MAJMU FATAWA : dimana ALLAH?

10 Mar

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Salah Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.” Sedangkan yang satunya lagi berkata, “Sesungguhnya Allah itu tidak dibatasi oleh tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i rodhiAllahu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar?

Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Alhamdulillah, keyakinan Asy Syafi’i rohimahulloh dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.

Begitu pula Abu Hanifah rohmatullohi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah.

Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah

الحمد لله الَّذِي هُوَ كَمَا وصف بِهِ نفسه، وفوق مَا يصفه بِهِ خلقه.

“Segala puji bagi Allah yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.”

Dengan demikian beliau rohimahulloh menjelaskan bahwa Allah itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan rosul-Nya shollAllahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Allah tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rosul-Nya shollAllahu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (visualisasi), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur sebagaimana yang Ia telah tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:

لَيْسَ كمثله شيء وَهُوَ السميع البصير

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun, dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Kemudian beliau berkata: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy; Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa; Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki satupun unsur sifat yang sama dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, Qudrah-Nya tidak sama dengan Qudrah siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita bahwa di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera, dan emas. Ibnu Abbas telah berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مما فِي الآخرة إِلاَّ الأسماء.

“Tidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.”

Apabila makhluk-makhluk yang gaib ini ternyata tidak sama dengan makhluk-makhluk yang tampak ini -padahal namanya sama- maka Sang Pencipta tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-Nya, inilah perbedaan Pencipta dengan makhluk yang diciptakan, meskipun namanya sama.

Allah telah menamai diri-Nya Hayyan ‘Aliiman (Maha Hidup, Maha Mengetahui), Samii’an Bashiiran (Maha Mendengar, Maha Melihat), dan nama-Nya yang lain adalah Ra’uuf Rahiim (Maha Lembut, Maha Penyayang); Allah itu hidup tidak seperti hidup yang dialami oleh makhluk, pengetahuan Allah tidak seperti pengetahuan makhluk, pendengaran Allah tidak seperti yang dialami pendengaran makhluk, penglihatan Allah tidak seperti penglihatan makhluk, kelembutan Allah tidak seperti kelembutan makhluk, kasih sayang Allah tidak seperti kasih sayang makhluk.

Nabi bersabda dalam konteks hadits budak perempuan yang cukup populer: “Di mana Allah?” Budak tersebut menjawab, “(Allah) di atas langit.” Akan tetapi bukan berarti maknanya Allah berada di dalam langit, sehingga langit itu membatasi dan meliputi-Nya. Keyakinan seperti ini tidak ada seorang pun ulama salaf dan ulama yang mengatakannya; akan tetapi mereka semuanya bersepakat Allah berada di atas seluruh langit ciptaan-Nya. Dia bersemayam (tinggi) di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya; tidak terdapat sedikit pun unsur Dzat-Nya di dalam makhluk-Nya, begitu pula, tidak terdapat sedikit pun unsur makhluk-Nya di dalam Dzat-Nya.

Malik bin Anas pernah berkata:

إن الله فَوْقَ السماء، وعلمه فِي كلّ مكان

“Sesungguhnya Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.”

Kemudian Beliau Berkata: “Maka barang siapa yang meyakini Allah berada di dalam langit dalam artian dibatasi dan diliputi oleh langit dan meyakini Allah membutuhkan ‘Arsy atau makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bid’ah dan jahil (bodoh). Barang siapa yang meyakini kalau di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Mu’aththil Fir’auni (penolak sifat Allah dan pengikut Fir’aun), sesat dan pembuat bid’ah.

-setelah penjelasan yang panjang -, Maksud Orang yang mengatakan, “Barang siapa tidak meyakini Allah di atas langit adalah sesat”, jika yang dimaksudkan adalah “barang siapa yang tidak meyakini Allah itu di dalam lingkup langit sehingga Allah dibatasi dan diliputi langit (adalah sesat,red)” maka perkataannya itu keliru.

Sedangkan jika yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah “barang siapa yang tidak meyakini apa yang tercantum di dalam Kitab dan Sunnah serta telah disepakati oleh generasi awal umat ini dan para ulamanya -yaitu Allah berada di atas langit bersemayam di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya-(adalah sesat, red) maka dia benar. Siapa saja yang tidak meyakininya berarti mendustakan Rosul shollAllahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti selain orang-orang yang beriman. Bahkan sesungguhnya dia telah menolak dan meniadakan Tuhannya; sehingga pada hakikatnya tidak memiliki Tuhan yang disembah, tidak ada Tuhan yang dimintainya, tidak ada Tuhan yang ditujunya.”

Padahal Allah menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru: “Ya Allah!!” kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.

Ahlu ta’thil dan ta’wil (penolak dan penyeleweng sifat Allah) memiliki syubhat dalam hal ini. Mereka benturkan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam dengan syubhat ini, mereka tentang kesepakatan salaful ummah dan para ulama. Mereka tentang fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hambaNya, mereka tentang sesuatu yang telah terbukti dengan akal sehat. Dalil-dalil ini semua bersepakat bahwa Allah itu berada di atas makhluk-Nya, tinggi di atasnya. Keyakinan semacam ini Allah anugerahkan sebagai fitrah yang dimiliki oleh orang-orang tua bahkan anak-anak kecil dan juga diyakini oleh orang badui; sebagaimana Allah menganugerahkan fitrah berupa pengakuan terhadap adanya (Allah) Pencipta Yang Maha tinggi. Rosulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

كلّ مولود يولد عَلَى الفطرة؛ فأبواه يهودانه، أَوْ ينصّرانه، أَوْ يمجسانه، كَمَا تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هَلْ تحسّون فِيهَا من جدعاء؟

“Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah; Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor binatang melahirkan anak dengan utuh tanpa ada anggota tubuh yang hilang, apakah menurutmu ada yang hilang telinganya (tanpa sebab sejak dari lahirnya)?”

Kemudian Abu Hurairah rodhiAllahu ‘anhu berkata: Jika kalian mau bacalah,

فطرة الله الَّتِي فطر النَّاس عَلَيْهَا، لاَ تبديل لخلق الله

Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (Ar Rum:30)

Inilah maksud dari perkataan Umar bin Abdul ‘Aziz: “Ikutilah agama orang-orang badui dan anak-anak kecil yang masih asli, yakinilah fitrah yang telah Allah berikan kepada mereka, karena Allah menetapkan fitrah hambanya diatas kebenaran, dan para rasul diutus untuk menyempurnakan fitrah dan menetapkannya bukan untuk menyimpangkan dan juga bukan untuk mengubahnya.”

Sedangkan musuh-musuh para rosul seperti kaum Jahmiyah Fir’auniyah dan lain-lain itu bermaksud mengganti dan mengubah fitrah yang Allah berikan, mereka lontarkan berbagai syubhat/kerancuan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas sehingga banyak orang itu tidak mengerti maksudnya; dan tidak bisa membantah mereka.

Sumber kesesatan mereka adalah penggunaan istilah-istilah yang bersifat global dan tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rosul-Nya shollAllahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah pula dikatakan oleh salah seorang ulama kaum muslimin, seperti istilah tahayyuz, jisim (jasad/raga), jihhah (arah) dan lain sebagainya.

Barang siapa yang mengetahui bantahan syubhat mereka hendaklah dia menjelaskannya, namun barang siapa yang tidak mengetahuinya hendaknya tidak berbicara dengan mereka dan janganlah menerima kecuali yang berasal dari Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana yang difirmankan Allah,

وَإِذَا رأيت الَّذِينَ يخوضون فِي آياتنا فأعرض عنهم حتّى يخوضوا فِي حديثٍ غيره

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Kami maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengganti pembicaraan.”(Al An’am:68)

Barang siapa berbicara tentang Allah, Nama dan Sifat-Nya dengan pendapat yang bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka dia termasuk orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Allah secara batil.

Kebanyakan dari mereka telah menisbatkan kepada para ulama kaum muslimin berbagai hal yang tidak pernah mereka katakan, Mereka menisbatkan kepada AS Syafii, Ahmad bin hambal, Malik, dan Abu Hanifah berbagai hal terkait I’tiqad yang tidak pernah mereka katakan. Kemudian mereka katakan kepada para pengikut imam-imam itu: inilah keyakinan Imam Fulan; oleh karena itu apabila mereka dituntut untuk membuktikannya dengan penukilan yang sah dari para imam niscaya akan terbongkar kedustaannya.

Asy Syafi’i mengatakan, “Hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada Ahli ilmu kalam (baca: ahli filsafat) menurutku adalah dipukuli dengan pelepah kurma dan sandal lalu diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan kaum-kaum sambil diumumkan: ‘Inilah balasan/hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan malah menekuni ilmu kalam.’”

Abu Yusuf Al Qadhi berkata, “Barang siapa menuntut ilmu agama dengan belajar ilmu kalam niscaya  akan menjadi zindiq.”

Ahmad mengatakan “Tidak akan beruntung orang yang menggeluti ilmu kalam.”

Sebagian ulama mengatakan: Kaum mu’aththilah (penolak sifat Allah) itu pada hakikatnya adalah penyembah sesuatu yang tidak ada, sedangkan kaum mumatstsilah/penyerupa sifat Allah dengan sifat makhluk itu adalah penyembah patung. Mu’aththil itu buta, dan mumatstsil itu rabun; padahal agama Allah itu berada antara sikap melampaui batas/ghuluw dan sikap meremehkan.

Allah ta’ala berfirman,

وكذلك جعلناكم أمّة وسطاً

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan.” (Albaqarah:143)

Posisi Ahlusunnah di dalam Islam seperti posisi Islam di antara agama-agama.

Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

Semoga Bermanfaat

(Majmu’ Fatawa V/256-261)

Disadur dari Artikel http://www.Muslim.or.id


12 Responses to “MAJMU FATAWA : dimana ALLAH?”

  1. Jerusalem August 30, 2010 at 6:09 am #

    Mohon ma’af mas dobdob,,, ane copas ne artikel gk bilang” mohon maaf sebesar-besarnya

    • dobdob August 30, 2010 at 7:13 am #

      tidak apa-apa

      Saya telah menghibahkan semua artikel dalam blog ini untuk kepentingan dakwah dan rehabilitasi nama baik syaikhul Islam.

      silahkan berdakwah.
      saya senang bisa membantu

      saya hanya mohon akhi cantumkan sumbernya ke blog ini secara lengkap agar bisa di telusuri. dengan begitu siapapun yang mengetahui kesalahan didalamnya dapat langsung memberi tahu kemari

      • sri widodo January 9, 2011 at 10:59 pm #

        baarokallohu fiik yaa ustad…. alhamdullah ana menemukan blog antum yang menjawab semua hujatan terhadap syaikul, luuaaar biasa. jazaakallohu khoir

  2. tommi August 30, 2010 at 7:28 am #

    Afwan akh Jerusalem, blognya akh dobdob ini hanya butuh publikasi agar org2 banyak yg berkunjung ke blog beliau

    Oleh karena itu, pada siapapun yg punya blog, hendaknya me-link blognya akh dobdob ini….agar bisa meluruskan fitnah2 yg menzholimi syaikhul islam.

    Sayangnya, saya ga punya blog ‘^_^

  3. Jerusalem September 1, 2010 at 7:53 am #

    Siep… thx, aku gergetan bnget ma blog sal***t***t tu >.<

    wah… blog ne udh aku link di wapsite q http://closeboy.wapsite.me

  4. ibnusahroni November 20, 2010 at 6:33 pm #

    Alhamdulillah bisa nyasar ke blog ini. Saya bersyukur dengan adanya blog panjenengan ini.
    Oh ya Mas Ustadz, saya udah baca2 tulisan panjenengan di sini, tapi tolong dong dikasih point2 kesimpulan di setiap akhir pembahasannya supaya maksud / intisari permasalahan bisa dipahami secara lebih mudah dan gamblang oleh orang-orang yg masih awam kayak saya ini. Misalnya masalah ttg “arah” dan “dimana-nya” Allah ini, bahasa mudahnya bgmn gitu?

  5. Fad 78 December 3, 2010 at 7:39 am #

    mksd perkataan Umar Bin Abdul Azis: ….,karena Allah menetapkan bahwa fitrah hamba fitrah…. apa ya?

    • dobdob December 6, 2010 at 9:33 am #

      terimakasih….

      ada kesalahan penterjemahan.

  6. BenerNggak January 5, 2011 at 7:44 am #

    KITAB YAHUDI:

    Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nombor 19-20Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya:

    قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسًا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عنيمينه و عن يساره

    Kata-kata kufur Yahudi tersebut bermaksud :

    “Berkata : Dengarlah akan engkau kata-kata tuhan,telahku lihat tuhan duduk di atas kursi dan kesemua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .

    Ibnu Taimiah Turut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ” :

    Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmuk Fatawa Jilid 4 m/s 374 :

    إن محمدًا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

    Akidah kufur yang bermaksud:

    “Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.

    Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi menyahudikan umat islam :

    Kitab Ibnu Taimiah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :

    إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سُمِع له أطيط كأطيط الرَّحل الجديد

    Kata Ibnu tamiah tersebut bermaksud :

    ” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.

    400. Ayahku ditanya tentang Kursi dan Duduknya Tuhan di atasnya.

    401. Aku menyaksikan ayahku menshahihkan hadis-hadis tentang dilihatnya Allah dan meyakini kandungannya dan juga merangkumnya dalam sebuah kitab dan menyampaikannya kepada kami.

    402. … dari Abdullah ibn Khalifah dari Umar ia berkata: “Jika (Allah) duduk di atas Kursi terdengar darinya suara seperti suara yang biasa keluar dari tempat duduk yang masih baru.”

    403. Ayahku menyampaikan hadis kepada kami ia berkata, Wakî’ menyampaikan hadis riwayat Israil dari Ishaq…. “Jika Tuhan duduk di atas kursi… “ Maka ada seorang yang namanya disebut oleh ayahku merinding mendengarnya di hadapan Wakî’, maka Wakî’ marah dan berkata, “Kami mendapati A’masy dan Sufyan menyampaikan hadis-hadis ini dan mereka tidak mengingkarinya.”

    404. … dari Said ibn Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah dan Arsy tidak seorang pun yang dapat mengira-ngira keagungannya.”

    405. … dari Abu Musa ia berkata, “Kursi adalah tempat kedua telapak kaki (Allah), ia bersuara seperti suara tempat duduk yang masih baru.”

    406. … “Para malaikat penyangga bumi itu telah meliputi langit dan bumi, kepala-kepala mereka di bawah kursi. Dan kursi berada di bawah Arsy dan dia adalah tempat kedua telapak kaki Allah.”

    409. … “Ada seorang wanita datang menjumpai Nabi saw. Dan berkata, ‘Wahai Nabi doakan aku agar Allah memasukkanku ke dalam surga.’ Maka Nabi saw mengangungkan Tuhan dan bersabda, ‘Kursi-Nya meliputi langit-langit dan bumi. Dan Dia (Allah) duduk di atasnya dan tidak tersisa darinya (kursi) melainkan selebar empat jari. Dan kursi itu memiliki suara seperti suara kendaraan yang masih baru.’”

    benernggak??

    • dobdob January 31, 2011 at 11:08 am #

      saudaraku…
      mohon dimaafkan karena lamanya menjawab posting anda. disini anda mengcopy paste postingan orang yang mencampur riwayat dengan perkataan Ibnu taimiyah. saya mengira ini juga berasal dari Assunnah Milik al Khallal. Jika memang riwayat-riwayat itu Sohih, maka kita sebagai hamba harus menetapkannya.
      saya telah menulis terkait pertanyaan anda.
      mohon tidak bersuudzan kepada saya, karena lamanya menjawab. saya hadiahkan tulisan ini untuk Saudara
      https://syaikhulislam.wordpress.com/2011/01/31/istiwa-dan-duduk/

  7. sri widodo January 9, 2011 at 11:06 pm #

    oh ya ustad, mohon sumber kitabnya dicantumkan dari nukilan pendapat2 imam2/ulama2. jazaakallohu khoir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: