Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Wal Lughah

30 Mar

Kali ini redaksi akan membeberkan bukti-bukti keagungan Syaikhul Islam dan penguasaannya dalam bidang Bahasa.

Sebagaimana julukannya, diketahui bahwa beliau menguasai berbagai macam cabang ilmu Islam.

Berikut persaksian para Ulama yang diambil dari Kitab Durarul kaminah:

وقال شيخ شيوخنا الحافظ أبو الفتح اليعمري في ترجمة ابن تيمية حذاني يعني المزي على رؤية الشيخ الإمام شيخ الإسلام تقي الدين فألفيته ممن أدرك من العلوم حظاً وكان يستوعب السنن والآثار حفظاً إن تكلم في التفسير فهو حامل رايته، أو أفتى في الفقه فهو مدرك غايته، أو ذكر في الحديث فهو صاحب علمه وذو روايته، أو حاضر بالملل والنحل لم ير أوسع من نحلته في ذلك ولا أرفع من درايته، برز في كل فن على أبناء جنسه، ولم تر عين من رآه مثله ولا رأت عينه مثل نفسه

Ini adalah Perkataan guru dari gurunya Ibnu Hajar Al Atsqalani Al Hafidz Abul Fath Al Ya’mari

Beliau nyaris menghapal seluruh kitab-kitab sunan dan juga atsar, kalau dia berbicara tafsir, maka seolah ia pemegang benderanya (sangat ahli), kalau dia berfatwa tentang fiqh, maka dia seolah paling menguasai fiqh, Kalau dia bicara tentang hadits,maka dia seolah pemiliki ilmunya dan yang meriwayatkannya, atau ketika ia menyampaikan tentang aliran-aliran maka tidak ada yang lebih luas dan lebih tinggi pembahasannya, Ibnu Taymiyah menguasai semua cabang ilmu. mata manusia tidak pernah melihat orang seperti dia dan matanya tidak pernah melihat orang yang menandinginya.

Imam Az Zahabi juga menjadi Saksi bahwa beliau menguasai berbagai bidang ilmu, persaksian ini dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Durarul Kaminah

قال الذهبي مترجماً له في بعض الإجازات قرأ القرآن والفقه وناظر واستدل وهو دون البلوغ وبرع في العلم والتفسير وأفتى ودس وهو دون العشرين وصنف التصانيف وصار من كبار العلماء في حياة شيوخه وتصانيفه نحو أربعة آلاف كراسة وأكثر

beliau membaca qur’an dan fiqh dan berdebat padahal belum baligh umurnya. menguasai berbagai ilmu dan juga tafsir. Berfatwa padahal umurnya masih dibawah 20 tahun, telah mengarang berbagai karangan dan menjadi pembesar para ulama semasa hidup guru-gurunya.karangannya mencapai 4000-an bahkan lebih.

Penguasaan beliau terhadap berbagai Ilmu dan juga tafsir sebagaimana yang disaksikan oleh Al hafidz Al ya’mari dan Az Zahabi menjadi isyarat bahwa beliau juga menguasai ilmu alat terpenting untuk mentafsirkan Qur’an yaitu ilmu bahasa.

hal ini diperkuat oleh Ibnu katsir yang menulis biografi beliau dalam Albidayah wan Nihayah pada peristiwa tahun 728 hijriah dimana beliau berkata:

Beliau Sibuk dengan ilmu-ilmu pengetahuan, cerdas dan banyak menghapal, hal itu membuatnya menjadi seorang Imam dalam ilmu Tafsir dan yang berkaitan dengannya. Beliau amat familiar dengan ilmu fiqh; beliau lah yang paling mengenal fiqh Mazhab dizamannya. Sangat mengetahui perbedaan pendapat dikalangan ulama, alim dalam ilmu ushul dan furu’, nahwu, bahasa, dan ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah yang lain. Ketika beliau memutuskan sesuatu dan berbicara tentang sebuah cabang ilmu bersama orang-orang terkemuka dibidangnya maka mereka akan mengira bahwa cabang ilmu tersebut adalah spesialisasinya. Mereka melihat beliau amat mengetahui dan memiliki penguasaan yang sempurna tentang ilmu tersebut.

Secara Khusus terdapat beberapa bukti yang membuat gelar Syaikhul Lughah layak disematkan kepada beliau diantaranya:

  • Imamul Arabiyyah Ibnu Hisyam yang merupakan ahli nahwu ternama pemilik Awdhohul Masaalik syarah Alfiyah Ibnu Malik menampilkan pendapat Ibnu Taimiyah dalam Kitabnya Syarah Syudzuriz zahab fi ma’rifati Kalaamil Arab ketika membahas tentang Mutsanna/Tasniyah terkait dengan kemusykilan yang dihadapi oleh para Ahli nahwu dan tafsir  terkait aspek bahasa dalam pentafsiran surat Thaha ayat 63 :   قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ Kemusykilan ini terkait dengan huruf in dan hadzani yang tidak selaras dengan kaidah Nahwu dimana jika In dalam ayat tersebut adalah bentuk takhfif dari inna maka isim inna pada Tasniyah seharusnya dinashabkan dengan huruf ya bukan Alif sebagamana masyhur dalam kitab dasar semodel jurmiyah dalam Bab Ma’rifat alamatil I’rab setelah Fashlun dalam sub yang dii’rab dengan huruf diantaranya disebutkan bahwa Tasniyah dirafa’kan dengan alif dan di-nashab-kan serta di-jar-kan dengan ya.   Dari nukilan ini kita bisa mengetahui bahwa Ibnu Hisyam tentulah tidak menampilkan pendapat ibnu Taimiyah dalam kapasitasnya sebagai Fuqaha, karena secara jelas kitab tersebut adalah kitab Nahwu yang membahas tentang Lughah. Dalam nukilan tersebut beliau juga memanggil Ibnu Taimiyah dengan Al Alim Al Allamah[1]
  • Imam Suyuthi yang juga terkenal sebagai seorang ulama yang menguasai bidang nahwu telah mengarang sebuah kitab yang amat mendetail tentang perselisihan dalam ilmu tersebut, Kitab itu beliau namakan Asybah wan Nadzair Fin Nahwi. Perlu diketahui bahwa beliau memiliki dua kitab yang bernama Asybah Wan nadzair, yang satu lagi adalah Asybah wan Nadzair fi Qawaaid wa Furui mazhabis Syafii. Dua kitab tersebut amat mirip dalam segi penulisan dimana beliau mengupas tuntas masalah-masalah yang beliau bahas dalam kitab tersebut. Sebagai contoh, beliau menulis puluhan halaman hanya untuk membahas tentang Niat. dikitab ini Al Hafidz As Suyuthi juga menampilkan pendapat ibnu Taimiyah secara panjang lebar tentang Huruf law terkait perkataan Umar bin khattab terhadap Shuhaib Bin Sinan :  نعم العبد صهيب لو لم يخف الله لم يعصه
    Sekali lagi saya katakan bahwa tidak ada Faedah yang berharga jika disini Imam Suyuthi mengemukakan pendapat seorang yang bukan ahli dalam hal bahasa. Jelaslah bahwa kapasitas ibnu Taimiyah sebagai Ahli Bahasa diperhitungkan Oleh Imam Suyuthi.[2]
  • Dalam Kitab Durarul Kaminah Ibnu Hajar mengetengahkan cerita Tentang pertemuan ibnu Taimiyah ketika tiba dimesir dengan seorang Nuhat dan Mufassir pemilik Bahrul Muhit Abu Hayyan Al Andalusy, di situ Abu Hayyan memuji Ibnu Taimiyah dengan Pujian menjulang bahkan menyamakan perjuangan beliau dalam menumpas Ahli bid’ah sebagaimana Abu Bakar menumpas gerombolan Murtad dibawah komando Musailamah Al Kadzab. Setelah itu terjadilah Tanya jawab dan debat  ilmiah tentang nahwu dimana Abu Hayyan terlalu sering menjawab dengan menukil perkataan Imam Sibawaih yang membuat ibnu Taimiyah geram dan mengatakan: “Apakah Sibawaih nabinya Nahwu?” dia telah keliru dalam 80 masalah dikitabnya yang tidak anda ketahui maupun dia”. Saya tidak berpanjang lebar mengenai pernyataan ibnu Taimiyah Ini, namun yang jelas Abu Hayyan adalah seorang Ulama Nahwu dan Sharf yang amat terkenal di belantara ilmu nahwu, dia tidak mungkin bertanya jawab dan berdiskusi Ilmiah dengan orang yang tidak sepadan dengannya. Dari Kisah tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Abu Hayyan amat mengagungkan ibnu Taimiyah dan paling tidak ia menganggap bahwa ibnu Taimiyah adalah teman diskusi yang sepadan dalam hal Nahwu atau bahkan tempat bertanya yang lebih tinggi keilmuannya, karena Abu Hayyan memujinya dan tidak diriwayatkan bahwa Abu Hayyan membalas balik pernyataan Ibnu Taimiyah terhadap Imam Sibawaih yang merupakan Idolanya, namun diketahui bahwa Abu Hayyan disinyalir berbalik membenci Ibnu Taimiyah karena pernyataannya tersebut.
  • Beliau juga pernah berdebat dengan Shadruddin Ibnul marhal yang terkenal dengan nama ibnu Wakil pengarang kitab Asybah Wan Nadzair fil Fiqhis Syafii. Beliau adalah Fuqaha sekaligus Sastrawan.
  • Al-imam Al-Bazzar rahimahulloh menceritakan dari Asy-Syaikh Tajuddin Muhammad yang dikenal dengan Ibnu Ad-Dauri rahimahulloh, beliau pernah menghadiri majelis Ibnu Taimiyah yang ketika itu ditanya oleh seorang Yahudi tentang masalah al-qadar (takdir) dalam bentuk beberapa syair. Setelah mendengar syair-syair itu, Syaikhul Islam berfikir sejenak, lalu mulai menulis jawabannya. Kami mengira beliau menulis jawaban dalam bentuk uraian biasa. Ternyata jawaban beliau juga dalam bentu syair, lebih kurang 100 bait, yang seandainya disyarah (ditafsirkan, diuraikan) tentu akan menjadi dua jilid kitab yang besar.
  • Dari Madrasah Beliau muncul seorang Sastrawan yang bernama Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang memukau kalangan sastrawan dalam tulisan-tulisannya yang penuh dengan bait-bait Syair nan indah. Beliau telah membuat sebuah kitab Nadzam Nuuniyah yang merupakan pembahasan Aqidah dalam bentuk Nadzam dengan akhiran huruf nun sejumlah 4000-an bait.

Untuk mengetahui Lebih jauh tentang keahlian Ibnu Taimiyah dalam Ilmu Bahasa, pembaca dapat membaca dua kitab yang Khusus membahas tentang sisi-sisi Nahwu dalam karangan ibnu Taimiyah yang berjudul Addirasat Al Lughawiyah fi Muallifat Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah dan Ikhtiyaraat Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah Wataqrirathi fin Nahwi Was sharfi


[1]Syarah Syudzuriz zahab fi ma’rifati Kalaamil Arab hal. 78-80. Majmu Fatawa 15/145-153

[2] Asybah wan Nadzair Fin Nahwi 4/64-69

Bahan-Bahan Artikel

Syarah Syudzuriz zahab fi ma’rifati Kalaamil Arab hal. 78-80. Majmu Fatawa 15/145-153

Majmu Fatawa 15/145-153

Asybah wan Nadzair Fin Nahwi 4/64-69

One Response to “Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Wal Lughah”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam Wal Lughah « de Go Blog - March 18, 2011

    […] Imamul Arabiyyah Ibnu Hisyam yang merupakan ahli nahwu ternama pemilik Awdhohul Masaalik syarah Alfiyah Ibnu Malik menampilkan pendapat Ibnu Taimiyah dalam Kitabnya Syarah Syudzuriz zahab fi ma’rifati Kalaamil Arab ketika membahas tentang Mutsanna/Tasniyah terkait dengan kemusykilan yang dihadapi oleh para Ahli nahwu dan tafsir  terkait aspek bahasa dalam pentafsiran surat Thaha ayat 63 :   قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ Kemusykilan ini terkait dengan huruf in dan hadzani yang tidak selaras dengan kaidah Nahwu dimana jika In dalam ayat tersebut adalah bentuk takhfif dari inna maka isim inna pada Tasniyah seharusnya dinashabkan dengan huruf ya bukan Alif sebagamana masyhur dalam kitab dasar semodel jurmiyah dalam Bab Ma’rifat alamatil I’rab setelah Fashlun dalam sub yang dii’rab dengan huruf diantaranya disebutkan bahwa Tasniyah dirafa’kan dengan alif dan di-nashab-kan serta di-jar-kan dengan ya.   Dari nukilan ini kita bisa mengetahui bahwa Ibnu Hisyam tentulah tidak menampilkan pendapat ibnu Taimiyah dalam kapasitasnya sebagai Fuqaha, karena secara jelas kitab tersebut adalah kitab Nahwu yang membahas tentang Lughah. Dalam nukilan tersebut beliau juga memanggil Ibnu Taimiyah dengan Al Alim Al Allamah[1] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: