MAJMU FATAWA: Arah (jihat) terkait sifat Allah

11 Mar

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang orang yang meyakini “arah” (terkait sifat Allah,red), Apakah dia Mubtadi, Kafir, atau tidak?

Beliau menjawab:

Adapun barang siapa yang meyakini adanya arah, Jika ia berkeyakinan bahwa Allah didalam makhluknya yang Ia diliputi oleh ciptaannya dan dibatasi oleh langit, hingga sebagian makhluk berada diatasnya dan sebagian berada dibawahnya, maka pemilik keyakinan tersebut adalah Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia berkeyakinan bahwa Allah membutuhkan sesuatu yang membawanya -ke Arsy atau lainnya-, Maka Pemilik keyakina tersebut juga Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia menjadikan sifat Allah sama dengan Sifat makhluk-makhluknya dengan mengatakan: Istiwa Allah sama dengan istiwa makhlukNya, nuzulNya seperti nuzul makhlukNya, atau yang semisal itu, maka dia juga Ahli bid’ah yang sesat.

Sesungguhnya Kitab dan Sunnah serta akal telah menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai makhluknya sedikitpun. Allah juga tidak membutuhkan apapun, terpisah dari makhluknya dan tinggi diatasnya.

Jika orang tersebut berkeyakinan bahwa Al kholiq terpisah dari makhluknya, diatas langitnya bersemayam diatas Arsy terpisah dari makhluknya, Tidak ada sedikitpun unsur makhluk di dalam zatNya dan tidak ada sedikitpun unsurNya didalam makhlukNya, tidak membutuhkan Arsy dan apapun selain Arsy, tidak bergantung kepada satupun dari makhlukNya-meskipun demikian, Dialah yang  mengangkat Arsy dan pengangkatan Arsy bergantung kepada qudrahNya-,  tidak menyamakan istiwa Allah dengan dengan istiwa segenap makhluk tetapi menetapkan nama-nama dan semua sifat sesuai dengan apa yang telah Ia tetapkan bagi diriNya, menafikan kesamaanNya dengan segenap makhlukNya,  meyakini bahwa Allah tidak sama dengan apapun-tidak pada zatnya, sifatnya, maupun perbuatanya-, Maka orang tersebut memiliki keyakinan yang sama dengan dengan ummat dan para imam terdahulu.

Mazhab mereka menyifati Allah sesuai dengan apa yang telah Ia sifatkan bagi diri dan apa yang telah disifatkan oleh RasulNya tanpa Tahrif (perubahan), Ta’thil (Penghilangan), takyif (visualisasi), dan tamtsil (penyerupaan). Mereka meyakini bahwa Allah maha tahu atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu,menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian bersemayam diatas Arsy, benar-benar berbicara kepada Musa, menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah.

Mereka Meyakini bahwa Allah Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya pada seluruh sifat yang telah ia sematkan bagi diriNya, mensucikan Allah dari sifat kurang dan jelek dan menetapkan Sifat kesempurnaan bagiNya, dan meyakini bahwasanya tidak ada siapapun yang menyetarai sifat kesempurnaanya.

Nuaim bin Hammad Al Khazani berkata:

Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluknya maka Sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari apa yang telah Ia sifatkan untuk diriNya maka sungguh ia telah kafir.

Penetapan sifat sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi dirinya atau apa yang telah ditetapkan oleh RasulNya bukanlah Tasybih. Wallahu a’lam.”


Cerita Perdebatan Syaikhul islam tentang jihat dan Tahayyuz

Gambaran dari tuntutan kepada AS Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah-Rahimahullah wa Radiyallahu anhu- ketika ia didatangkan dari Damaskus ke Buraid, ia ditahan di benteng Al Jabal setelah digelarnya pengadilan di Daarunniyabah.

Beliau sampai pada hari kamis tanggal 26 Ramadhan. Kemudian digelar pengadilan pada hari Jum’at tanggal 27 Ramadhan setelah Sholat Jum’at. Disitulah beliau ditahan.

Gambaran dari tuntutan kepada beliau agar berkeyakinan untuk menafikan jihat dan tahayyuz pada Allah, tidak mengatakan bahwa Kalamullah adalah Huruf dan suara tetapi makna-makna yang menyatu dengan dzatnya, dan Allah tidak bisa ditunjuk dengan jemari secara inderawi. Beliau juga dituntut untuk tidak menyebut-nyebut hadits dan ayat-ayat sifat di depan orang awam, tidak menulis surat dengannya, dan tidak menyebut-nyebutnya dalam fatwa.

Beliau Menjawab

Adapun orang yang mengatakan untuk meyakini penafian Jihat dan tahayyuz pada Allah, maka penetepan itu sama sekali tidak terdapat dalam perkataanku. Karena penafian lafadz ini secara mutlak adalah bid’ah, sementara aku hanya mengatakan sesuai dengan yang telah disampaikan oleh kitab dan sunnah serta yang telah disepakati oleh Ummat.

Namun jika orang yang mengatakan hal itu memaksudkan bahwa tidak ada Rabb dilangit, tidak ada ilah diatas arsy, Muhammad tidak mi’raj menghadap tuhannya disana, dan diatas alam hanyalah ketidakadaan, maka ini batil danmenyalahi Ijma umat-umat terdahulu.

Kalau orang yang mengatakan hal itu memaksudkan bahwa Allah tidak diliputi makhluknya dan tidak berada didalam alam, Maka ini jelas merupakan perkataanku. Apa faedahnya mengulang kembali perkataan tersebut?

Adapun orang yang mengatakan : “jangan dikatakan bahwa kalam Allah adalah huruf dan suara  yang menyatu denganNya, tetapi kalam adalah makna yang menyatu dengan dzatNya”, Maka ini sama sekali bukan perkataanku. Bahkan perkataan bahwa Alqur’an adalah huruf dan suara yang menyatu denganNya adalah bid’ah, begitu juga perkataan bahwa alqur’an adalah makna yang menyatu dengan DzatNya adalah bid’ah.

Tidak pernah dikatakan oleh seorangpun dari kalangan Salaf. Tidak yang pertama maupun yang kedua. Tidak terdapat sedikitpun perkataanku yang mengandung kebid’ahan, tetapi yang merupakan perkataanku adalah apa yang telah disepakati oleh Salaf bahwasanya Alqur’an adalah Kalamullah bukan makhluk.

Adapun orang yang mengatakan untuk tidak menunjuk kepada Allah dengan jemari sebagai penunjukan inderawi, maka ini bukanlah perkataanku, justeru aku mengatakan untuk mengingkari pernyataan yang telah dibuat-buat oleh ahli bid’ah tentang lafadz-lafadz penafian. Semisal: “Sesungguhnya Allah tidak ditunjuk”. Penafian semacam ini adalah bid’ah juga.

Jika Seseorang memaksudkan bahwasa Allah tidak ditunjuk karena Allah tidak dibatasi oleh makhluknya dan alasan-alasan lain yang mengandung makna yang sohih, maka hal itu adalah benar. Jika yang dimaksudkan bahwa orang yang berdoa kepada Allah tidak mengangkat tangan kepadaNya, maka ini menyelisihi sunnah-sunnah yang telah Mutawattir dari Nabi Shallallahu Alaihi wasallam.

Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam

إنّ الله يستحي من عبده إذا رفع يديه أن يردّهما صفرا

Sesungguhnya Allah malu kepada hambanya apabila mengangkat kedua tangan untuk berdoa lalu mengembalikannya dengan tangan hampa[1]

Kalau yang menyebutkan hal itu menganggapnya sebagai Penunjukkan inderawi dan mengatakan itu tidak boleh, Maka tidak diterima perkataan tersebut.

Adapun orang yang mengatakan untuk tidak menampilkan Hadits dan ayat-ayat sifat dihadapan orang awam, maka bagaimana mungkin aku tidak boleh mengajukan hal itu sama  sekali dikalangan awam!

Jawabannya adalah sesuai dengan alasan yang Allah telah mengutus Rasulnya untuk orang-orang yang menginginkan bimbingan dan petunjuk.

Rasulullah telah bersabda

من سئل عن علم يعلمه فكتمه، الجمه الله يوم القيامة بلجام من نار

Barang siapa yang ditanya tentang ilmu yang diketahuinya kemudian ia menyembunyikannya, niscaya Allah akan menstempelnya dihari Qiyamat dengan stempel dari Api[2]

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, (Al Baqarah:159)

Orang yang berilmu tidak diperintahkan sesuatu yang dapat menyebabkannya dilaknat oleh Allah.

Allah Maha mengetahui dan segala puji Bagi Allah Rabb semesta Alam

Semoga bermanfaat

MAJMU FATAWA Jilid 5


[1] Hadits riwayat Abu Dawud dalam Kitab sholat (1488), Hadits riwayat Turmudzi dalam kitab Doa-doa (3556) ia berkata: Hadits Hasan ghorib, dan Hadits Riwayat Ibnu Majah pada kitab Doa (3865) dari  Salman Al Farisi

[2] Hadits Riwayat Abu Dawud dalam kitab ilmu (3658), Hadits riwayat Turmudzi dalam kitab ilmu (2649), Ia berkata: Hadits Hasan, Hadits Riwayat Ibnu Majah dalam al Muqaddimah (261). Hadits riwayat Ahmad 2/263,305, Semuanya dari Abu Hurairah

2 Responses to “MAJMU FATAWA: Arah (jihat) terkait sifat Allah”

  1. sri widodo January 11, 2011 at 12:36 pm #

    baarakallohu fiik ustad, instuksi ustad, nama kitab2 rujukannya disebukan ustad biar tambah ilmiah

    • dobdob January 16, 2011 at 5:28 pm #

      akhil karim, yg ente baca itu terjemahan majmu fatawa sumbernya tidak lain adalah majmu fatawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: