ternyata ibnu taimiyah telah merinci dan menyikapi lafadz jism dari berbagai isu yang beredar tentang <em>jism</em> menurut berbagai firqah dan mengambil solusi yang wasath.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Majmû’ Fatâwa Syaikhul islam Ibnu Taimiyah III/32</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Sekte karamiyah merupakan golongan Mujassimah yang berkeyakinan Allah adalah Jism dalam artian bertubuh dan bertulang. wal iyadzubillah</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Dar ut taahrudh al aql wan naql 4/146</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Kalau kita mengatakan Allah jism maka bisa jadi kita akan seperti karamiyah yang menetapkan bahwa Allah adalah seperti tubuh yang terdiri dari tulang dan daging. Waliyadzubillah</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ada yang berpendapat bahwa jism itu yang ditunjuk padahal sesuatu yang terlihat itu adalah sesuatu yang ditunjuki oleh indra. Dengan menafikannya secara mutlak maka bisa jadi kita seperti mu’tazilah yang tidak mengimani bahwa kita bisa melihat Allah diakhirat kelak.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> Minhajussunnah Nabawiyyah I/204</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/307</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/309</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> Syarhussunnah hal. 69</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> Syarhussunnah hal. 105</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> Aqâid Aimmatusshalaf hal 132</p>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/663/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=663&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/21/fitnah-tajsim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>70</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/09/materi.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">materi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengakhiri kontroversi Qunut Subuh</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/08/mengakhiri-kontroversi-qunut-subuh/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/08/mengakhiri-kontroversi-qunut-subuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 06:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=640</guid>
		<description><![CDATA[Apakah senantiasa berqunut subuh adalah Sunnah?  Siapakah yang mengatakan bahwa qunut termasuk Sunnah Aba’d yang ditambal dengan sujud [sahwi,pent] dan yang tidak menambalnya berarti kurang. Apakah hadits: “Rasulullah Senantiasa berqunut hingga berpisah dengan dunia” termasuk hadits Sohih? Apakah hadits tersebut terkait qunut tersebut? Bagaimana pendapat Ulama tentang hal tersebut? Bagaimana hujjah mereka masing-masing? Jika ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=640&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/09/diversity.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-641" title="diversity" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/09/diversity.png?w=275&#038;h=300" alt="" width="275" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Apakah senantiasa berqunut subuh adalah Sunnah?  Siapakah yang mengatakan bahwa qunut termasuk Sunnah Aba’d yang ditambal dengan sujud [sahwi,pent] dan yang tidak menambalnya berarti kurang.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah hadits: <em>“Rasulullah Senantiasa berqunut hingga berpisah dengan dunia</em>” termasuk hadits Sohih? Apakah hadits tersebut terkait qunut tersebut? Bagaimana pendapat Ulama tentang hal tersebut? <span id="more-640"></span>Bagaimana hujjah mereka masing-masing? Jika ingin melakukan qunut nazilah apakah boleh berdoa dengan apapun yang ia inginkan?.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Segala Puji bagi Rabb semesta alam.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Telah tetap dalam sohih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam : “<em>bahwasanya beliau berqunut selama Sebulan mengutuk bani ri’lin, dzakwan, dan </em><em>Ushayyah</em>” kemudian beliau meninggalkannya.<a href="#_ftn2">[2]</a> Hal itu beliau lakukan karena mereka telah membantai para Qurra dari kalangan Sahabat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Telah tetap juga dari beliau bahwa Ia Qunut tidak beberapa lama setelah kejadian tersebut setelah perjanjian Hudaibiyah dan penaklukkan khaibar dengan mendoakan sahabat-sahabatnya yang merupakah orang-orang  lemah ketika mereka berada di Mekkah. Beliau berkata pada Qunutnya: <em>Ya Allah selamatkanlah Al Walid bin Walid, Ayyash bin Abi Rabiah, Salamah bin Hisyam, dan orang-orang mukmin yang lemah. Ya Allah keraskanlah siksamu atas Mudhor dan jadikanlah bagi mereka kemarau seperti kemaraunya yusuf<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam qunutnya, beliau mendoakan orang-orang mukmin dan melaknat  orang-orang kafir dan hal tersebut dilakukan ketika Sholat fajar.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Telah diriwiyatkan dalam sohih bahwa beliau juga pernah Qunut pada waktu maghrib, isya, dan zuhur. Dalam kitab sunan diriwayatkan juga bahwa beliau pernah melakukan qunut pada waktu Ashar. Hal ini menyebabkan kaum muslimin berselisih tentang qunut menjadi 3 Pendapat;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Qunut itu mansukh. Maka tidak disyariatkan lagi karena nabi Shallallahu alaihi Wasallam pernah melakukan qunut kemudian meninggalkannya sedangkan meninggalkan itu berarti  memansukh perbuatan seperti halnya beliau pernah berdiri untuk Jenazah kemudian ia duduk maka duduknya tersebut adalah pemansukh berdiri. Inilah pendapat segolongan ulama dari penduduk iraq seperti Abu Hanifah dan lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Qunut itu disyariatkan untuk selalu dilaksanakan dan selalu melakukan qunut di waktu [sholat] fajar merupakan kesunnahan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sebagian dari mereka Mengatakan bahwa qunut tersebut sunnah dilakukan sebelum ruku’ setelah Qiraah secara sirr dan harus menggunakan lafadz berikut ;</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> اللهم إنا نستعينك إلى آخرها و اللهم إياك نعبد &#8211; إلى آخرها</strong></span></strong><strong> –</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ini adalah pendapat Imam Malik.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sebagian lagi mengatakan bahwa qunut itu sunnah dilakukan setelah ruku secara jahr. Dianjurkan juga melakukan qunut dengan doa al Hasan Bin Ali yang diriwayatkan dari nabi Shallallahu alaihi Wasallam. Yaitu<a href="#_ftn4">[4]</a>:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><strong>[ </strong><strong><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> اللهم اهدني فيمن هديت [ إلى آخره</strong></span></strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekalipun begitu kadang-kadang mereka membolehkan untuk melakukan qunut sebelum maupun sesudah ruku.</p>
<p>Mereka melakukan qunut dengan berhujjah pada firman Allah Taala:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله</strong></span> <strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>قانتين</strong></span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Artinya<em>: Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa<strong><sup> </sup></strong>Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'(qunut). (QS al Baqarah:238)</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mereka mengatakan bahwa <em>alwustha</em> adalah [sholat] fajar oleh karena itu mereka melakukan qunut pada sholat tersebut. Namun kedua alasan diatas lemah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat pertama</strong> : telah tetap berdasarkan nash-nash yang sohih dari nabi Shallallahu alaihi Wasallam bahwa <em>wustha</em> itu adalah sholat Ashr. Ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi berdasarkan maksud hadits-hadits yang matsur. Oleh karena itu ulama hadits dan lainnya telah sepakat sekalipun para sahabat dan ulama memiliki beberapa pendapat. Sesungguhnya mereka berpendapat sesuai ijtihad mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat kedua</strong>: Qunut itu sebenarnya merupakan senantiasa dalam ketaatan. Ini bisa dilakukan dalam keadaan sujud maupun berdiri. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>أمن هو</strong></span> <strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>قانت</strong></span></span></strong><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> آناء الليل ساجدا وقائما يحذر الآخرة</strong></span></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat (qunut) di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri (QS al Zumar:9)</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kalaulah yang dimaksud dengan ayat diatas adalah senantiasa berdiri sebagaimana dikatakan pada Firman Allah:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>يا مريم</strong></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>اقنتي</strong></span></span></strong> <span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>لربك واسجدي واركعي</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Artinya : <em>Hai Maryam, taatlah (qunutlah) kepada Tuhanmu, sujud dan ruku&#8217;lah bersama orang-orang yang ruku&#8217; (QS Ali Imran: 42)</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Maka menafsirkan hal tersebut dengan memanjangkan berdiri untuk berdoa bukan yang lain adalah tidak boleh karena Allah memerintahkannya untuk berdiri dalam ketundukan (qunut). Perintah menuntut pewajiban sedangkan berdiri untuk berdoa yang diperselisihkan tersebut tidak wajib berdasarkan Ijma. Begitu juga berdiri ketika membaca merupakan ketundukan (qunut) kepada Allah. Telah tetap dalam sohih bahwa ketika ayat ini turun mereka memerintahkan untuk diam dan melarang untuk berbicara. Dari sini bisa diketahui bahwa diam itu justeru merupakan ketundukan (qunut) yang diperintahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Diketahui bahwa hal tersebut diwajibkan pada seluruh kegiatan berdiri dan firman Allah <em>Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu&#8217;(qunut). </em>tidak khusus untuk sholat <em>wustha</em> saja baik itu sholat Fajar maupun Ashar, namun terkait dengan firman Allah sebelumnya: <em>Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. </em> Oleh karena itu perintah untuk taat (qunut) disertai dengan perintah untuk memelihara dan memelihara itu mencakup keseluruhan [sholat,pent] maka berdirinya itu juga mencakup keseluruhan [sholat, red]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mereka juga berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad pada Musnadnya dan al Hakim pada sohihnya :</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>عن أبي جعفر الرازي عن الربيع بن أنس عن أنس أن النبي صلى الله عليه و سلم ما زال </strong></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>يقنت</strong></span></span></strong> <span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>حتى فارق الدنيا</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>dari Abi Jja’far al Râzi dari Rabi’ bin Anas bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam senantiasa melakukan qunut hingga berpisah dengan dunia</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">mereka berkata pada hadits lain <span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>ثم تركه </strong></span>(Kemudian beliau meninggalkannya) maksudnya adalah meninggalkan untuk melaknat kabilah-kabilah tersebut bukan meninggalkan qunutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Padahal, Tidak bisa ditetapkan qunut menjadi sunnah yang senantiasa dilakukan hanya dengan hadits tersebut. Pensohihan al hakim pun tidak disertai dengan penghasanan at Tirmidzi sedangkan ia banyak sekali mensohihkan  hadits-hadits Maudhu. Al hakim terkenal sebagai orang yang menggampangkan dalam tashih dan hadits ini tidak mengkhususkan qunut sebelum ruku’ maupun sesudahnya. Ia berkata :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>ما قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم بعد الركوع إلا شهرا</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam tidak melakukan Qunut setelah ruku  kecuali sebulan<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ini adalah hadits yang tegas dari Anas bahwa Rasulullah tidak melakukan qunut setelah ruku kecuali sebulan. Batallah tafsiran tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Qunut sebelum ruku mungkin bisa dimaksudkan lama berdiri sebelum ruku’ baik saat tersebut ada doa tambahan atau tidak oleh karena itu lafadznya tidak menunjukkan qunut doa. Ada kelompok yang menganjurkan untuk selalu melakukan qunut pada sholat lima waktu dengan berhujjah bahwa nabi shallallahu alaihi wasallan pernah melakukan qunut pada sholat-sholat tersebut dan tidak membedakan antara yang biasa maupun yang insidentil. Ini adalah pendapat yang menyimpang.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat ketiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Nabi Shallallahu alaihi Wasallam melakukannya disebabkan oleh sesuatu yang terjadi kemudian meninggalkannya ketika tidak ada sebab-sebab tersebut. Oleh karena itu melakukan qunut disunnahkan ketika ada sesuatu yang terjadi (<em>nawazil</em>). Pendapat ini dipegang oleh fuqaha dari kalangan ahli hadits dan dinukil dari khulafâ al Rasyidin. Semoga Allah meridhai mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya Umar Radhiyallahu anhu ketika memerangi kaum Nasrani mengutuk mereka dengan doa qunut yang masyhur :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>اللهم عذب كفرة أهل الكتاب إلى آخره</strong></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Lafazd tersebut digunakan oleh sebagian orang sebagai sunnah pada qunut Ramadhan padahal [lafadz] qunut tersebut bukan sunnah yang baku baik pada ramadhan maupun selainnya Umar melakukan qunut ketika ada kejadian yang menimpakaum muslimin dan berdoa sesuai dengan lafadz yang sesuai dengan kejadian tersebut seperti juga Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam ketika pertama kali melakukan qunut adalah untuk mengutuk kabilah-kabilah bai Sulaim yang telah membantai para Qurra. Beliau mengutuk mereka dengan kutukan yang sesuai dengan kejadian tesebut kemudian juga beliau melakukan qunut untuk sahabat-sahabatnya yang tertindas. Beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan kejadian atau tujuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">dari sini disimpulkan bahwa sunnah rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dan Khulaf al Rasyidin menunjukkan dua hal:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama : </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">doa qunut itu disyariatkan ketika terjadi sebab-sebab yang   menuntutnya bukan sunnah yang senantiasa diamalkan ketika sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua : </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya doa didalamnya bukanlah doa yang baku lafadznya, namun doa dalam setiap qunut tersebut sesuai dengan kejadiannya seperti doanya nabi Shallallahu alaihi wasallam ketika kali pertama dan kedua melakukan qunut. Begitu juga sesuai dengan doa qunutnya Umar Radiyallahu anhu ketika beliau melakukan salah satu perang dan mendapat ujian lalu beliau melakaukan qunut dengan doa yang sesuai dengan tujuannya. Hal yang menjelaskan pendapat ini adalah kalaulah Nabi Shalllallahu alaihi Wasallam selalu melakukan qunut dan berdoa dengan doa yang baku maka nisscaya kaum muslimin akan menukilnya dari nabi mereka. Hal ini adalah perkara yang cukup menggugah dan menarik minat  untuk menukilnya. Namun mereka yang menukil dari beliau dalam qunutnya justeru mendapat nukilan yang tidak menyenantiasakan qunut dan juga bukan sunnah dengan lafadz yang baku seperti misalnya doa laknat beliau atas orang-orang yang telah membantai sahabat-sahabatnya dan juga doa beliau untuk sahabat-sahabatnya yang tertindas begitu juga mereka telah menukil qunut Umar dan Ali atas orang-orang yang mereka perangi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin nabi Shallallahu alaihi Wasallam selalu melakukan qunut diwaktu sholat fajar atau selainnya dan berdoa dengan doa yang baku namun tidak ada penukilan dari nabi Shallallahu alaihi wasallam baik  khobar sohih maupun dhaif [tentang lafadznya].? Bahkan para Sahabat Nabi Shallallahu alaihi Wasallam yang paling mengetahui dan paling ingin mengikutinya seperti Ibnu umar dan lain mengingkarinya. Ibnu Umar sampai mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengarnya.&#8221;</em> Dalam riwayat lain : <em>“Apakah masuk akal apa yang kalian lakukan ini?: kalian berdoa sedangkan kami tidak pernah melihatnya dan mendengarnya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Apakah mungkin ada seorang muslim berkata: sesungguhnya nabi Shallallahu alaihi Wasallam selalu melakukan qunut, sementara  Ibnu Umar bersaksi: <em>&#8220;Kami tidak pernah melihat dan mendengarnya?!&#8221;</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Begitu juga  sahabat selain ibnu umar yang menganggap hal tersebut sebagai perbuatan baru yang bid’ah<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Bijak dalam khilaf</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah panjang lebar menjelaskan tidak disyariatkannya mendawamkan Qunut diwaktu subuh beliau kemudian menyoroti tindakan terkait perbedaan pendapat seputar qunut dan memberikan solusi yang melapangkan dada dan menyatukan hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>ولهذا ينبغي للمأموم أن يتبع إمامه فيما يسوغ فيه الاجتهاد فإذا قنت قنت معه وإن ترك القنوت لم يقنت فإن النبي صلى الله عليه و سلم قال :[ إنما جعل الإمام ليؤتم به ] وقال : [ لا تختلفوا على أئمتكم ] وثبت عنه في الصحيح أنه قال : [ يصلون لكم فإن أصابوا فلكم ولهم وإن أخطأوا فلكم وعليهم ] ألا ترى أن الإمام لو قرأ في الأخيرتين بسورة مع الفاتحة وطولهما على الأوليين : لوجبت متابعته في ذلك فأما مسابقة الإمام فإنها لا تجوز</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>فإذا قنت لم يكن للمأموم أن يسابقه : فلا بد من متابعته ولهذا كان عبد الله بن مسعود قد أنكر على عثمان التربيع بمنى ثم إنه صلى خلفه أربعا فقيل له : في ذلك ؟ ! فقال : الخلاف شر وكذلك أنس بن مالك لما سأله رجل عن وقت الرمي فأخبره ثم قال : إفعل كما يفعل إمامك والله أعلم</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Oleh karena itulah sudah sepatutnya bagi makmum untuk mengikuti imamnya perkara  yang diperkenankan untuk berijtihad. Maka jika imam melakukan qunut, hendaknya dia juga melakukan qunut bersama imam. Dan jika imam tidak melakukan qunuth maka janganlah melakukan qunuth. Dikarenakan Nabi shallallahu alaihi Wasallam bersabda: &#8220;&#8221;Imam itu dijadikan untuk diikuti.&#8221;" Dan beliau bersabda: &#8220;&#8221;Janganlah kalian menyelisihi imam-imam kalian.&#8221;" Dan juga telah shahih dari beliau Shallallahu alaihi Wasallam  bahwa beliau  bersabda: &#8220;&#8221;Mereka (para imam) shalat untuk kalian, maka jika mereka benar, maka (pahala itu) untuk kalian dan juga untuk mereka, dan jika mereka salah, maka (pahala) bagi kalian dan (dosa) atas mereka.&#8221;"</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>bukankah kalian tahu bahwa seandainya imam membaca surat pada pada dua rakaat terakhir setelah bacaan al-Fatihah dan memanjangkannya lebih dari dua rakaat pertama maka wajib mengikutinya dalam hal yang demikian?!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Adapun mendahului imam, maka itu tidak diperbolehkan. Maka jika imam melakukan Qunut, tidak boleh bagi makmum untuk mendahuluinya, maka dia harus mengikutinya. Oleh karena itulah Abdullah bin Mas&#8217;ud Radiyallahu anhu  pernah mengingkari &#8216;Utsman (yang melakukan shalat) empat rakaat (dzuhur dan ashar masing-masing empat rakaat,) di Mina, (namun) kemudian dia tetap shalat dibelakang utsman empat rakaat. Ditanyakan kepadanya tentang hal tersebut, dia menjawab: &#8220;&#8221;Perselisihan itu buruk.&#8221;" Demikian pula Anas bin Malik Radiyallahu anhu tatkala ditanya oleh seorang laki-laki tentang waktu melempar (jumrah), maka dia mengabarkan kepadanya. Kemudian Anas Radiyallahu anhu  berkata: &#8220;&#8221;Lakukankanlah sebagaimana yang diperbuat oleh imam (pemimpinmu)<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini berkali-kali dikuatkan oleh Faqihuzzaman Muhammad Bin Sholih al utsaimin dalam berbagai fatwanya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Diantaranya beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jika seorang itu menjadi makmum sedangkan imamnya melakukan qunut shubuh apakah makmum mengikuti imam dengan mengangkat tangan dan mengaminkan doa qunut imam ataukah diam saja?<br />
<strong>Jawabannya, sikap yang benar adalah mengaminkan doa imam sambil mengangkat tangan dalam rangka mengikuti imam karena khawatir merusak persatuan.</strong> Imam Ahmad menegaskan bahwa seorang yang menjadi makmum dengan orang yang melakukan qunut shubuh itu tetap mengikuti imam dan mengaminkan doa imam. Padahal Imam Ahmad dalam pendapatnya yang terkenal yang mengatakan bahwa qunut shubuh itu tidak disyariatkan. Meski demikian, beliau membolehkan untuk mengikuti imam yang melakukan qunut shubuh karena dikhawatirkan menyelisihi imam dalam hal ini akan menimbulkan perselisihan hati di antara jamaah masjid tersebut.<br />
Inilah yang diajarkan oleh para shahabat. Khalifah Utsman di akhir-akhir masa kekhilafahannya tidak mengqashar shalat saat mabit di Mina ketika pelaksanaan ibadah haji. Tindakan beliau ini diingkari oleh para shahabat. Meski demikian, para shahabat tetap bermakmum di belakang Khalifah Utsman. Sehingga mereka juga tidak mengqashar shalat. Adalah Ibnu Mas’ud diantara yang mengingkari perbuatan Utsman tersebut. Suatu ketika, ada yang berkata kepada Ibnu Mas’ud,</p>
<p style="text-align:justify;">“Wahai Abu Abdirrahman (yaitu Ibnu Mas’ud) bagaimanakah bisa-bisanya engkau mengerjakan shalat bersama amirul mukminin Utsman tanpa qashar sedangkan Nabi, Abu Bakar dan Umar tidak pernah melakukannya. Beliau mengatakan, “Menyelisihi imam shalat adalah sebuah keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sikap dua Imam Agung Ahlisunnah-Syaikhul Islam dan Faqihuzzamân- yang dengan tegas menentukan sikap dan memberikan jalan keluar yang sejuk dan menenangkan bagi kaum Muslimin.</p>
<p>Semoga bermanfaat</p>
<p>Saudaramu: dobdob</p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> al-Fatâwa al-kubrâ (2/245).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud[1], Ibnul Jarud[2], Ahmad[3], al-Hakim dan al-Baihaqi[4]. Dan Imam al-Hakim menambahkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus para da’i agar mereka (kabilah-kabilah itu) masuk Islam, tapi malah mereka membunuh para da’i itu. ‘Ikrimah berkata: Inilah pertama kali qunut diadakan.</p>
<p>Lihat Irwaa-ul Ghalil II/163</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Hadits shahih riwayat Ahmad ii/255 dan al-Bukhâri No 4560</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lafadz ini sebenarnya merupakan lafadz qunut witir</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Dalam hadits anas lafadznya seperti ini:</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> melakukan qunût selama sebulan, beliau mengutuk bani Ri’lan, Dzakwân dan ‘Ushoyyah yang telah membangkang terhadap Allôh dan Rasul-Nya” (<em>Muttafaq ‘Alaihi</em> dan lafazh hadits atas adalah lafazh Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat lain:</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong>قَالَ عَاصِمُ بْنُ سُلَيْمَانَ ِلأَنَسٍ: إِنَّ قَوْمًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ بِالْفَجْرِ، فَقَالَ: كَذَّبُوْا، وَإِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا وَاحِدًا يَدْعُوْ عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Artinya : Ashim bin Sulaiman berkata kepada Anas, “Sesungguh-nya orang-orang menyangka bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa qunut dalam shalat Shubuh.” Jawab Anas bin Malik: “Mereka dusta! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut satu bulan mendo’akan kecelakaan atas satu qabilah dari qabilah-qabilah bangsa ‘Arab.”</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Khathib al-Bagh-dadi sebagaimana yang dikatakan oleh al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad (I/278)</p>
<p style="text-align:justify;">Derajat Hadits.<br />
Derajat hadits ini tidak sampai kepada shahih, karena dalam sanadnya ada Qais bin Rabi’, ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in dan ulama lainnya mengatakan ia tsiqah. Qais ini lebih tsiqah dari Abu Ja’far semestinya orang lebih con-dong memakai riwayat Qais ketimbang riwayat Abu Ja’far, dan lagi pula riwayat Qais ada penguatnya dari hadits-hadits yang sah dari Anas sendiri dan dari para Shahabat yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sisi lain yang bisa diambil dari riwayat seperti ini adalah indikasi bahwa perselisihan tentang qunut sudah dimulai sejak masa sahabat <em>Ridwanullah alaihim ajmain</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> Dalam sebuah riwayat disebutkan</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:”Traditional Arabic;color:#0bac00;font-size:medium;"><strong> عَنْ أَبِيْ مَالِكٍ سَعِيْدٍ بْنِ طَارِقٍ اْلاَشْجَعِيِّ قَالَ قُلْتُ ِلأَبِيْ: يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ هاَهُنَا بِالْكُوْفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِيْنَ فَكَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِي الْفَجْرِ؟ فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ.<br />
رواه الترمدى رقم: (402) وأحمد (3/472، 6/394) وابن ماجه رقم: (1241) والنسائي (2/204) والطحاوي (1/146) والطياليسي رقم: (1328) والبيهقي (2/213) والسياق لابن ماجه وقال الترميذي: حديث حسن صحيح وانظر صحيح سنن النسائي رقم: (1035 </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abi Malik al-Asyja’i, ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di bela-kang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan di belakang ‘Ali di daerah Qufah sini kira-kira selama lima tahun, apakah qunut Shubuh terus-menerus?” Ia jawab: “Wahai anakku qunut Shubuh itu bid’ah!!</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi (no. 402), Ahmad (III/472, VI/394), Ibnu Majah (no. 1241), an-Nasa-i (II/204), ath-Thahawi (I/146), ath-Thayalisi (no. 1328) dan Baihaqi (II/213), dan ini adalah lafazh hadits Imam Ibnu Majah, dan Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lihat pula kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/233 no. 1035) dan Irwaa-ul Ghalil (II/182) keduanya karya Imam al-Albany</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat juga di kitab Bulughul Maram no. 289, karya Al-Hafidzh</p>
<p style="text-align:justify;">Sisi lain dari hadits seperti ini juga bisa diambil kesimpulan bahwa perselisihan tentang qunut sudah dimulai sejak masa sahabat <em>Ridwanullah alaihim ajmain</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> al-Fatâwa al-kubrâ (2/245).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga mengulang fatwa yang serupa dalam Majmu&#8217; Fatawa (23/116)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/14-16, pertanyaan no 774. beliau memberi pernyataan serupa dalam salah satu khutbahnya yang anda bisa dengar dan lihat transkripnya disini : http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_615.shtml</p>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fatwa/'>Fatwa</a>, <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/640/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=640&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/08/mengakhiri-kontroversi-qunut-subuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/09/diversity.png?w=275" medium="image">
			<media:title type="html">diversity</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tarawih: Bijak dalam Khilaf</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/23/tarawih-bijak-dalam-ikhtilaf/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/23/tarawih-bijak-dalam-ikhtilaf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 09:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=630</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Setiap tahun menjelang Ramadhan halaman-halaman internet dan blog dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan seru dan sengit seputar jumlah rakaat Ramadhan. Tidak jarang perdebatan yang diisi oleh berbagai karakter orang dari berbagai tingkatan keilmuan membangkitkan hal-hal buruk dan permusuhan diantara para peserta dan muqallidnya. Islam sejatinya merupakan jalan keluar perdamaian jika saja elemen dan personil yang ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=630&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/tambang-mengikat1.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-632" title="tambang mengikat" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/tambang-mengikat1.png?w=300&#038;h=215" alt="" width="300" height="215" /></a>Pengantar</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap tahun menjelang Ramadhan halaman-halaman internet dan blog dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan seru dan sengit seputar jumlah rakaat Ramadhan. Tidak jarang perdebatan yang diisi oleh berbagai karakter orang dari<span id="more-630"></span> berbagai tingkatan keilmuan membangkitkan hal-hal buruk dan permusuhan diantara para peserta dan muqallidnya. Islam sejatinya merupakan jalan keluar perdamaian jika saja elemen dan personil yang ada didalamnya memahami benar sisi-sisi prioritas dalam Amalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini memiliki misi exposisi bukan tarjih terhadap pendapat yang telah ada sedari dahulu kala. Tujuan akhirnya adalah informasi dan pemahaman bahwa para ulama yang mendalam ilmunya justeru memiliki pendapat yang moderat, adil, dan jauh dari egoisme apalagi berkehendak untuk memecah ummat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat Ulama yang Variatif</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebelas Rakaat beserta witir</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini merupakan pilihan Imam Malik untuk dirinya sendiri<a href="#_ftn1">[1]</a> dan sangat masyhur sebagai pendapat syaikh Albani dan murid-muridnya serta orang-orang yang sepakat dengan beliau. Syaikh Albani berkata:</p>
<p style="text-align:center;">وركعتها إحدى عشرة ركعة ، ونختار أن لا يزيد عليها اتباعاً لرسول الله صلى الله عليه وسلم ، فإنه لم يزد عليها حتى فارق الحياة</p>
<p style="text-align:justify;">Jumlah rakaatnya (taraweh,pent) adalah 11 rakaat, kami memilih untuk tidak menambahkannya karena mengikut rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallâm. Sesungguhnya beliau tidak pernah menambahnya sampai ia berpisah dengan dunia.<a href="#_ftn2">[2]</a><br />
Mereka berdalil dengan hadits Jabir Radiyallahu anhu</p>
<p style="text-align:center;">صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة في رمضان ثماني ركعات والوتر</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallâm pernah mengimami kami salat pada satu malam Ramadan dengan delapan rakaat kemudian Witir</em></p>
<p style="text-align:justify;">hadits diatas mendapat kritikan para ulama karena didalam sanadnya terdapat seorang rawi <em>matruk </em>bernama Isa Bin Jariyah, namun syaikh Albani menganggapnya memiliki penguat dari hadits Aisyah yang diriwayatkan Oleh Imam Bukhari dalam sohihnya:</p>
<p style="text-align:center;">مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em> dalam Kitab Muwattha juga terdapat sebuah hadits yang mendukung pendapat ini:</em></p>
<p style="text-align:center;"><em> </em>وَحَدَّثَنِى عَنْ مَالِكٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِىَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِىِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلاَّ فِى فُرُوعِ الْفَجْرِ</p>
<p style="text-align:justify;">Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Muhammad bin Yusuf dari As-Sa`ib bin Yazid dia berkata, &#8220;<em>Umar bin Khatthab memerintahkan Ubay bin Ka&#8217;ab dan Tamim Ad Dari untuk mengimami orang-orang, </em><strong><em>dengan sebelas rakaat</em></strong>.&#8221; As Sa`ib berkata, &#8220;<em>Imam membaca dua ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar</em>.&#8221; (HR. Malik dalam Al Muwaththo’ 1/115)<br />
Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini <em><strong>shahih</strong></em><a href="#_ftn3"><strong><em><strong>[3]</strong></em></strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">sekalipun begitu, yang masyhur dari mazhab malik sebagaimana diisyaratkan Oleh imam Tirmizi bahwa mereka sholat sebanyak 36 Rakaat.<br />
ada beberapa Atsar lain yang menguatkan pendapat ini yang Insya Allah mudah didapat. Kami cukupkan dengan menyebutkan dalil-dalil diatas sebagai pengetahuan saja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dua Puluh Rakaat.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat inilah yang dipegang oleh Mazhab Syafii dan Ahmad serta secara turun temurun dilaksanakan di dua tanah haram yang dimuliakan.<br />
mereka berdalil dengan beberapa hadits berikut:</p>
<p style="text-align:center;">حدثنا علي أنا بن أبي ذئب عن يزيد بن خصيفة عن السائب بن يزيد قال : كانوا يقومون على عهد عمر في شهر رمضان بعشرين ركعة وإن كانوا ليقرءون بالمئين من القرآن</p>
<p style="text-align:justify;">Telah menceritakan kepada kami ‘Ali, bahwa Ibnu Abi Dzi’b dari Yazid bin Khoshifah dari As Saib bin Yazid, ia berkata, “<em>Mereka melaksanakan qiyam lail di masa ‘Umar di bulan Ramadhan </em><strong><em>sebanyak 20 raka’at</em></strong><em>. Ketika itu mereka membaca 200 ayat Al Qur’an</em>.” (HR. ‘Ali bin Al Ja’d dalam musnadnya, 1/413)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa riwayat di atas terdapat ‘<em>illah </em>yaitu karena terdapat <strong>Yazid bin Khoshifah</strong>. Dalam riwayat Ahmad, beliau menyatakan bahwa Yazid itu <strong>munkarul hadits</strong>. Namun pernyataan ini tertolak dengan beberapa alasan:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Imam Ahmad sendiri menyatakan Yazid itu <em><strong>tsiqoh</strong></em> dalam riwayat lain.</li>
<li>Ulama pakar hadits lainnya menyatakan bahwa Yazid itu <em><strong>tsiqoh. </strong></em>Ulama yang berpendapat seperti itu  adalah Ahmad, Abu Hatim dan An Nasai. Begitu pula yang menyatakan <em><strong>tsiqoh</strong></em> adalah Yahya bin Ma’in dan Ibnu Sa’ad. Al Hafizh Ibnu Hajar pun menyatakan <em><strong>tsiqoh</strong></em> dalam <em>At Taqrib</em>.</li>
<li>Perlu diketahui bahwa Yazid bin Khoshifah adalah perowi yang dipakai oleh Al Jama’ah (banyak periwayat hadits).</li>
<li>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> dan sebagian ulama di banyak keadaan kadang menggunakan istilah “munkar” untuk riwayat yang <strong>bersendirian</strong> dan bukan dimaksudkan untuk dho’ifnya hadits.<a href="#_ftn4">[4]</a></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tiga puluh Enam Rakaat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">ini adalah pendapat yang masyhur dari mazhab malik. Imam Tirmidzi mengisyaratkan hal tersebut dan juga jumlah rakaat lainnya setelah selesai meriwayatkan hadits tentang tarawih nabi yang hanya 3 hari dibulan Ramadhan dan tidak berurutan.<a href="#_ftn5">[5]</a><br />
Dalam kitab <em>Al-Mudawwanah al Kubro</em>, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku dan dia ingin mengurangi Qiyam Ramadhan yang dilakukan umat di Madinah. Lalu Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata “Tarawih itu 39 rakaat termasuk witir, 36 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir” lalu Imam Malik berkata “Maka saya melarangnya mengurangi dari itu sedikitpun”. Aku berkata kepadanya, “inilah yang kudapati orang-orang melakukannya”, yaitu perkara lama yang masih dilakukan  umat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tidak ada batasan Rakaat<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini disinggung oleh  beberapa ulama diantaranya ibnu Hajar al atsqalani ketika ia menjama dua riwayat yang menyatakan jumlah rakaat yang berbeda. Beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align:center;">وَالْجَمْعُ بَيْن هَذِهِ الرِّوَايَات مُمْكِنٌ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَال ، وَيَحْتَمِل أَنَّ ذَلِكَ الِاخْتِلَافَ بِحَسَبِ تَطْوِيلِ الْقِرَاءَة وَتَخْفِيفِهَا فَحَيْثُ يُطِيلُ الْقِرَاءَة تَقِلُّ الرَّكَعَات وَبِالْعَكْسِ وَبِذَلِكَ جَزَمَ الدَّاوُدِيُّ وَغَيْره</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kompromi antara riwayat (yang menyebutkan 11 dan 23 raka’at) amat memungkinkan dengan kita katakan bahwa mereka melaksanakan shalat tarawih tersebut dilihat dari kondisinya. Kita bisa memahami bahwa perbedaan (jumlah raka’at tersebut) dikarenakan kadangkala bacaan tiap raka’atnya panjang dan kadangkala pendek. Ketika bacaan tersebut dipanjangkan, maka jumlah raka’atnya semakin sedikit. Demikian sebaliknya. Inilah yang ditegaskan oleh Ad Dawudi dan ulama lainnya<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></em><em><br />
</em><br />
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan:</p>
<p style="text-align:center;">وليس في عدد الركعات من صلاة الليل حد محدود عند أحد من أهل العلم لا يتعدى وإنما الصلاة خير موضوع وفعل بر وقربة فمن شاء استكثر ومن شاء استقل</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak<a href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Nawawi menukil pendapat Qadhi Iyadh dalam Syarah muslim:</p>
<p style="text-align:center;">ولا خلاف أنه ليس في ذلك حد لا يزاد عليه ولا ينقص منه ، وأن صلاة الليل من الطاعات التي كلما زاد فيها زاد الأجر ، وإنما الخلاف في فعل النبيّ صلى الله عليه و سلم وما اختاره لنفسه والله أعلم</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak ada khilaf bahwa permasalah tersebut tidak memiliki batasan [rakaat] baik untuk menambahkan maupun mengurangkan. Sholat malam adalah termasuk ketaatan yang jika ditambahkan [rakaatnya] niscaya bertambahlah pahalanya. Khilaf hanya terjadi mengenai perbuatan Nabi Shallallâhu alaihi Wasallam dan apa yang Ia pilih untuk dirinya sendiri. Allahu a’lamu.<a href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu taimiyah memiliki pendapat yang cukup moderat. Beliau berkata:</p>
<p style="text-align:center;">لَمْ يُوَقِّتْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ عَدَدًا مُعَيَّنًا ؛ بَلْ كَانَ هُوَ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; لَا يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى ثَلَاثَ عَشْرَةِ رَكْعَةً لَكِنْ كَانَ يُطِيلُ الرَّكَعَاتِ فَلَمَّا جَمَعَهُمْ عُمَرُ عَلَى أبي بْنِ كَعْبٍ كَانَ يُصَلِّي بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً ثُمَّ يُوتِرُ بِثَلَاثِ وَكَانَ يُخِفُّ الْقِرَاءَةَ بِقَدْرِ مَا زَادَ مِنْ الرَّكَعَاتِ لِأَنَّ ذَلِكَ أَخَفُّ عَلَى الْمَأْمُومِينَ مِنْ تَطْوِيلِ الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ ثُمَّ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْ السَّلَفِ يَقُومُونَ بِأَرْبَعِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثِ وَآخَرُونَ قَامُوا بِسِتِّ وَثَلَاثِينَ وَأَوْتَرُوا بِثَلَاثِ وَهَذَا كُلُّهُ سَائِغٌ فَكَيْفَمَا قَامَ فِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ فَقَدْ أَحْسَنَ . وَالْأَفْضَلُ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ أَحْوَالِ الْمُصَلِّينَ فَإِنْ كَانَ فِيهِمْ احْتِمَالٌ لِطُولِ الْقِيَامِ فَالْقِيَامُ بِعَشْرِ رَكَعَاتٍ وَثَلَاثٍ بَعْدَهَا . كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ هُوَ الْأَفْضَلُ وَإِنْ كَانُوا لَا يَحْتَمِلُونَهُ فَالْقِيَامُ بِعِشْرِينَ هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ الَّذِي يَعْمَلُ بِهِ أَكْثَرُ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّهُ وَسَطٌ بَيْنَ الْعَشْرِ وَبَيْنَ الْأَرْبَعِينَ وَإِنْ قَامَ بِأَرْبَعِينَ وَغَيْرِهَا جَازَ ذَلِكَ وَلَا يُكْرَهُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ . وَقَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ . وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at. Akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab ditunjuk sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sebagian salaf pun ada yang melaksanakan shalat malam sampai 40 raka’at, lalu mereka berwitir dengan 3 raka’at. Ada lagi ulama yang melaksanakan shalat malam dengan 36 raka’at dan berwitir dengan 3 raka’at.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Oleh karena itu, <strong>barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru</strong>.”</em><a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Secara lugas dan jelas beliau memilih untuk tidak membatasi jumlah rakaat shalat malam termasuk tarawih.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bijak dalam Khilaf</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bijak dalam perselisihan merupakan kekhasan para ulama yang wara’ lagi Tawadhu. Dalam tulisan ini saya perlu menghadirkan Fatwa Faqihuzzaman Muhammad Bin Sholih al Utsaimin terkait realitas perbedaan dalam pelaksanan sholat Taraweh</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau pernah ditanya tentang jamaah yang sholat bersama Imam hanya 11 rokaat saja, kemudian memisahkan diri dengan alasan bahwasanya Rasulullah Shollallahu alaihi Wasallam tidak menambah dari 11 rokaat baik pada waktu ramadhan maupun selainya</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Perbuatan ini yaitu memisahkan diri dari Imam yang sholat taraweh lebih dari 11 Rokaat adalah menyalahi Sunnah dan menghilangkan pahala. Perbuatan ini juga menyalahi perbuatan Salafussholih. Para sahabat yang sholat bersama nabi shollallahu Alaihi Wasallam tidak meninggalkan jamaah lebih dahulu dan mereka menuruti Imam mereka sekalipun ia menambahkan dari apa yang menurut mereka disyariatkan. Sesungguhnya Utsaman Radiyallahu anhu diingkari oleh para sahabat ketika ia melakukan Sholat secara sempurna di Mina, tetapi mereka tetap mengikutinya dan mereka berkata: Sesungguhnya khilaf itu adalah sebuah keburukan dan mencabut pahala yang diinginkan karena Nabi shallallahu alaihi Wasallam bersabda: <em>Barangsiapa yang sholat bersama Imam hingga selesai, niscaya ditetapkanbaginya pahala sholat semalam suntuk</em><a href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Menambah dari 11 rakaat bukanlah keharaman tapi suatu hal yang boleh. Hal itu karena Rasulullah pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang sholat malam, maka beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:center;">‏مثنى، مثنى، فإذا خشي أحدكم الصبح صلى واحدة فأوترت له ما قد صلى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Shalat malam itu Dua  dua, kalau salah seorang diantara kalian  khawatir datang shubuh maka sholatlah satu rakat yang menjadi witir bagi sholat yang telah ia kerjakan</em><a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi Shallallahu alaihi Wasallam  tidak membatasi bilangan rakaatnya. Kalaulah menambah dari sebelas rakaat adalah haram, niscaya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam akan menjelaskannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Nasehatku bagi saudara-saudaraku tersebut adalah hendaknya mereka mengikuti Imam Hingga selesai <a href="#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p>saya katakan<em> :Rahimahullah FAqihuzzaman Fadhilatussyaikh al Utsaimin</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam jilid yang sama difatwanya beliau pernah ditanya tentang satu masjid yang menggunakan dua Imam taraweh</p>
<p style="text-align:justify;">Ada seseorang yang sholat bersama imam pertama lalu meninggalkan jamaah seraya berkata: aku sholat sesuai dengan nash hadits :<br />
<em>Barangsiapa yang sholat bersama Imam hingga selesai, niscaya ditetapkanbaginya pahala sholat semalam suntuk</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya saya memulai bersama imam yang pertama dan menyelesaikan sholat bersamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun perkataannya (<em>Barangsiapa yang sholat bersama Imam hingga selesai, niscaya ditetapkanbaginya pahala sholat semalam suntuk</em>) maka ini adalah sebuah hadits sohih yang telah tetap dari Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam ketika diminta oleh sahabat untuk menambah sholat sunnah untuk malam yang masih tersisa. Ketika itu beliau menyelesaikan sholat ditengah malam. Mereka berkata : <em>wahai Rasulullah apakah engkau berkenan untuk sholat sunnah bersama kami untuk malam yang masih tersisa ini? Maka beliau bersabda: Barangsiapa yang sholat bersama Imam hingga selesai, niscaya ditetapkan baginya pahala sholat semalam suntuk</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi apakah dua imam dalam satu masjid itu diangga saling berdiri sendiri atau keduanya saling menggantikan?</p>
<p style="text-align:justify;">Yang nampak adalah anggapan kedua dimana setiap imam adalah saling menggantikan sebagai pelengkap. Dalam hal ini jika dalam satu masjid terdapat dua imam maka mereka dianggap satu. Maka hendaknya seseorang  tetap sholat bersama imam sampai imam yang kedua selesai. Hal itu Karena kita tahu bahwa Imam kedua adalah melengkapi imam yang pertama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini aku menasehatkan saudara-saudaraku agar mengikuti para Imam disini -masjidil haram- sampai selesai dan berakhir sholatnya. Kalau ada sebagian ikhwah yang meninggalkan jamaah karena sholat sebelas rakaat seraya berkata: “beginilah bilangan rakaat yang sesuai dengan perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan kami ingin mengikuti bilangan rakaat yang dilakukan oleh nabi. Itulah yang lebih baik”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada satupun orang yang meragukan hal itu<a href="#_ftn14">[14]</a>, tapi aku menganggap tidak ada larangan untuk menambah [rakaat]. Bukan didasarkan pada ketidaksukaan dengan bilangan rakaat yang dipilih oleh nabi Shallallahu alaihi Wasallam tapi atas dasar terdapatnya kebaikan yang ditolerir oleh syariat dimana Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam pernah ditanya tentang Sholat malam, maka beliau bersabda: (Shalat malam itu Dua  dua, kalau salah seorang diantara kalian  khawatir datang shubuh maka sholatlah satu rakat yang menjadi witir bagi sholat yang telah ia kerjakan)</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau hal ini adalah perkara yang diperkenankan untuk menambah, maka yang utama bagi manusia adalah jangan keluar dari jamaah tapi tetap mengikuti Imam. Para Sahabat-semoga Allah meridhai mereka- ketika Utsman melakukan sholat secara sempurna di Mina sebagian dari mereka mengulangnya, namun demikian mereka tetap sholat dibelakang utsman 4 rakaat. Mereka menambah dua rakaat pada sholat yang tidak lebih dari dua rakaat agar bersesuaian dengan jamaah, menyatukan kata, dan menghindari perpecahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saling bersesuaian itu manfaatnya sangat besar. Janganlah seseorang diantara kalian membuat satu pilihan yang memisahkah diri dari jamaah seraya berkata: “ engkau bersamaku atau fulan?, ini kesalahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini selama perkara tersebut masih diperkenankan dan tidak ada larangan<br />
Syariat, maka sesungguhnya bersepakat dalam satu jamaah itu tidak akan menampakkan dendam dan kebencian.</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari Salaf berbagai bentuk seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad dan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah-Semoga Allah merahmati kedua-. Hendaknya kita bertindak fleksibel seperti mereka. Mereka telah lebih dahulu melakukah hal itu maka janganlah kita menyimpang dari apa yang mereka lakukan. Saya berulang-ulang mengajak kepada penyatuan dan peniadaan perselisihan pada hal yang diperkenankan ijtihad. Kesulitan sebenarnya adalah jika disana ada dua witir dalam satu malam, apa yang harus dilakukan oleh makmum?</p>
<p style="text-align:justify;">Kami katakan: jika engkau ingin sholat tahajjud bersama Imam  yang kedua, Jika Imam pertama telah melakukan witir, Maka kerjakan lagi satu rakaat agar menjadi dua dua. Kalau anda tidak ingin tahajjud diakhir malam maka berwitirlah bersama imam Yang pertama. Kemudian kalau anda mampu untuk bertahajjud bersama imam yang kedua setelah itu, maka genapkanlah witir bersama imam yang kedua.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kita bisa memperbaiki Ibadah kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Maraji:<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">www.rumaysho.com<br />
www.ibnothaimeen.com</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Hal ini diterangkan oleh al Aini dalam syarah sohih Bukhari yang dikutip Oleh Al Mubarakfuri dalam syarah Turmudzi tentang shlat tarawih bab 80</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Risalah qiyam Ramadhan hal 15</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> ‘<em>Adadu Raka’at Qiyamil Lail</em>, Musthofa Al ‘Adawi, Daar Majid ‘Asiri, hal. 36.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat catatan kaki Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 37.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Sunan tirmidzi bab 80. disitu beliau menyebutkan 41 rakaat. Yaitu dengan 5 rakaat witir</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> Biasanya mereka telah cenderung kepada salah satu pendapat tentang bilangan Taraweh, tapi jumlah bilangan tersebut bukan sebuah kelaziman</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Fathul Bari, 4/253.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> At Tamhid, 21/70.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> Syarah sohih Muslim 6/19</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> Majmu’ Al Fatâwa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H, 22/272.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> Hadits riwayat</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> HR Bukhari-Muslim</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref13">[13]</a> Fatawa Ibnu utsaimin Jilid 14  <a href="http://www.al-eman.com/islamLib/viewchp.asp?BID=353&amp;CID=325">http://www.al-eman.com/islamLib/viewchp.asp?BID=353&amp;CID=325</a>. diakses pukul 14.06</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref14">[14]</a> Perlu diketahui bahwa Syaikh Utsaimin merajihkan pendapat sebelas rakaat sebagai jumlah bilangan taraweh. Silahkan merujuk : http://www.kl28.com/ebnothiminr.php?search=1845 atau  terjemahnya http://www.almanhaj.or.id/content/2800/slash/0</p>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fatwa/'>Fatwa</a>, <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/630/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=630&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/23/tarawih-bijak-dalam-ikhtilaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/tambang-mengikat1.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tambang mengikat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembelaan Untuk Al Mizzi</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/19/pembelaan-untuk-al-mizzi/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/19/pembelaan-untuk-al-mizzi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 06:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Disekeliling Ibnu Taimiyah terdapat orang-orang terkemuka dalam bidangnya. Salah satunya adalah Ulama hadits tawadhu nan sabar yang terkenal dengan Nama Al Mizzi[1] yang merupakan mertua dari Ibnu katsir-seorang ahli tafsir terkemuka  dan pernah dipenjara karena membela pendapat Ibnu Taimiyah tentang masalah Thalaq-. Al hafidz Al Mizzi  yang namanya tersohor dalam dunia hadits lewat dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=615&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/help.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-616" title="help" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/help.png?w=300&#038;h=267" alt="" width="300" height="267" /></a></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pengantar</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Disekeliling Ibnu Taimiyah terdapat orang-orang terkemuka dalam bidangnya. Salah satunya adalah Ulama hadits tawadhu nan sabar yang terkenal dengan Nama Al Mizzi<a href="#_ftn1">[1]</a> yang merupakan mertua dari Ibnu katsir-seorang ahli tafsir terkemuka  dan pernah dipenjara karena membela pendapat Ibnu Taimiyah<span id="more-615"></span> tentang masalah Thalaq-.</p>
<p style="text-align:justify;">Al hafidz Al Mizzi  yang namanya tersohor dalam dunia hadits lewat dua kitab tebalnya Yang berjudul <em>Tahzibul Kamal</em> dan <em>Tuhfatul Asyraf bima’rifatil Athraf</em> merupakan murid sekaligus teman dekat Ibnu Taimiyah dalam belajar hadits sebagaimana yang ceritakan oleh Az Zahabi dalam biografi al  Mizzi dalam Tazkiratul Huffaz.</p>
<p style="text-align:justify;">Kecintaan Al Mizzi terhadap Ibnu Taimiyah terlihat ketika ia dengan penuh kasih sayang memandikan Jenazah guru dan sahabatnya tersebut lalu mengantarkannya menuju pusaranya<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Mizzi adalah seorang ulama rijal yang mengambil mazhab Salaf dalam Aqidah. Pilihan Inilah yang membuatnya harus berhadapan dengan ulama sekelilingnya yang berpemahaman Takwil serta memusuhi sahabatnya-ibnu Taimiyah-.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pembelaan Ibnu Taimiyah </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diceritakan dalam biografi Al Mizzi dan Juga Ibnu Taimiyah tentang Cobaan yang dihadapi Oleh Al Mizzi yang menyebarkan dakwah Salaf dalam Aqidah dengan mengajarkan Kitab Khalqu Afa’lil ibad milik Amirul Mu’minin Fil Hadits Al Imam Al Bukhari Rahimahullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut penuturan Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah Wa an-Nihayah pada peristiwa yang terjadi sekitar tahun 705 Hijriah terkait Dengan ibnu  Taimiyah</p>
<p style="text-align:center;">وكان للشيخ تقي الدين من الفقهاء جماعة يحسدونه لتقدمه عند الدولة وانفراده بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وطاعة الناس له ومحبتهم له وكثرة أتباعه وقيامه في الحق وعلمه وعمله ثم وقع بدمشق خبط كثير وتشويش بسبب غيبة نائب السلطنة وطلب القاضي جماعة من أصحاب الشيخ وعزر بعضهم ثم اتفق ان الشيخ جمال الدين المزي الحافظ قرأ فصلا بالرد على الجهمية من كتاب أفعال العباد للبخاري تحت قبة النسر بعد قراءة ميعاد البخاري بسبب الاستسقاء فغضب بعض الفقهاء الحاضرين وشكاه إلى القاضي الشافعي ابن صصرى وكان عدو الشيخ فسجن المزي فبلغ الشيخ تقي الدين فتألم لذلك وذهب إلى السجن فأخرجه منه بنفسه وراح إلى القصر فوجد القاضي هنالك فتقاولا بسبب الشيخ جمال الدين المزي فحلف ابن صصرى لا بد أن يعيده إلى السجن وإلا عزل نفسه فأمر النائب باعادته تطييبا لقلب القاضي فحبسه عنده في القوصية أياما ثم أطلقه ولما قدم نائب السلطنة ذكر له الشيخ تقي الدين ما جرى في حقه وحق اصحابه في غيبته فتألم النائب لذلك ونادى في البلد أن لا يتكلم احد في العقائد ومن عاد إلى تلك حل ماله ودمه ورتبت داره وحانوته فسكنت الامور</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ada sekolompok fuqaha yang mendengki Ibnu Taimiyah karena kedudukan tingginya dalam kenegaraan dan tindak-tanduknya yang sendirian menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran serta ketaatan dan cinta manusia kepadanya. Ditambah lagi dengan banyaknya pengikut, ilmu, dan amal  baik.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Terjadilah beberapa ketegangan di Damaskus sehubungan dengan absennya pejabat perwakilan sulthan. Sekelompok orang meminta Qadhi untuk mengadili Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya serta menahan sebagian dari mereka.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Disaat yang sama, al hafidz Al Mizzi membaca sebuah pasal tentang bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab [Khalqu] Af’alil Ibad milik Imam Bukhari dibawah Qubah Nashr (masjid Umawi,pent). Setelah membaca janji Imam bukhari yang disebabkan Oleh istisqa’ maka marahlah beberapa hadirin lalu mengadukannya kepada Qadhi Syafii Ibnu Shasra yang merupakan Musuh syaikh [ibnu Taimiyah]. Maka ditahanlah Al Mizzi. Berita tersebut sampai kepada Syaikh Taqiyuddin [Ibnu Taimiyah]. Berita tersebut menyeakiti perasaan beliau dan beliau langsung bergegas menuju penjara dan membebaskannya. Ibnu Taimiyah kemudian pergi menuju Istana dan bertemu dengan dengan Qadhi [Shasra] disana. Mereka kemudian berdebat terkait dengan syaikh Jamaluddi Al Mizzi. Ibnu Shasra bersumpah untuk kembali memenjarakan Al Mizzi atau ia mengundurkan diri sebagai Qadhi. [kabar sampai ke Mesir] Demi mendengar sumpah itu, maka pejabat perwakilan Sulthan memerintahkan untuk kembali memenjarakan al Mizzi untuk menyenangkan hati Qadhi [Ibnu Shasra] di kota Qusay [Mesir] selama beberapa hari kemudian melepaskannya kemballi.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketika pejabat perwakilan kesulthanan kembali ke Damaskus, Ibnu Taimiyah menceritakan kepadanya tentang hal yang terjadi kepadanya dan murid-muridnya ketika dia tidak ada. Pejabat tersebut sangat sakit hati kemudian mengumumkan di Damaskus bahwa tidak boleh seorangpun berdebat seputar Aqidah. Siapapun yang melakukannya maka halal harta dan darahnya serta rumah dan tokonya akan diratakan dengan tanah. Setelah itu keadaan menjadi tenang.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Cerita ini juga dituturkan Oleh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy dalam Kitab Dur Al-Kaminah 170/1</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;">في ثاني عشر رجب قرأ المزي فصلا من كتاب أفعال العباد للبخاري في الجامع فسمعه بعض الشافعية فغضب وقالوا نحن المقصودون بهذا ورفعوه إلى القاضي الشافعي فأمر بحبسه فبلغ ابن تيمية فتوجه إلى الحبس فأخرجه بيده</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pada 12 Rajab, Hafizh Al-Mizzi membacakan Kitab Khalq Af&#8217;al &#8216;Ibad karangan Imam Bukhari di Masjid Umawi. Beberapa Syafi&#8217;iyah mendengarkannya dan menjadi marah. Mereka mengatakan <strong>&#8220;Kitalah yang sedang dibicarakan&#8221;</strong>. Mereka kemudian mengadukannya [Hafizh Al-Mizzi] ke pengadilan melalui Qadhi Syafi&#8217;i dan ia memerintahkan agar beliau [Hafizh Al-Mizzi] ditahan. Berita ini sampai kepada Syaikh Ibnu Taimiyah, kemudian ia bergegas kepenjara dan membebaskannya sendirian.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kisah ini nampaknya sangat masyhur, terbukti banyak Ahli sejarah yang mencatat dalam kitab mereka. Selain dua ulama diatas, ulama lain yang mencatat kisah tersebut adalah As Sakhawi dalam I’lanut Taubih, As Shafadhi, dan Ibnu Abdil hadi Az Zahabi dalam <em>Tarikh Islam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sangat jelas kecintaan Ibnu Taimiyah terhadap al Mizzi dalam hal ini. Semoga Allah mengumpulkan kita dan beliau disyurga <em>Jannatun naim</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kekeliruan Asyairah</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa gerangan yang membuat Qadhi Syafii Marah dengan kitab karangan orang Sekaliber Imam Bukhari?</p>
<p style="text-align:justify;">Kita Tahu bahwa Ibnu Taimiyah dan Murid-muridnya mendapat ujian berat di Damaskus terkait dengan mazhab Salaf yang mereka bawa bertentangan dengan mazhab Asyariyah yang dianut oleh banyak ulama pemerintah saat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu katsir menceritakan kisah tersebut dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi ditahun 705 hijriah sehubungan dengan hal-hal yang terjadi kepada gurunya ibnu Taimiyah. Setting cerita tersebut secara jelas mengisahkan ketegangan-ketegangan antara ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dengan ulama-ulama Asyairah yang membuatnya diadili beberapa kali dan dipenjara selanjutnya dipindahkan kemesir.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai orang dekat ibnu Taimiyah, Al Mizzi kena getahnya karena membacakan kitab Khalqu Af’alil ibad yang membahas beberapa permasalahan Aqidah seperti ketinggian Allah, Kalamullah, rukyah, dan qadar.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana Kita ketahui bahwa Asyairah menyatakan bahwa Alqur’an adalah kalam nafsi. Konsekwensinya mereka meyakini bahwa Al qur’an yang diturunkan lewat Jibril adalah interpretasi dari jibril yang otomatis adalah makhluk. Memang mereka dilarang menyebutkan kepada orang awam bahwa Alqur’an yang ada ddidunia adalah makhluk, namun mereka mengatakan demikian dikalangan ahli ilmu diantara mereka atau ketika sedang belajar. Kalau mereka mengatakan bahwa Alqur’an adalah Kalamullah, maka yang dimaksud adalah Alqur’an yang ada di <em>Lauhil manhfudz </em>yang tak berhuruf dan tak bersuara. Sekalipun tidak sama dengan pemahaman jahmiyah secara utuh, namun paling tidak mereka telah mengadopsi pemahaman jahmiyah dalam mengatakan bahwa Alqur’an yang ada didunia ini adalah makhluk.</p>
<p>Ahlussunnah memahami bahwa alqur’an merupakan kalamullah yang bersuara dan berhuruf serta sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Taala yang tidak sama dengan makhluknya sebagaimana terdapat dalam Kitab <em>Khalqu af&#8217;alil Ibad</em>.</p>
<p>Dari sinilah kemungkinan besar muncul kejengkelan Syafiiyah tersebut dan melaporkah Al Mizzi kepada Hakim lalu memenjarakan Beliau. yang jelas point-point dalam Kitab khalqu Af&#8217;alil Ibad memang bertentangan dengan Paham Asyairah</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh cerita Ini telah membongkar kekeliruan  Asyairah dan kebencian mereka terhadap Imam-Imam Sunnah.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaramu: dobdob</p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Al-Hafizh al-Mizzi rahimahullah adalah seorang ulama besar ahlus Sunnah bermadzhab Syafi’i.<br />
Nama lengkapnya adalah Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman ad-Dimasyqi.<br />
Biografi beliau dapat kita temui dalam kitab Thabaqat Syafi’iyah al-Kubra karya Tajudin as-Subki rahimahullah, juga kitab Thabaqat al-Huffazh karya imam Jalaludin as-Suyuti rahimahullah dan kitab2 lainnya.<br />
Beliau adalah mertua sekaligus guru dari imam ibnu Katsir rahimahullah dan juga imam adz-Dzahabi rahimahullah serta As Subki<br />
Karyanya yang paling besar adalah kitab Tahdzib al-Kamal fii Asma ar-Rijal (dan juga al-Athraf), yang dianggap sebagai salah satu kitab yang terbaik dalam penulisan biografi para periwayat hadits.<br />
Imam as-Subki rahimahullah menyebut beliau sebagai salah seorang diantara ulama2 hadits yang paling terkenal di zamannya dan dia tidak pernah melihat orang yang lebih hafidz dari 4 orang. Salah satunya adalah beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Biogragi Al Mizzi disebutkan dalam jajaran Huffadz oleh Az Zahabi yang juga merupakan muridnya dalam Kitab yang bernama Tazkiratul Huffadz. Beliau menyebutkan:</p>
<p>Guru kami Al Imam Al alim yang sholeh dan Hafidz. Salah seorang Muhaddits syam Jamaluddin Abu al Hajjâj Yusuf bin Zaki Abdurrahman bi Yusuf al Qadhâi Al kalbi Al Dimasqi Al Syafii.</p>
<p style="text-align:justify;">Lahir di tengah kota Halab pada tahun 656 Hijriah dan tumbuh di Mizzah. Hafal qur’an dan mulai ahli fiqih kemudian mencapai ketinggian derajat keahlian. Beliau belajar kitab al Hilyah seluruhnya dan banyak kitab lain kepada ibnu Abi al Khair tahun 705 Hijriah. Beliau juga Belajar Musnad, kutubussittah, Mu’jam tabrani, dan beberapa bagian ath Thibrizadiyah dan al Kindiyah.beliau belajar sohih Muslim dari al Irbilî kemudian melakukan rihlah pada tahun 683 Hijriah lalu belajar dari al Izz al Harrânî, ibnu al anmâthî, Ghazy, dan yang selevel dengan mereka. Beliau belajar di dua tanah haram, halab, Hamat, ba’labak, dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengarang Kitab Tahzib [al kamal fi ma’rifati al rijal] sejumlah 200 bagian. Beliau juga mengarang kitab al Athraf (al Asyraf fi ma’rifatil Athraf, red) sebanyak 80 bagian lebih dan mentakhrijnya untuk dirinya sendiri kemudian mendiktekkan dan menjelaskan kemusykilan dan detil-detilnya di beberapa majlis sehubungan dengan pengetahuannya yang mendalam terhadap ilmu hadits dn rijalnya. Dia juga menggantikan beberapa syaikh diantara di Madrasah al Asyrafiyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia adalah orang yang tsiqah, sumber ilmu yang banyak, baik akhlaknya, banyak diam, sedikit berbicara, bagus logatnya dan tidak memilki kecendrungan kepada hawa nafsu, mengetahui dan menukil thabaqah ketika menyampaikan hadits. Sepertinya Ia sama sekali tidk asing dengan apa yang ia baca dan bahkan ia mengaitkan sanad-sanad dengan matan secara baik dan berfaidah yang membuat takjub jamaah yang mendengarnya. Beliau Tawadhu, pemurah, sabar, sederhana dalam berpakain dan makan dan banyak menempuh kebaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau banyak bersama dengan ibnu Taimiyah dalam belajar hadits dan melakukan penelitian ilmiah. Beliau juga menetapkan yang ditempuh salaf dalam sunnah lalu menggunakannya untuk memperkuat untuk membahas penelitian-penelitian ilmiah dan Kaidah-kaidah kalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Terjadi perdebatan dan pertentangan antara aku dan dia yang meninggalkan hal tersebut justeru lebih selamat dan lebih utama.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekalipun begitu, beliau memiliki banyak karya dan hal-hal lain yang –alhamdulillah- baik dan selamat. Namun mungkin aku tidak mengetahuinya dalam  1000 hal tentang hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya [dobdob] tidak setuju untuk menyetakan bahwa seseorang pernah mencicipi ilmu hadits kalau dia tidak mengenal Al Mizzi. Allahu a’lam</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al Bidayah Wannihayah pada peristiwa tahun 728 Hijriah seputar wafatnya syaikhul Islam</p>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/biografi/'>Biografi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=615&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/19/pembelaan-untuk-al-mizzi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/help.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">help</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Bidâyah wa al nihâyah- Al Hâfiż Ibnu Katsir_Serial Biografi ibnu Taimiyah IV</title>
		<link>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/12/al-bidayah-wa-al-nihayah-al-hafiz-ibnu-katsir_serial-biografi-ibnu-taimiyah-iv/</link>
		<comments>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/12/al-bidayah-wa-al-nihayah-al-hafiz-ibnu-katsir_serial-biografi-ibnu-taimiyah-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 04:02:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dobdob</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaikhulislam.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[[1]Berkata Alimuddin al Barzâlî dalam kitab Tarikhnya: Pada malam senin Tanggal 20 Dzulqa’dah Wafatlah al Syaikh Al Imâm al âlim al Allâmah al Faqîh al Hâfiz al Zâhid al âbid al Mujâhid al Qudwah Syaikhul Islâm al Taqî al dîn Abu al Abbâs Ahmad anak dari guru kami al alîm al Allâmah al Muftî Syihab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=590&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftn1"></a><a href="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/cover-utama.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-593" title="cover utama" src="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/cover-utama.png?w=208&#038;h=300" alt="" width="208" height="300" /></a>[1]Berkata Alimuddin al Barzâlî dalam kitab Tarikhnya: Pada malam senin Tanggal 20 Dzulqa’dah Wafatlah al Syaikh Al Imâm al âlim al Allâmah al Faqîh al Hâfiz al Zâhid al âbid al Mujâhid al Qudwah Syaikhul Islâm al Taqî al dîn Abu al Abbâs Ahmad anak dari guru kami al alîm al Allâmah al Muftî Syihab al dîn abi al Mahâsin Abdul Halîm bin syaikh al Islâm abu al  Barâkat Abdul al Salâm<a href="#_ftn2">[2]</a> bin Abdullah bin Abu al Qâsim bin Taimiyah al Harrânî al Dimasyqî disebuah ruangan dimana ia dipenjara.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kemudian berbondong-bondong orang datang mengunjungi jenazah beliau <span id="more-590"></span>kebenteng dimana ruangan penjara tersebut berada dan mereka diizinkan masuk. Mereka duduk disisi jenazah sebelum dimandikan. Mereka membaca qur’an dan bertabarruk dengan melihat dan menciumnya. Mereka kemudian pergi dan digantikan rombongan lain dari kalangan perempuan lalu kemudian mereka melakukan seperti sebelumnya kemudian digantikan rombongan lain hingga jenazah beliau dimandikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai dimandikan, jenazah beliau dikeluarkan sedangkan  massa telah berkumpul dibenteng dan  jalan menuju masjid jami. Masjid Jami’ pun telah penuh sesak begitu juga pelatarannya. 4 pintu masuk benteng –bab al barîd, bâb al al Sâat, bab al fawrah juga penuh sesak. Jenazah Ibnu Taimiyah dihadirkan pada sekitar jam 4 sore hari kemudian diletakkan di Masjid Jami. Para tentara mengantisipasi ledakan pelawat karena saking sesaknya dengan menjaga ketat jasad Ibnu Taimiyah.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jasad Ibnu Taimiyah pertama kali disholatkan didalam benteng oleh Oleh Syaikh Muhammad Tamâm kemudian disholatkan dimasjid Jami al Umawi setelah sholat zuhur. Jasad beliau dibawa masuk lewat bâb al barîd dan pelayat makin berlipat ganda sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Kemudian bertambah lagi hingga membuat sempit celah antar rumah,jalan-jalan, dan juga pasar.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah disholatkan, keranda Jenazah beliau keluar dari bab al bârid dan diusung diatas ujung-ujung jari para pelayat. Kesesakan makin menjadi-jadi, ratap tangis meninggi, derai air mata tumpah tak terkendali diselingi  doa, pujian, dan <em>tarahum </em>kepada jenazah beliau. Orang-orang melempar sapu tangan, sorban, dan baju-baju mereka keatas keranda. Saking sesaknya, sandal-sandal merekapun hilang entah kemana namun itu tidak membuat mereka berpaling karena sibuknya memandang jenzah beliau. Karena diperebutkan, maka jadilah keranda tersebut kadang kedepan dan kadang kembali kebelakang dan kadang berhenti sampai oranag-orang lewat. Massa keluar dari Masjid Jami dari semua Pintu dan mereka amat berdesak-desakan Hingga Setiap pintu tampak lebih sempit dan sesak dari pintu yang lain. Kemudian seluruh massa keluar dari pintu negeri tersebut karena saking sesaknya. Kesesakkan terbesar terjadi pada 4 pintu –bab al farj tempat keluarnya jenazah, bab al Farâdîs, bab al Nashr, dan bab al Jabiyah. Kesesakan terparah terjadi di pasar al kholîl, massa bertambah berlipat-lipat karena jenazah diletakkan disana dan disholatkan terlebih dahulu oleh saudaranya Zainuddin Abdurrahman setelah itu dibawa ke pekuburan shuffiyah. Jenazah beliau dikubur disamping  saudaranya Syarafuddin Abdullah. Semoga Allah memuliakan keduanya.</p>
<p>Jenazah Beliau dikuburkan diwaktu Ashar atau sesaat sebelum Ashar. Hal itu disebabkan oleh banyaknya orang yang datang untuk menyolatinya dari penduduk Basatin, ghutah, dan penduduk negeri lainnya. Mereka menutup kandang-kandang hewan mereka dan tak ketinggalan untuk melayat beliau kecuali segelintir orang atau karena tidak kuat berdesak-desakan namun tetap mendoakan beliau. Sekiranya mereka kuat niscaya mereka tak akan ketinggalan. Hadir melayat beliau dari kalangan perempuan sekitar 50 ribu orang. Jumlah itu selain yang berada di atap-atap rumah. seluruhnya menangis dan mengucapkan tarahum kepada Ibnu Taimiyah. Adapun jumlah pelayat laki-laki sekitar 90 puluh ribu hingga 200 ribu orang. Sekelompok orang meminum air sisa mandi jenazah dan membagi-bagikan daun bidara  yang digunakan untuk memandikan beliau. Konon tutup kepala yang dipakai ibnu taimiyah dijual seharga 50 dirham dan konon benang luntur yang terdapat dilehernya terjual seharga 150 dirham. Pemakaman jenazah tersebut sangat riuh dengan suara tangis dan memelas. Beliau mengakhiri hidupnya dengan kebaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Manusia berbolak-balik menziarahi kuburannya berhari-hari baik siang maupun malam bahkan menginap. Beliau dimimpikan dengan berbagai mimpi yang baik dan banyak orang yang membuat qasidah pujian yang melimpah untuk beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beliau lahir pada hari senin tanggal 10 Rabiul Awal di Harrân tahun 661 Hijriah kemudian pindah ke Damaskus bersama ayah dan keluarganya ketika beliau masih kecil. Beliau belajar Hadits dari ibnu Abd al Dâim , Ibnu abi al Yusr, ibnu Abdin, Syamsuddin al Hambali, Qadhi Syamsuddin bin Atha al Hanafi, syaikh Jamaluddin bin Shoyrafî, Majd al dîn bin Asâkir, syaikh Jamaluddin al Baghdaadi, Najib bin Miqdad, Ibnu abi al Khair, Ibnu Allân, ibnu Abi Bakr al Harawi, Kamal Abdur rahim, Fakhr Ali, Ibnu Syaibân, Syaraf bin Qawwâs, Zainab binti Makki, dan banyak lagi. Beliau juga banyak belajar secara otodidak, mencari hadits, menulis, dan memperdengarkan sendiri. Sesedikit apapun yang ia dengar, niscaya ia akan menghapalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beliau Sibuk dengan ilmu-ilmu pengetahuan, cerdas dan banyak menghapal, hal itu membuatnya menjadi seorang Imam dalam ilmu Tafsir dan yang berkaitan dengannya. Beliau amat familiar dengan ilmu fiqh; beliau lah yang paling mengenal fiqh Mazhab dizamannya. Sangat mengetahui perbedaan pendapat dikalangan ulama, alim dalam ilmu ushul dan furu’, nahwu, bahasa, dan ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah yang lain. Ketika beliau memutuskan sesuatu dan berbicara tentang sebuah cabang ilmu bersama orang-orang terkemuka dibidangnya maka mereka akan mengira bahwa cabang ilmu tersebut adalah spesialisasinya. Mereka melihat beliau amat mengetahui dan memiliki penguasaan yang sempurna tentang ilmu tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Adapun hadits, maka beliaulah pemegang benderanya. Beliau hapal matan maupun sanadnya, mampu membedakan antara yang lemah dan yang sohih, amat mengenal rijal-rijal secara mendalam. Dia memiliki banyak karangan-karang dan ta’liq berfaidah terkait ushul dan furu’. Sebagiannya beliau sempurnakan sendiri, ada yang disalin ulang dan ditulis kembali kemudian dibacakan didepan beliau, dan juga ada sejumlah besar karya yang belum selesai, dan sebagian lagi sudah selesai namun sampai sekarang belum ditulis kembali<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beliau dipuji oleh banyak ulama dizamannya karena ilmu dan keutamaannya, antara lain Qadhi al khuwaini, Ibnu Daqiq al ied, Ibnu al Nuhas Qadhi Hanafi Qadhi Mesir Ibnu al Hariri, Ibnu Zamlakani dll.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Aku membaca tulisan ibnu Zamlakani yang mengatakan: telah terkumpul didalam dirinya syarat-syarat ijtihad yang sempurna. Dia memiliki tangan yang panjang dalam hal kebagusan mengarang kitab, keelokan ungkapan, kesistematisan, pemahaman, dan penjelasan. Ia menulis tiga bait syair berikut disalah satu karangannya:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">مَاذَا يَقُولُ الْوَاصِفُوْنَ لَهُ                    *****              وَصِفَاتُهُ جَلَّتْ عَنِ الْحَصْرِ</p>
<p>هُوَ حُجَّةٌ للهِ قَاهِرَةٌ                         *****                   هُوَ بَيْنَنَا أُعْجُوْبَةُ الدَّهْرِ</p>
<p>هُوَ آيَةٌ ِللْخَلْقِ ظَاهِرَةٌ                        *****               أَنْوَارُهَا أَرْبَتْ عَلَى الْفَجْر<br />
ِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Apa yang kan diuraikan mereka yang mensifatkannya</em><em><br />
Sedangkan sifat-sifatnya melampaui batasan<br />
Dia adalah hujjah Allah yang menaklukkan<br />
Dia adalah keajaiban masa di tengah-tengah kita<br />
Dia adalah satu ayat Allah yang nyata bagi makhluk-Nya<br />
Cahayanya mengalahkan kemilau fajar</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">itulah puji-pujian untuk Ibnu taimiyah. Ketika itu umurnya 30 tahun, antara aku dan telah terdapat rasa sayang dan persahabatan sejak kecil. Begitu juga kebersamaan dalam belajar dan mendengar hadits selama kurang lebih 50 tahun. Dia memiliki banyak keutamaan, karangan. Begitu juga sejarah dan peristiwa antara dia dengan para fuqaha dan Negara. Dia juga dipenjara beberapa kali. Peristiwa-peristiwa mengenai dirinya tdak mungkin disebutkan semuanya didalam kitab ini.</p>
<p>Ketika dia wafat, aku (Al Zamlakani) sedang tidak berada di Damaskus. Aku sedang dalam perjalanan menuju tanah hijaz yang mulia kemudian sampai kepadaku kabar tentang kematiannya setelah 50 hari bertepatan dengan sampainya aku di Tabuk. Ada rasa sesal karena kehilangannya. Semoga Allah memulikannya. Inilah yang ia katakan tentang Ibnu Taimiyah dalam kitab tarikhnya<a href="#_ftn4">[4]</a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">kemudian Syaikh Alimuddin menyebutkan dalam tarikhnya setelah menceritakan pemakaman Abu bakr bin Abi Dawud dan keagungannya dan juga pemakaman Imam Ahmad di Baghdad dan kemasyuharannya.: berkata al Imam Abu Utsman al Shâbunî : aku mendengar Abu Abdirrahman Al Suyûfî berkata: Aku menghadiri pemakaman Abu al Fath al Qawwâs bersama Syaikh Abu al Hasan al Daruqutni, ketika massa yang menghadiri pemakaman tersebut sangat banyak, ia menoleh kepadaku dan berkata: Aku mendengar Abu sahl bin Ziyad al Qatthân berkata: aku mendengar Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata : aku mendengar bapakku berkata: katakan kepada Ahli bid’ah! “Perbedaan antara kita dan kalian adalah pemakaman”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>ia berkata: tak diragukan lagi bahwa pemakaman Imam Ahmad bin Hambal dihadiri massa yang amat banyak karena banyaknya jumlah penduduk negerinya dan berkumpulnya mereka untuk pemakaman tersebut ditambah lagi pemerintahpun mencintainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyah Rahimahullah wafat dinegerinya-Damaskus- sedangkan jumlah penduduknya tidak mencapai sepersepuluh dari jumlah penduduk Baghdad kala itu. Tetapi mereka berkumpul di pemakamannya dan mengantar ketempat terakhirnya dengan jumlah yang tidak mungkin mampu dikumpulkan oleh sulthan dan dewan yang berkuasa padahal ia Wafat didalam penjara dalam keadaan dikurung oleh Sulthan. Banyak Fuqaha dan orang-orang Faqir menjelek-jelekkannya hingga membuat lari pemeluk berbagai agama, terlebih lagi yang beragama Islam. Namun itulah realitas pemakamannya<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ia berkata: telah disepakati bahwa ia wafat pada dini hari malam senin. Muazzin benteng kemudian mengabarkan kematian beliau dari atas menara dan para penjaga benteng tersebut membicarakan kematian beliau. Ketika pagi hari, kabar besar ini telah menyebar dikalangan khalayak umum dan Amir Jasim. Massa pun bersegera berkumpul disekitar benteng dari berbagai tempat hingga yang berasal dari Ghutah dan Marj. Para pedagang tidak memasak dan toko-toko pun banyak yang tidak dibuka seperti kebiasaan mereka yang membuka toko pada pagi hari. Saat itu wakil Shultan sedang berburu disuatu tempat. Memanaslah keadaan Negara dengan apa yang terjadi. Datanglah kepala penjara Al Shahih Syamsuddin ghibriyal. Ia membuka pintu penjara dan pintu ruangan untuk para kerabat, sahabat, dan pecinta Ibnu Taimiyah agar bisa Berkumpul disekitar Jenazah. Sejumlah sahabat dari negerinya dan dari sholihiyyah. Mereka juga duduk disekelilingnya sembari menangis dan memujinya. Aku (ibnu katsir)  termasuk yang hadir disana bersama guruku Al Hafidz abi al Hajjaj al Mizzi<a href="#_ftn7">[7]</a> Rahimahullah. Aku membuka wajah Syaikh, memandangnya, dan menciumnya. Dikepalanya ada sebuah sorban dengan rumbai yang menyelip. Ubannya telah tumbuh jauh lebih banyak dari yang aku lihat sejak aku berjumpa dengan beliau. Saudaranya-Zainuddin  Abdurrahman- memberitahu bahwa dia dan syaikh telah mengkhatamkan qur’an sebanyak 80 kali semenjak masuk penjara dan mulai membaca yang ke-81 sampai selesai ayat <em>Iqtarabat. </em>Ketika itu datanag dua orang shalih yang baik yaitu syaikh Abdullah bin Muhib dan Abdullah al zarî’ yang bacaannya disukai oleh syaikh. Keduanya kemudian memulai membaca surat al Rahman hingga mengkhatamkan Al qur’an sementara aku mendengarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kemudian mereka mulai memandikan Syaikh dan aku keluar menuju masjid disana. Tidak seorangpun yang berada disisinya kecuali yang membantu memandikan syaikh, Guruku Al Hafidz al Mizzi dan sekelompok orang-orang solih dan terpilih termasuk yang membantu untuk memandikan syaikh.  Mereka belum juga selesai memandikan syaikh padahal benteng telah penuh dengan massa dan riuh tangis serta pujian, doa, dan Tarahum. Kemudian Jenazah dibawa kemasjid Jami melewati jalan Imadiyah dan adiliyah. Mereka memiringkan keranda jenazah dan melewati bab Al barid, hal itu karena bagian belakang pintu tersebut dihancurkan agar bisa digunakan. Merekapun memasukkan jenazah kemasjid jami Umawi. Massa berada didepan Jenazah, belakang, kanan, dan sebelah kirinya. Tak ada lagi yang dapat menghitung jumlah massa kecuali Allah. Mereka berteriak-teriak keras. Beginilah keadaan Jenazah salah seorang Imam sunnah, merekapun menangis bersahut-sahutan dan membuat kegaduhan ketika mendengar teriakan-teriakan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jenazah beliau diletakkan ditempat khusus. Massa duduk tak beraturan karena banyak dan berdesak-desakkan, bahkan mereka seperti saling menempel. Seorangpun tak dapat melakukan sujud kecuali dengan bersusah payah dan berhimpitan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Hal itu terjadi sesaat sebelum sholat zuhur, massa datang dari segala tempat, mereka berniat puasa karena mereka tidak sempat untuk makan dan minum. Banyaknya massa pada saat itu tak terhitung dan tak bisa digambarkan. Setelah selesai Adzan zuhur, dilaksanakanlah sholat yang tidak seperti biasanya. Setelah selesai sholat zuhur keluarlah pengganti Khotib masjid karena tidak hadirnya khotib dan ia menyolati jenazah IbnuTaimiyah. Dia adalah Syaikh Alauddin bin Kharrat. Setelah itu massa keluar dari setiap pintu masjid dan negeri lalu berkumpul di Pasar al Khalil. Sebagian massa ada yang tergopoh-gopoh menuju pekuburan shuffiyah setelah melaksanakan sholat jenazah. Mereka menangis dan bertahlil serta khawatir pada diri mereka sendiri. Mereka memuji dan menyesal. Para wanita diatas atap rumah sembari menangis, berdoa, dan berucap: “inilah orang yang alim”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Secara garis besar, hari itu adalah hari yang penuh dengan kesaksian dan tak pernah terjadi di damaskus, kecuali pada zaman Bani Umayyah ketika penduduk masih banyak dan masih merupakan negeri yang dinaungi khilafah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jenazah Beliau dikuburkan disamping saudaranya tepat menjelang adzan Ashar. Tak mungkin seorangpun menghitung massa yang menghadiri prosesi pemakaman tersebut. Kira-kira yang hadir pada saat itu adalah sama dengan semua warga yang bisa hadir. Tak ketinggalan dalam prosesi tersebut kecuali sedikit dari orang-orang rendahan dan wanita-wanita yang dipingit. Aku tidak mengetahui seorangpun dari ahli ilmu yang tidak menghadiri prosesi tersebut kecuali sedikit, mereka ada 3 orang : Ibnu Jumlah, Al Shadr, dan Al Qafajârî. Mereka terkenal memusuhi Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu mereka takut menghadiri prosesi tersebut. Karena kalau mereka ketahuan keluar, maka massa akan membunuh dan membinasakan mereka. Syaikh Kami al Imam al Allamah Burhanuddin al Fazârî berbolak-bolak kekubur hingga 3 hari, begitu juga sekelompok ulama Syafiiyah. Burhanuddin  al Fazârî datang menunggang keledainya dia memiliki kemuliaan dan wibawa. Semoga Allah merahmati beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Banyak ucapan bela sungkawa yang menyertai, beliau juga diimpikan oleh orang-orang sholeh. Syair-syair dan Qasidah-Qasidah panjang banyak ditujukan untuk beliau. Biografi beliau dikarang oleh banyak kelompok dan Fudhala<a href="#_ftn8">[8]</a>. Tak teringkas biografi untuk menyebutkan kebaikan, keutamaan, keberanian, kemurahan, nasehat, kezuhudan, ibadah, berbagai macam ilmu, karangan kecil dan besar yang mencakup hampir semua bidang keilmuan serta fatwa-fatwa dan pilihan pendapatnya yang ia bela dengan Alqur’an dan Sunnah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Secara Garis besar, beliau Rahimahullah adalah termasuk ulama besar. Bisa salah dan benar, Tetapi kesalahannya dibandingkan dengan kebenarannya bagaikan sebuah titik dilautan. Kesalaannya pun terampuni sebagaimana dalam Sohih Bukhari: <em>Jika seorang hakim berijtihad kemudian benar, maka baginya dua pahala. Kalau ia berijtihad kemudian Salah, maka baginya satu pahala.</em> Berkata Imam malik bin Anas: <em>setiap orang bisa diambil pendapatnya dan ditinggalkan kecuali penghuni kubur ini </em>(Rasulullah, Red)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Silahkan membaca langsung dari kitab Al bidâyah wa al Nihâyah pada peristiwa yang terjadi di tahun 728 Hijriah</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Beliau adalah pengarang  dan penyusun Muntaqa al akhbâr yang disyarah oleh Imam syaukani dengan Judul Nailul Awthar yang tersohor itu. Laqab beliau adalah Majduddin Ibnu Taimiyah</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Maksudnya belum disusun dengan rapi untuk diterbitkan secara masal ketika Ibnu katsir menulis kitab ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Perlu diketahui bahwa al Zamlakani memiliki pendapat-pendapat yang miring tentang Ibnu Taimiyah,namun secara jelas terbukti disini  bahwa rasa kagum dan hormatnya mampu membuatnya menyesal kehilangan Ibnu Taimiyah ketika dia tidak mendapati kematian beliau.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Maksudnya perbedaan antara ahli bid’ah dan ahli sunnah dapat diindaksikan lewat banyaknya orang yang melayat dan mendoakan</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> Keberaniannya dalam mengatakan kebenaran membuat dia kerap berurusan dengan fuqaha lain dan juga pemerintah, akibatnya mereka memfitnah dan menjauhkan beliau dari masyarakat. Namun hari penguburannya menjadi saksi kebenaran ijtihadnya. Wallahu a’lam</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Pemilik kitab Tahzibul Kamal yang masyhur. Guru dan juga mertuanya Ibnu Katsir . alhafidz abul fida’ Ibnu katsir dan Ibnu Hajar pernah menceritakan bahwa Al Mizzi pernah ditahan karena membaca kitab Khalqu Af alil Ibab karya Imam Bukhari kemudian dibebaskan atas usaha dari Ibnu Taimiyah.<strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong>Al-Bidayah  Wa an-Nihayah 18/54 dan Durar Al-Kaminah 170/1</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Saya belum tahu ada ulama semasa Ibnu Taimiyah yang memiki kitab biografi yang lebih banyak dan lebih lengkap dari beliau</p>
<br />Filed under: <a href='http://syaikhulislam.wordpress.com/category/biografi/'>Biografi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaikhulislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaikhulislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaikhulislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaikhulislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaikhulislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaikhulislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaikhulislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaikhulislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaikhulislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaikhulislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaikhulislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaikhulislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaikhulislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaikhulislam.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaikhulislam.wordpress.com&amp;blog=12366904&amp;post=590&amp;subd=syaikhulislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/08/12/al-bidayah-wa-al-nihayah-al-hafiz-ibnu-katsir_serial-biografi-ibnu-taimiyah-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b553fcf4f04c7ea8c4618936f6f600e7?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dobdob</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syaikhulislam.files.wordpress.com/2010/08/cover-utama.png?w=208" medium="image">
			<media:title type="html">cover utama</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
