Taubatkah Ibnu Taimiyah kedalam Aqidah Asy’ariyah?

23 Apr

Suatu hal yang membingungkan banyak orang adalah disebutkan pada sebagian sumber bahwa Syaikhul Islam Rahimahullah telah menulis sebuah surat yang didalamnya terdapat aqidah yang menyalahi apa yang ia dakwahkan dan fatwakan sepanjang hidupnya, bahkan menjadi sebab ia dimasukkan kedalam penjara.

Maka kami katakan sebagai ulasan dan Sanggahan bagi Siapapun yang telah diombang –ambing oleh hawa nafsu :

Cerita rujuknya beliau (kedalam aqidah Asy’ari. Pent) bisa didapatkan dari :

  • Muridnya-Ibnu Abdil Hadi- (Wafat tahun 744 Hijriah) Seperti terdapat pada (Uqududduriyyah: 197) yang menukil dari Az Zahabi
  • Az Zahabi (Wafat tahun 748 Hijriah) –muridnya- seperti yang telah dinukil oleh Ibnu Abdil Hadi diatas:

Lafadznya adalah sebagai Berikut

“….terjadi perkara yang panjang, kemudian dikirim surat Sultan ke Syam untuk menjebloskannya ke penjara, maka dibaca didepan banyak Orang, maka orang-orang menjadi sedih. Ia dipenjara satu tahun setengah (yaitu pada tahun 707 Hijriah) kemudian dikeluarkan, dan ia diminta untuk menulis surat, diancam dan dijanjikan untuk dibunuh jika tidak menulisnya. Ia bermukim di Mesir membacakan Ilmu dan manusia berkumpul disisinya.”

  • Ibnul Muallim (Wafat tahun 725 Hijriah) di dalam kitab “Najmul Muhtadi wa Rajmil Mubtadi” (Naskah di Paris Nomor 638) dan Nuwairi (Wafat tahun 733 Hijriah) didalam Kitab Nihayatul Arab-lihat Kitab Aljami’ lishirathi syaikhil Islam Ibnu Taimiyah hal :181-182-, pada kitab tersebut diterangkan Bahwasanya Majelis (pertobatan, pent) tersebut setelah kedatangan Amir Husamuddin Muhinnan (Rabiul Akhir 707 Hijriah) dan Syaikhul Islam dibebaskan hari Jum’at tanggal 23  Rabiul Awwal 707 Hiriah.

Kemudian An Nuwairy menukil kandungan surat tersebut yang menceritakan apa yang terjadi, Bahwa (Syaikhul Islam) telah menyebutkan bahwa dia adalah “Asyariy”, dan meletakkan Kitab Asy’ari diatas kepalanya, serta ruju pada beberapa masalah (arsy, Qur’an, nuzul, dan Istiwa) dari mazhabnya –ahlussunnah-. Surat tersebut tertanggal 25 Rabiul Awal 707 Hijriah.

Kemudian diadakan majelis berikutnya, dia (syaikhul Islam) menulis mirip dengan tulisan sebelumnya pada Rabiul Akhir 707 Hijriah dan ia disumpah

  • Ad Duwadi (Wafat setelah tahun 736 H) menyebutkan dalam Kitab “Kanzud durar” bahwa mereka mengadakan majelis berikutnya pada tanggal 12 Rabiul akhir 707 Hijriah setelah kepergian amir Husamuddin, dan terjadi kesepakatan untuk merubah lafadz-lafadz tentang Aqidah dan berakhirnya majelis dalam Kebaikan.
  • Ibnu Rajab (Wafat tahun 795 H) menyebutkan Dalam Kitab Dzail alat thabaqatil hanabilah mirip dengan yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Hadi pada Kitab Al Uqud. Kemudian ia berkata : “telah menyebutkan Az Zahabi dan Al Barzali dan lain-lain bahwa Syaikh telah menulis sebuah surat secara Mujmal yang berisi perkataan dan lafadz ketika ia di Ancam untuk dibunuh”
  • Ibnu Hajar (Wafat Tahun 752 H) dalam Kitab ad durarul Kaminah mirip dengan apa yang disebutkan oleh An Nuwairi dalam Kitab “Nihayatul Arab” kemudian Ibnu Hajar mengaitkan nukilan tersebut kepada Tarikh Al Barzaliy.
  • Ibnu Taghri bardi (Wafat tahun 874 H) dalam kitab Al Minhal As Shufi mirip dengan apa yang disebutkan Oleh ibnu  Hajar. Konteks penukilan menunjukkan bahwa Ia menukil dari kitab Kamaluddin bin Zamlakani-permusuhannya dengan syaikhul islam amat terkenal-. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Syaikhul Islam, Dia juga telah  menukil dari kitab an Nujum Az Zahirah.
  • Adapun Barzaliy (Wafat tahun 739 H)-Sahabatnya- tidak menulis sama Sekali kejadian-kejadian tersebut pada tahun-tahun tersebut.  (Aljami’ lishirathi syaikhil Islam Ibnu Taimiyah: 213-214)[1]
  • Ibnu katsir hanya menyebutkan Kisah yang terkait dengan  pertobatan tersebut Pada peristiwa yang terjadi pada tahun 706 Hijriah tanpa menyebutkan kelanjutannya dengan cerita sebagai berikut:” dan pada malam Iedul Fithri al- Amiir menghadirkan Saifuddin Salaar perwakilan Mesir, 3 hakim, dan sekelompok Fuqaha’. Tiga hakim tersebut adalah dari madzhab Asy-Syafi’I, al-Maaliki, dan alHanafy, sedangkan fuqaha’ yang hadir adalah Al-Baaji, Al-Jazarii, dan An Namrowy, dan mereka mengharapkan agar Syaikh Taqiyuddin bin Taimiyyah dikeluarkan dari penjara. Sebagian hadirin mempersyaratkan beberapa syarat, di antaranya : beliau harus ruju’ dari sebagaian aqidah dan mereka mengirim utusan agar beliau hadir di tempat itu dan berbicara kepada mereka. Tetapi beliau menolak hadir (ke majelis tersebut) dan berketetapan hati (untuk tidak hadir). Utusan itu kembali sampai 6 kali. Beliau tetap kokoh pada pendirian untuk tidak hadir, tidak menoleh pada mereka, dan tidak menjanjikan apapun. Maka majelis itupun bubar dan merekapun kembali tanpa mendapat balasan”.Cerita tersebut mengesankan bahwa penggalan kisah pertobatan ini memang ada, namun akhir dari kisah tersebut adalah justeru menguatkan pendapat bahwa Ibnu Taimiyah Justeru menulis Surat yang mengokohkan Aqidahnya, bukan Surat yang menyatakan Bahwa dia Adalah Asy’ari. Ibnu katsir tidak mengisyaratkan Penulisan surat disini tapi ditempat lain disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah menulis jawaban singkat terhadap undangan pertobatan dan menulis bantahan rinci dalam Kitab yang kemudian dinamakan Tis’iniyat. Akan datang penjelasan tentang sebab ditulisnya kitab ini disisi ketiga tertolaknya  kisah akhir pertobatan Ibnu Taimiyah. Dari uraian diatas jelaslah bahwasanya :
    1. Sebagian ahli sejarah tidak menyebutkan Kisah tersebut dan juga sama sekali tidak ditulis
    2. Sebagian dari ahli sejarah hanya mengisyaratkan adanya kisah tersebut tanpa merinci surat yang ditulis dan atau menyebutkan bahwa penulisan surat tersebut disertai Intimidasi dan ancaman pembunuhan.
    3. Sebagian dari Ahli sejarah ada yang merincinya dan menyebutkan teks surat tersebut, tetapi tanpa menyebutkan bahwa penulisan surat disertai intimidasi dan ancaman pembunuhan.

    Dari uraian tersebut kita bisa mengungkapkan bahwa Sesungguhnya ibnul Muallam dan An Nuwairi telah menyendiri diantara orang-orang yang hidup sezaman dengan Syaikhul Islam tentang permasalah ruju’nya beliau dari konteks tulisannya. Dan itu diikuti oleh sebagian Ahli Sejarah.

    Oleh karena itu,dari isu ini dapat diambil salah satu sikap berikut:

    1. Kita mendustakan semua yang telah disebutkan oleh para ahli sejarah baik secara global maupun terperinci,dan kita katakan bahwa semua itu tidak mungkin pernah terjadi
    2. Kita menetapkan pokok Kisah tersebut, tanpa menetapkan apapun terkait ruju’ dari aqidah , dan tidak menetapkan tulisan yang penyelisihannya jelas dengan apa yang telah didakwahkan oleh Syaikhul Islam sebelum tanggal tersebut dan setelahnya.
    3. Kita menetapkan seluruh tulisan yang Ibnul Muallim dan An Nuwairi telah menyendiri terkait masalah ruju dan surat.

    Sikap pertama  menusuk dada Sendiri! sedangkan Sikap ketiga sama saja dengan menetapkan penyendirian dan keganjilan serta mendahulukan keduanya atas pendapat lain  yang masyhur dan lebih banyak.

    Yang tsabit berdasarkan pemeriksaan dan tarjih adalah sikap yang kedua: yaitu Syaikhul Islam telah menulis ungkapan secara global setelah diancam dan diintimidasi. Tetapi didalam ungkapan tersebut tidak terdapat kata rujuk dari Aqidahnya, tidak melakukan lelucon terhadap aqidah yang bathil, dan tidak menulis hal itu seluruhnya.

    Hal tersebut dikarenakan beberapa sebab yang dapat dilihat dari 3 sisi

    1. Riwayat cerita

    Dari periwayatan tersebut, orang-orang yang tidak berpihak kepada Ibnu Taimiyah menggunakan riwayat dari Ibnul Muallam, An Nuwairy dan Ibnu Hajar yang menukil dari Tarikh Ar Barzaly tanpa sama sekali mempedulikan riwayat-riwayat lain yang bertentangan atau berbeda dengan riwayat tersebut.

    Khusus untuk Ibnu Hajar, kemungkinan beliau salah menukil atau menukil dari orang lain, karena dalam Tarikh Al Barzaly tidak disebutkan cerita tersebut, justeru Ibnu Rajab mengatakan bahwa Al Barzaly (beliau tidak menyebutkan kitab Tarikh ) dan juga Az Zahabi menyebutkan penggalan kisah yang mengatakan bahwa hal itu terjadi dibawah paksaan dan tanpa ada pertobatan kecuali kata-kata global saja.

    Jika kita membandingkan riwayat-riwayat diatas, maka jelaslah kualitas periwayatan pihak-pihak yang mendukung ibnu Taimiyah lebih unggul karena terdiri dari para Huffadz yang telah disepakati dan juga sezaman dengan Ibnu Taimiyah, artinya riwayatnya lebih ‘ali[2]. Adapun Ibnu Hajar, beliau menyalahi periwayatan Arbarzaly, Az Zahabi, Ibnu Abdil Hadi dan juga Ibnu Rajab. Lagipula beliau menukil cerita tersebut karena tidak Muasharah dengan Ibnu Taimiyah dan penukilannya terlihat Syadz[3].

    2.   Realitas setelah Peristiwa tersebut

Sisi ini menguatkan sikap kedua berdasarkar fakta-Fakta berikut:

    • Tulisan ini menyelisihi aqidah Syaikh yang beliau dakwahkan dan perjuangkan sepanjang hidupnya, sebelum kejadian tersebut dan sesudahnya.
    • Tidak terdapat sedikitpun jejak didalam kitab dan karangannya yang menunjukkan beliau telah rujuk, isyarat yang menunjukkan surat  ini, atau isi dari tulisan ini. Padahal kisah tersebut terjadi sekitar tahun 707 Hijriah, sedangkan beliau Wafat tahun 728 Hijriah. Itu artinya beliau dikatakan beraqidah Asy’ari selama kurun tersebut atau sekitar 21 tahun lamanya. Ini amat mustahil karena ibnu Taimiyah telah mengarang banyak kitab-kitab Salafiyah setelah tahun-tahun tersebut. Kitab DAr’ut Taarrud dikarang oleh Ibnu Taimiyah sekembalinya beliau dari Mesir seperti yang telah dijelaskan oleh Muhaqqiqnya dengan bukti-bukti yang amat jelas pada Muqaddimah Kitab tersebut. Kitab tersebut sangat terkenal dan kemudian dibantah oleh oleh tokoh Asyairah yang bernama Kamaluddin bin Syarisyi, kemudian dijawab oleh Ibnu Taimiyah dengan sebuah karangan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Rajab,Ibnu Abdul Hadi,  Adz Dzahabi, dan Lain-lain.Kitab tersebut telah diringkas oleh Badruddin Al Hakari, seorang Qadhi bermazhab Syafii. Syaikh Rasyad Selaku Muhaqqiq berpedoman kepada ringkasan Tersebut dan sembilan naskah lainnya. naskah tersebut ada yang berbeda dan ada yang saling membenarkan. Kemudian setelah itu, Ibnu Taimiyah mengarang Minhajussunnah, yaitu salah satu kitab salafiyyahnya yang paling terkenal.
    • Syaikhul Islam Rahimahullah telah banyak mendapatkan pelecehan dalam berbagai masalah sebelum tanggal kejadian tersebut maupun sesudahnya, dipenjara karena masalah tersebut, dan dicela. Tapi beliau tidak sedikitpun diketahui ruju dari pendapatnya sedikitpun. Paling-paling beliau hanya berhenti berfatwa sebentar, kemudian kembali melakukan hal itu dan berkata: “Saya tidak bisa menyembunyikan ilmu”, seperti pada masalah thalaq (Al uqud hal 325), Bagaimana mungkin kali ini beliau menulis surat kepada mereka apa yang bertentangan dengan Aqidah Ahlissunnah dan menyetujui Mazhab Ahli bid’ah. Keadaan musuh beliau adalah seperti yang beliau sifatkan sendiri ketika dikatakan kepada beliau:“Wahai tuanku! Sungguh telah banyak orang yang menentangmu!”Beliau berkata: “sesungguhnya mereka seperti lalat, kemudian beliau mengangkat telapak tangannya kemulutnya dan meniupnya.” (Al uqud Hal 268).Imam Adz Dzahabi mensifatkan keteguhan Syaikhul Islam didepan musuhnya-musuhnya dengan mengatakan:“…..Hingga menentangnya sekelompok Ulama Mesir dan Syam dengan penentangan yang tidak ada bandingannya… dan dia orang yang teguh tidak terbujuk dan tidak suka, malah beliau tetap mengatakan kebenaran yang pahit sesuai dengan ijtihadnya, ketajaman pikiran, dan keluasan pengetahuannya pada qaul-qaul dan sunan”
    • pemalsuan terhadap Fatwa beliau amat sering dilakukan. Ibnu katsir mengisahkan cerita penahanan Beliau dalam peristiwa yang terjadi di tahun 726 Hijriah karena berfatwa masalah Ziarah kubur yang diadukan kepada sulthan. Pengadunya mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah telah menulis surat yang isinya pengharaman untuk menziarahi kubur nabi dan orang-orang Soleh berdasarkan Ijma. Lalu Ibnu Katsir membela gurunya dengan mengatakan bahwa itu adalah pemalsuan karena Gurunya tidak berfatwa tentang keharaman Berziarah secara umum, namun yang haram adalah mengadakan safar semata-mata untuk berziarah. Adapun berziarah tanpa melakukan Safar justeru dianggap Mustahab oleh gurunya.Pemalsuan fatwa beliau  diakui banyak Huffadz diantaran Az Zahabi, Ibnu Abdil Hadi, Al barzali dan beliau sendiri didalam Majmu Fatawa dan salah satu pengakuan tersebut juga terdapat dalam Muqaddimah Kitab Tis’iniyat yang ditulis Khusus untuk membantah kalam nafsi dan Aqidah Asy’ariyah.
    • Kisah Ini terjadi Bulan Rabiul Awal tahun 707 Hijriah, sebelumnya yaitu akhir-akhir tahun 706 Hijriah beliau masih dalam penjara di Mesir dan dijanjikan pembebasan Jika mau mengubah beberapa hal terkait Aqidahnya, namun Ibnu katsir menjelaskan bahwa diakhir tahun 706 Hijriah ketika utusan dari sulthan Bolak-balik untuk mengundang beliau dan bahkan dijanjikan pembebasan, beliau tetap teguh dengan pendiriannya. Namun ia tidak menyebutkan teks perkataan dan tulisannya.
  • 3.  Riwayat dari syaikhul Islam Sendiri.

    DR Muhammad Bin Ibrahim Al Ajalan telah mentahqiq sebuah Kitab Ibnu Taimiyah yang berjudul “At Tis’iniyyat” yaitu sebuah Kitab yang dikarang untuk membantah Aqidah Asy’ari secara rinci dan sebagian besarnya tentang kalaamunnafsi[4].

    Dari Muqaddimah Kitab Ini terlihat jelas kelengkapan peristiwa yang disebutkan oleh ibnu katsir pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di akhir Ramadhan dimalam Idul Fitri tahun 706 Hijriah terkait  adanya  utusan yang menginginkan kehadiran Syaikhul Islam dalam sebuah majelis dimana beliau diminta untuk  menarik Fatwa-fatwanya seputar Kalamullah, Jihat dan tahayyuz, dan Arsy agar sesuai dengan Aqidah Asy’ariyah dengan hadiah Pembebasannya dari Penjara.

    Namun beliau tetap teguh untuk tidak menghadiri acara tersebut dan hanya menulis jawaban ringkas dalam sebuah surat serta menulis jawaban rinci dengan menulis sebuah kitab khusus. DR Muhammad bin Ibrahim Al Ajalan memastikan Berdasarkan Awal cerita didalam Kitab tersebut bahwa Ibnu Taimiyah mulai mengarangnya pada Tahun 706 Hijriah disebabkan Oleh permintaan Untuk menghadiri majelis yang disana beliau diharapkan membuat sebuah pengakuan dan menarik fatwa-fatwa tentang Aqidah sebagaimana yang telah Saya sebutkan.[5]

    Selanjutnya diawal kitab tersebut halaman 111 diterangkan bahwa utusan tersebut tersebut sebelumnya pernah datang juga membawa tulisan dari Ibnu Makhluf yang menggambarkan Aqidah Ibnu Taimiyah, namun ternyata tulisan tersebut isinya dusta karena sesuai dengan Aqidah mereka. Ibnu Taimiyah Memarahi utusan tersebut dan menyuruh mereka berlaku Adil. Begitu seterusnya, dimana utusan-demi utusan datang untuk meminta kehadiran beliau dalam majelis yang diadakan oleh Amir pada saat itu. Namun beliau selalu menolak hadir dan hanya menulis surat namun surat beliau didustakan.[6] oleh karena itu sangat mungkin surat palsu itulah yang dibacakan dalam majelis yang tidak dihadiri oleh ibnu Taimiyah tersebut lalu dinukil oleh sebagian kecil ahli sejarah.

    Kesimpulan dari Pembahasan Ini adalah perlunya penguatan dan penggabungan beberapa cerita tentang rujuknya Beliau kepada Aqidah Asy’ari agar didapatkan kesimpulan yang adil dan Jauh dari kecurangan.

    Dari penguatan dan penggabungan riwayat-riwayat tersebut jelaslah bahwa Kita bisa menetapkan pokok Kisah tersebut, tanpa menetapkan apapun terkait ruju’ dari aqidah salaf dan tidak menetapkan tulisan yang penyelisihannya jelas dengan apa yang telah didakwahkan oleh Syaikhul Islam sebelum tanggal tersebut dan setelahnya.

    Semoga bermanfaat

    Saudaramu : dobdob

    Dikutip dari Kitab “Al Jaami Lishirathi Syaikhil Islam” dengan beberapa Penambahan


    [1] Didalam kitab tarikhnya, Albarzali memang tidak menyebutkan apapun tentang surat dan rujuk, tetapi  penukilan sekelompok ahli sejarah (Ibnu Hajar dan ibru Rajab misalnya, pent) kepada kitab tersebut. Menunjukkan bahwa Albarzalli telah menyebutkan sesuatu terkait perkara tersebut. Kemungkinan dia menyebutkan pada kitab tarikhnya yang tidak diketahui, atau pada kitab lain semisal Mu’jam syuyukh.

    [2] Riwayat dengan rantai Sanad yang lebik Pendek, dan susunan sanad seperti ini merupakan nilai lebih, Karena mempermudah pemeriksaan dan meminimalisir kesalahan

    [3] Riwayat seorang Tsiqah yang menyalahi riwayat rawi lain yang lebih Tsiqah atau lebih banyak jumlahnya.

    [4] Keyakinan khas Asy’ariyah tentang kalamullah dimana mereka mengatakan bahwa Kalam itu Qadim, Menyatu dengan Dzat-Nya (Qaaimun Bidzatihi), tanpa suara dan Huruf, adapun Al Qur’an yang sekarang didunia merupakan Ta’bir atau interpretasi dari kalamullah Yang dilakukan Oleh Malaikat Jibril Alaihissalam

    [5] Lihat tarikh Ta’lif ktiab tersebut dihalaman 55 kitab Tis’iniyat

    [6] Lihat dan renungkanlah hal 109-119 rangkaian Kisah tersebut yang merupakan bukti paling kuat bahwa kisah pertobatan tersebut adalah dusta

    silahkan download bahan-bahan Artikel diatas

    التسعينية ابن تيمية

    الجامع لسيرة شيخ الإسلام

21 Responses to “Taubatkah Ibnu Taimiyah kedalam Aqidah Asy’ariyah?”

  1. abu fadhl April 25, 2010 at 10:48 pm #

    smoga allah membersihkan dm mengharumkan nama shaikhil islam ibnu taimiyah rahimmahullah dari orng2 bodoh.

    • anwar bawazir April 27, 2010 at 1:45 am #

      aminn …..

  2. Jerusalem April 30, 2010 at 3:44 am #

    Semoga Alloh merahmati beliau… Amin.

  3. Tommi May 18, 2010 at 10:53 am #

    Saya sudah duga, ada banyak pemalsuan yg diatasnamakan Syaikhul Islam rahimahullahu Ta’ala. Namun saya ingin bertanya pada akhi tuan rumah yg dirahmati Allah, benarkah risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah Li Ibn Taimiyah yg dinisbatkan kepada Imam Adz-Dzahabi adalah nasihat beliau kepada gurunya agar bertobat? Apakah Risalah An-Nashihah ini shahih dan benar adanya berasal dari Imam Dzahabi atau hanya kedustaan belaka yg dinisbatkan kepada beliau?

    Saya sangat mengharapkan jawaban dari akhi. Terima kasih

  4. Asy'ariyah August 15, 2010 at 9:30 am #

    Udah jelas dari penjelsn2 di atas taemiyah adlh pnuh kontradiktif,intinya mayoritas ulama sjaman n ssudahny menentangnya,jg pmerintahn menghukumnya,brarti ada apa dgn taemiyah???Apa dia sndri yg bnar??N mayoritah ulama sjamannya yg brbda slah?Knp fanatik taemiyah!! Lihat rujukan2 di http//salafytobat.wordpress.com

    • dobdob August 16, 2010 at 1:12 am #

      akhil karim…semoga ketidaksetujuan antum dikali pertama berkomentar diblog saya adalah langkah antum untuk mencari kebenaran. silahkan antum baca link ini untuk mengetahui kedudukan Ibnu Taimiyah disisi para ulama

      https://syaikhulislam.wordpress.com/category/biografi/

      nasehat saya kepada antum adalah agar lebih sering membaca buku-buku biografi yang ditulis oleh ulama-ulama besar dan terpercaya, sebagiannya telah saya sampaikan dalam menu biografi di blog ini. saya bisa pastikan bahwa kita-kitab biografi semisal Bidayah wannihayah, Mu’jam Mukhtas, durarul kaminah, badrut thali oleh syaukani. merupakan rujukan yang jauh lebih baik daripada link yang anda berikan asal jangan dipotong-potong seperti kelakuan pemilik blog yang antum berikan linknya.

      oh yah… luangkan waktu anda untuk membaca kitab yang memuat 80-an biografi ibnu Taimiyah yang bersumber dari kitab-kitab sejarah dan rizal.

      الجامع لسيره شيخ الإسلام

      kalau anda sudah membaca semua biografi yang ditulis oleh 75 orang ulama besar dalam kitab ini, maka silahkan simpulkan sendiri bagaimana para ulama tersebut memandang ibnu Taimiyah.

      silahkan didownload PDF-nya!

      http://ia311235.us.archive.org/0/items/gssiit2gssiit2/gssiit.pdf

      Semoga Allah menunjuki kita jalan yang benar. Saya yakin gaya bahasa anda menunjukkan bahwa anda adalah orang yang dekat dengan kebenaran

      Saudaramu: dobdob

  5. Jerusalem September 5, 2010 at 12:53 pm #

    betul tuh, pemilik blog sal***t***t sering dlm postingannya memotong” perkataan Ulama, contohnya perkataan ibnu Taimiyyah dlm pendapat beliau ttg Maulid Nabi

  6. Haditya Endrakusuma March 2, 2011 at 11:39 am #

    Berikut sekedar sharing coretan singkat kenapa Asy’ariyyah dianggap tidak sesuai dengan Aqidah Ahlul Sunnah. Semoga bermanfaat.

    Kesalahan Atas Konsep Kalam Nafsi Asy’ariyyah dan Nur Muhammad dalam Tasawwuf Falasifah.

    Tulisan ini lahir atas diskusi kecil-kecilan dengan sahabat-sahabatku tercinta, berawal dari perdebatan tentang Mazhab Asy’ariyyah itu ahlul sunnah atau bukan dan mengenai status “sufi” yang dikritik oleh para ulama Salaf. Yang ternyata ujung dari semua diskusi, perdebatan ini adalah berawal dari kajian Kosmologi. Penulis, sengaja memulai dengan penelusuran tentang konsep “Kalam Nafsi” yang menjadi salah satu basis keyakinan para penganut faham Asy’ariyyah. Semoga bermanfaat dan tanggapan balik, input yang positif atas tulisan ini sangatlah menjadi harapan untuk penulis demi perbaikan dan terjaganya adab etika keilmuan bersama.

    konsep “Kalaam Nafsii Qadiim” adalah konsep yang lahir dikarenakan Asy’ariyyah menafikan “qiyaamul ‘af’aal bidzaatillaah” (bahwa Allah itu tidak melakukan perbuatan-Nya secara langsung). Penafian atas “qiyaamul ‘af’aal bidzaatillaah” ini dikarenakan kesalahan Asy’ariyyah dalam mencermati beberapa proposisi dan aksiologi dalam diskursus yang bahasan Kosmologi, yakni proposisi “kullu maa laa yakhluu mina’l hawaadits, fahuwa haadits” (bahwa semua yang tidak terpisahkan dari sesuatu yang baharu, maka pasti ia juga baharu)

    Penerimaan atas “kullu maa laa yakhluu mina’l hawaadits, fahuwa haadits” ini oleh Asy’ariyyah khususnya dan para Mutakallimin pada umumnya adalah disebabkan proposisi tersebut digunakan untuk membuktikan proposisi bahwa “Alam ini baharu”.

    Para Mutakallimin, khususnya Asy’ariyyah untuk membuktikan “Alam ini baharu” menggunakan rumusan logika; “Alam ini terdiri dari substansi (jawhar) dan aksiden (a’rdl). Baik substansi maupun aksiden, dua-duanya baharu. Jadi Alam ini pasti baharu”. Substansi adalah sesuatu yang menempati ruangan secara mandiri, sedangkan Aksiden adalah properti yang tidak mandiri dan melekat pada sebuah substansi.

    Kebaharuan aksiden, dibuktikan dengan aksioma bahwa aksiden itu selalu berganti (laa yabqaa yamaanayn). Dan untuk membuktikan kebaharuan substansi, digunakan senarai logika bahwa “Substansi itu tidak pernah terpisah dari aksiden-aksiden yang baharu dan tidak pernah mendahuluinya. Sedangkan semua yang tidak pernah terpisah dari sesuatu yang baharu, pasti ia juga baharu. Maka berarti substansi pasti baharu, sebab tidak pernah terpisah dari aksidennya yang baharu”.

    Ketidakterpisahan Alam dari aksiden yang baharu, dibuktikan dengan aksioma bahwa Alam ini tidak pernah terpisah dari “gerak” dan “diam” (al-harakah wa’s sukuun). Sedangkan gerak dan diam adalah dua hal yang baharu. Jadi bisa dipastikan, bahwa Alam ini tidak terpisah dari hal-hal yang baharu.

    Akibatnya, Asy’ariyyah memandang bahwa tidak mungkin perbuatan-perbuatan spesifik Allah seperti “menciptakan” dan “memusnahkan” sesuatu yang dilakukan oleh Allah secara langsung”. Sebab bila itu terjadi maka dalam pandangan Asy’ariyyah, Allah itu tidak qadiim alias baharu karena “sesuatu yang tidak terpisah dari hal-hal yang baru pastilah ia baharu”.

    Oleh sebab itu, Asy’ariyyah dalam memandang “perbuatan” Allah seperti “mencipta”, “berfirman” dan seterusnya, mengajukan konsep “ta’alluq tanjiizy hadiits” (manifestasi aktual yang tidak azali, punya domain waktu tertentu). Dengan konsep ini, Asy’ariyyah memandang perbuatan Allah seperti “mencipta”, “menurunkan wahyuNya (berfirman)” itu merupakan manifestasi ‘ibaarah/pengungkapan kalam Allah yang qadiim, azali. Oleh sebab itu konsep ini disebut “Kalam Nafsii Qadiim”.

    Dengan konsep “Kalam Nafsii Qadiim” inilah kemudian Asy’ariyyah memandang mushaf al Qur’an yang kita baca sekarang ini bukanlah firman Allah secara hakiki melainkan sekedar pengungkapan kalam Allah, dimana kalam Allah yang hakiki tersebut adalah “makna” bukan “bahasa”, sebab kalam Allah itu qadiim azali (tiada bermula dan tiada berakhir). Sehingga menurut Asy’ariyyah yang pertamakali mengungkapkan kalam Allah dalam “bahasa” ini adalah malaikat Jibril (jadi tidak diucapkan langsung oleh Allah).

    Nah, konsep “konsep “ta’alluq
    tanjiizy hadiits” sendiri muncul akibat penerimaan proporsisi “tarjiih bilaa murajjih” (perubahan tanpa sebab). Proposisi “tarjiih bilaa murajjih” ini adalah efek atas penerimaan pembuktian proposisi “kullu maa laa yakhluu mina’l hawaadits, fahuwa haadits” oleh Asy’ariyyah dan pada umumnya para Mutakallimin.

    Penerimaan atas konsep “Tarjih bilaa murajjih” ini pula disebabkan perspektif aksiomatik Asy’ariyyah dan para Mutakkalimin yang menyatakan bahwa iradaah Allah untuk seluruh kejadian dan makhluk di sepanjang zaman adalah sifat azali yang tunggal dan tidak berbilang. Perspektif ini muncul dikarenakan penolakan para Mutakallimin khususnya Asy’ariyyah atas kemungkinan “adanya mahluk itu” azali, atas kemungkinan “proses sebab-akibat, kausalita” itu azali.

    Selain itu, proposisi “Tarjih bilaa murajjih” tersebut diajukan untuk mengisi pertanyaan yang muncul dari kesimpulan para Mutakkalimin, khususnya disini Asy’ariyyah yang menyatakan bahwa sejak zaman azali sampai saat momen diciptakanya makhluk yang pertama kali, Tuhan hanya sendirian dan tidak pernah ada makhluk yang pernah diciptakan-Nya sama sekali.

    Aliran Muktazilah dan Karramiyyah menyatakan bahwa ketiadaan makhluk sebelum momen itu adalah karena Allah “masih mustahil untuk melakukan penciptaan” (“mumtani‘un ‘alayh”). Selanjutnya dengan “tarjih bilaa murajjih” maka Allah yang semula tidak mampu mencipta ternyata tiba-tiba bisa mencipta.

    Sedangkan Aliran Kullabiyyah dan Asy’ariyyah menyatakan bahwa ketiadaan makhluk sebelum momen tersebut adalah karena iraadah azaliyyah Allah “masih mustahil mewujudkan hasilnya” (“mumtani‘un minhu”). Dan dengan alasan yang sama dengan Mu’tazillah yakni “tarjih bilaa murajjih” maka Allah pun yang semula iradah-Nya belum bisa menghasilkan ciptaan ternyata tiba-tiba bisa mewujudkan hasilnya begitu saja tanpa adanya perubahan apapun.

    Aksioma “Tarjiih bilaa murajjih” yang diajukan oleh para Mutakkalimin ini kemudian dikritik dan diruntuhkan oleh Para Filosuf. Mereka (para Filosuf) tersebut dengan mudah mematahkan “Tarjiih bilaa murajjih” dengan melontarkan argumen “bila pada momen ketika belum ada mahluk tersebut yang disebabkan Allah belum mampu mencipta dan atau iraadah Allah belum mampu mewujudkan ciptaan, maka tentulah Allah itu tidak Maha Pencipta”. Hal tersebut tentu kontradiktif dengan pernyataan “Allah Maha Pencipta dan kemampuan Allah mencipta itu qadiim azali”.

    Oleh sebab itu, para Filosuf mengajukan tesis “qidamul ‘aalam” yakni adanya beberapa entitas spesifik yang qidam azali bersama Allah. Para Filosuf tersebut kemudian membangun konsepsi mereka tentang “asal usul alam” dengan menggunakan teori emanasi yang berasal dari pemikiran aristotle dan neoplotinus.

    Para Filosuf beranggapan bahwa entitas yang ada bersama Allah pertama kali adalah Akal Prima. Akal Prima ini merupakan manifestasi Allah untuk menunjukan keberadaanNya. Anggapan ini muncul dikarenakan Allah Yang Maha Wujud ini adalah satu-satunya Wujud yang Nyata (Wujud al Mutlaq). Sehingga Wujud yang Maha Tunggal ini tidaklah mungkin menghasilkan wujud-wujud lain yang nyata, sebab bila hal tersebut maka akan menafikan kemaha tunggalan wujud yang mutlaq tersebut. Sehingga para Filosuf tersebut mengangap segala eksistensi yang ada di alam semesta ini hanyalah eksis atau ada dalam fakultas “mental”, alam imajiner.

    Dari Akal Prima tersebut baru kemudian tercipta Akal ke 2 sampai Akal ke 10 sampai munculnya elemen materi pertama (api, udara, air, tanah), bumi seisinya dan roh-roh. Oleh sebab itu dalam konsep ini, Allah tidak langsung berhubungan dengan yang banyak, tetapi melalui Akal Prima dan seterusnya.

    konsep “Emanasi” yang diajukan oleh para Filosuf ini kemudian memandang bahwa Alam diciptakan bukan dari tiada atau nihil, tetapi dari elemen materi asal (api, udara, air, tanah). Sebab, bagi mereka sesuatu itu ada mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Maka materi asal timbul bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Allah.

    Karena Alam befikir semenjak qidam, yaitu zaman tak bermula (azali, abadi), apa yang dipancarkan pemikiran Allah itu mestilah pula qadim (abadi), dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Dengan lain kata Akal I, Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api, udara, air, tanah juga ABADI bersama Allah.

    Sehingga para Filosuf tersebut menganggap adanya entitas spesifik spesifik dari alam ini yang tak-berawal dan azali bersama Allah, yaitu ‘uquul (sepuluh intelect), nufuus (sembilan soil), dan aflaak (sembilan bola langit).

    Argumen dari para Filosuf ini kemudian diserap oleh para “Sufi” yang kemudian mendefinisikan “Akal Prima” itu sebagai “NUUR MUHAMMAD”. Semenjak itulah lahir golongan “Tasawuf Falasifah”. Yang selanjutnya pemikiran “Tasawwuf Falasifah” ini berkembang menghasilkan faham-faham baru seperti “Wihdat al Wujud” dan sebagainya.

    Sesungguhnya, permasalahan utama dari konsep Asy’ariyyah dan para Mutakkalimin berangkat dari kesalahan analisa lebih lanjut terhadap kesimpulan bahwa “Alam ini Baharu”. Asy’ariyyah kemudian berasumsi bahwa ada momen dimana Allah saat itu sendiri, belum ada ciptaanNya. Sehingga, Asy’ariyyah dan para Mutakkalimin menerima proposisi ‘setiap hal yang tidak terpisahkan dari hal-hal baharu pasti juga baharu’ (kullu maa laa yakhluu mina’l hawaadits, fahuwa haadits). Tentu saja, efek dari penerimaan proposisi tersebut Asy’ariyyah dan para Mutakkalimin menganggap argumen proses kausalita itu azali yakni “hawaadits laa awwala lahaa” (hal-hal baharu yang azali) dalam pengertian “laa awwala li jinsihaa” (“rangkaian kemunculan makhluk atau kejadian yang tak terputus”) tersebut adalah mustahil terjadi.

    Padahal, argumen “qidamu’l ‘âlam” (keazalian alam) dan “hawâdits lâ awwala lahâ” (hal-hal baharu yang azali) adalah dua ungkapan mujmal (tidak mendetail) yang masih mengandung ambiguitas makna. Keazalian alam dalam pengertian qidamu’n naw‘ (azalinya jinsu’l ‘aalam / “bahwa tidak ada satu masa pun di mana di situ tidak ada makhluk apapun sama sekali”) tentu berbeda dengan keazalian alam dalam pengertian qidamu’l ‘ain (azalinya entitas-entitas tertentu yang ada di alam). Ungkapan “hawaadits laa awwala lahaa” dalam pengertian “laa awwala li jinsihaa” (“rangkaian kemunculan makhluk atau kejadian yang tak terputus”) juga tentu berbeda dengan ungkapan serupa dalam pengertian “laa awwala li a‘yaanihaa” (“beberapa makhluk atau kejadian spesifik yang tidak pernah tidak ada”). Kedua ungkapan ini memiliki nilai kebenaran yang berbeda, jadi tidak bisa dipukul rata untuk sama-sama dimustahilkan kemungkinannya. Pernyataan pertama yang berarti “keazalian jenis alam” atau “ketidakberhinggaan rangkaian penciptaan” jelas bukan sesuatu yang mustahil, sebab kapanpun sejak zaman azali sampai zaman abadi Sang Pencipta selalu ada sehingga kemungkinan adanya ciptaan hasil kreasi-Nya juga selalu ada dan tidak pernah mustahil. Jadi tidak ada batas awal ataupun batas akhir yang spesifik untuk kemungkinan adanya makhluk, sebab sebelum batas awal tadi dan setelah batas akhir itu, Allah Swt sudah dan selalu mampu untuk menciptakan makhluk-makhluk jika Dia menghendakinya.

    Hal ini sesuai dengan nash Al-Quran yang menyatakan bahwa Allah Swt. memiliki sifat “fa‘aalun limaa yuriid”, “al-khallaaqu’l ‘aliim”, dan “kullu yawmin huwa fii sya’nin”. Ayat-ayat ini menandaskan bahwa secara azali dan abadi, Allah Swt adalah Tuhan yang selalu Maha Mencipta dan tidak pernah tidak mampu ataupun tidak berhasil untuk mewujudkan ciptaan-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat lainnya: “afaman yakhluqu ka man lâ yakhluq? Afalaa tadzakkaruun?!”. Akan tetapi, satu persatu dari masing-masing ciptaan-Nya itu tentu saja memiliki titik awal untuk keberadaannya sebab ia tidak mungkin ada sebelum dikehendaki dan diciptakan oleh Allah. Perspektif ini dinyatakan dengan gamblang oleh firman-Nya : “Innamaa amruhu idzaa araada syai’an an yaquula lahu ‘Kun!’ fa yakuun”. Kemampuan Allah untuk menciptakan makhluk adalah sifat permanen yang selalu bisa secara sempurna untuk menghasilkan efeknya kapan saja sejak azali, dan begitu Allah memfirmankan “Kun!”, maka makhluk atau kejadian yang diciptakan oleh firman itu akan langsung ada seketika dan tidak tertunda. Akan tetapi, satu persatu dari masing-masing makhluk dan kejadian hasil penciptaan Allah ini tentunya tidak mungkin mendahului atau bersamaan dengan pemfirmanan “Kun!”. Jadi “kemungkinan adanya makhluk” itu azali dan abadi, akan tetapi satu persatu dari makhluk-makhluk ini pastilah baharu dan “pernah tidak ada”.

    Ketidakjelian Falasifah dan Mutakallimin dalam membedakan antara yang universal (“nau‘”) dengan yang spesifik (“‘ain”) inilah yang telah menyebabkan kedua macam doktrin yang mereka hasilkan (yakni doktrin “kullu maa la yakhluu mina’l hawaadits, fahuwa haadits dan “Tarjiih billa murajjih”) menjadi sama-sama tidak valid dan mengandung kekeliruan konseptual.

    Mengomentari masalah-masalah tersebut, maka imam Ibn Taimiyyah berkata :

    “Sesungguhnya saja, yang menyeret para Mutakallimin ini mengatakan pendapat tersebut (penafian shifaah ikhtiyaariyyah) adalah aksioma yang mereka terima dari kalangan Jahmiyyah yang menyatakan bahwa ‘setiap hal yang tidak terpisahkan dari hal-hal baharu pasti juga baharu’ (kullu maa laa yakhluu mina’l hawaadits, fahuwa haadits). Padahal aksioma ini keliru secara rasional maupun tradisional. Aksioma ini absurd dan bertentangan dengan akal maupun syariat, dan gara-gara penerimaan aksioma inilah para Falasifah serta Dahriyyah itu leluasa menyerang mereka.

    Jadi Islam tidak berhasil mereka bela, dan musuh Islam pun tidak berhasil mereka kalahkan (falaa’l Islaama nasharuuhu walaa’l ‘aduwwa kassarruuhu). Mereka bahkan akhirnya menjadi berseberangan dengan Salaf dan Aimmah, serta merekapun menjadi berseberangan dengan rasio dan syariat. Gara-gara aksioma yang mereka jadikan pilar aqidah ini, mereka menyebabkan berkuasanya Falasifah, Dahriyyah, dan Malahidah atas orang-orang Islam. Andai saja mereka memilih untuk tetap berpegang teguh dengan ajaran yang berasal dari Rasulullah, maka mereka akan (memberikan hasil pemikiran yang) sesuai dengan tradisi sekaligus rasio, dan pilar aqidah mereka akan kuat. Akan tetapi mereka menyia-nyiakan pondasi yang sebenarnya, sehingga mereka pun tidak berhasil mencapai puncak. Pondasi itu tidak lain adalah ‘mengikuti ajaran Rasulullah’ “ (Majmû‘ Fatâwâ: VII/85).

    KESIMPULAN.

    Bahwa sesungguhnya semua masalah yang timbul dari Filsafat, Kalam sampai Tasawwuf Falasifah ini berawal dari pembahasan tentang “Asal Usul Alam” (kosmologi) yang berujung atas adanya aksioma “kullu maa laa yakhluu mina’l hawaadits, fahuwa haadits”

    Akibat diskursus atas aksioma tersebut akhirnya menjauhkan para Filosuf, Mutakallimin dan penganut Tasawwuf Falasifah menjadi tersesat dan jauh dari pemahaman Aqidah Salaf.

    Hadanallaah wa iyaakum ajma’in.

    • dobdob March 2, 2011 at 3:57 pm #

      terimakasih atas sumbangsihnya. entah buku dan kitab apa saja yang telah bapak lahap untuk membuat sebuah uraian sebagus ini. saya harap berapapun buku filsafat yang telah bapak telan, bapak juga mampu memuntahkannya.

      kita memang terdesak untuk menguasai Filsafat untuk mengarungi atau membantah kesesatan yang ada padanya, kekhawatiran saya adalah ketika paradigma berpikir orang filsafat mempengaruhi anda. karena kita manusia yang tidak kuat resistensinya. saya pernah tahu seorang yang gemar sekali membahas kabalah dan Numerologi serta simbol-simbolnya untuk membongkar kebobrokan mereka. namun orang seperti ini akan berlebihan dan mungkin ketika panitia sebuah acara bernuansaIslam menyajikan kotak makan segi enam, dia akan memunculkan teori kabalah dan mulai menaruh Curiga. satu saat gaya berpikir ala kabalah dan numerologinya muncul dalam gempa padang dengan menukil ayat-ayat yang berkaitan dengan nomor-nomor kejadian dan waktunya. alhasil ternyata itu adalah data yang terlalu dipaksakan untuk dihubung-hubungkan.

      harapan saya agar kalaupun bapak membantah mereka, tetap dengan bantahan berdasarkan alqurán dan sunnah, bukan bantahan dengan menggunakan kelemahan teori-teori mereka.

      Terakhir saya meminta bapak untuk berkontribusi dengan menyumbangkan tulisan-tulisan terkait Ibnu Taimiyah. bapak bisa langsung posting dimana saja di blog ini dan kalau sesuai dengan Misi blog ini, maka akan saya taruh dimenu utama.

  7. Haditya Endrakusuma March 2, 2011 at 5:18 pm #

    Al Akh. Ustadz “Dobdob”.

    Terimakasih atas atensi dan Nasihahnya yang alhamdulillah akan senantiasa menjadi concern utama kami pribadi. Sungguh satu kebahagian menemukan lagi blog-blog yang mengkhususkan mengkaji pemikiran seorang tokoh besar, seorang Aimmah yang oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy dalam taqriidh-nya atas buku Ar-Raddu’l Waafir karya Qadhi Ibnu Naashiruddin dipuji dengan ungkapan: “Popularitas ke-imam-an Syekh Taqiyyuddin lebih terang daripada matahari”.

    Awal ketertarikan dan “jatuh cinta” saya pribadi kepada Syaikh al Islam Imam Ibn Taimiyyah berawal dari “ketidaknyamannya” dan “tidak tentramnya” hati dan rasio saya ketika saya pribadi menggemari Filsafat. Waktu itu saya pribadi kemudian tertarik dan beralih dengan tasawwuf dan pemikiran Kalam. Ternyata disitu pula saya juga tidak merasa tentram, iman saya tidak bertambah bahkan rasio saya semakin jauh dari adab etika keilmuan. Di akhir “kebuntuan” itulah saya secara tidak sengaja menemukan sebuah mailing list interdisiplin ilmu yang disitu ada diskusi-diskusi menyangkut aqidah, filsafat dan kalam. Di Mailing list tersebutlah saya menemukan seorang azhari (pelajar univ. Al Azhar) bernama ust. Nidlol Masyhud, Lc yang menguraikan secara gamblang, sistematis dan argumentatif tentang kebenaran Aqidah Ahlul Sunnah / Ahlul Hadits. Beliau sendiri sangat terinspirasi dan menguasai turots-turots karya Imam Ibn Taimiyyah.

    Dari sinilah awal saya mengenal dalam dan jatuh cinta dengan pemikiran-pemikiran Ahlul Sunnah lewat keimaman Ibn Taimiyyah. Tulisan itu saya edit ulang dan lebih sederhanakan dari penjelasan-penjelasan sistematis dari Ust. Nidlol atas karya-karya Imam Ibn Taimiyyah. Penjelasan-penjelasan dalam tulisan tersebut juga diambil dari penjelasan-penjelasan Imam Ibn Taimiyyah dalam kitab-kitab terkenal beliau seperti At-Tis‘iniyyah, Minhajus Sunnah, Dar’ut Ta’arudl, Majmu Fatawa.

    Yang saya kagumi dan saya coba terus untuk pelajari dari beliau, Imam Ibn Taimiyyah yakni dalam memandang dan menyikapi segala permasalahan yang ada adalah beliau senantiasa mengedepankan sikap Adil dan dari sikap Adil inilah beliau senantiasa mengkomparasikan semua hal dan meneliti secara mendalam tiap-tiap masalah. Dan terbukti memang melalui sikap ADIL inilah melahirkan pemikiran yang sesuai dengan Tradisi Sunnah sekaligus stabil dan Rasional. Dan beliau telah mampu membuktikan bahwa kebenaran Wahyu itu berlaku “Universal”. Apa-apa yang di-informasikan Wahyu itu pasti juga sesuai dengan RASIO dan juga fakta EMPIRIS. Tidak akan pernah bertentangan.

    Al Imam Ibn Taimiyyah menyatakan dalam Muqaddimah fi Ushuli’t Tafsir : “Cara paling baik untuk menceritakan perbedaan adalah dengan menghimpun aneka pendapat yang ada dalam permasalahan tersebut, kemudian menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah dari aneka pendapat itu. Juga menyebutkan efek dan akibat dari perbedaan yang ada itu agar pertentangan tidak berlarut-larut dan tidak terjadi debat kusir … Adapun orang yang menceritakan perbedaan pendapat tapi tidak menghimpun aneka pendapat yang ada secara menyeluruh, maka dia kurang, sebab bisa jadi pandangan yang benar justru ada pada pendapat yang tidak ia sebutkan. Begitu juga dengan orang yang menceritakan perbedaan begitu saja tanpa menunjukkan mana pendapat yang benar. Ini juga kurang. Maka jika ia kemudian sengaja membenarkan pendapat yang salah, ia berarti telah sengaja melakukan kedustaan. Dan jika ia tidak sengaja, berarti ia telah keliru.”

    Kita bisa melihat betapa metodologi yang dipakai al Imam Ibn Taimiyyah yakni metode komparatif yang berbasis observasi dan ketelitian analisa yang dilandasi sikap Adil ini misalnya dalam karya beliau Dar’u’t Ta‘arudl.

    Dalam buku yang termasuk paling istimewa di Dunia “Teologi” sepanjang perjalanan sejarah ini, Ibnu Taimiyyah menelusuri dan melakukan analisa untuk referensi-referensi Teologi dalam kuantitas yang sangat dahsyat.

    Beliau melakukan komparasi dan analisa terhadap berbagai pandangan aneka kalangan, mulai dari para Aimmah dan Muhadditsin seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ibnul Mubarak, Abdul Aziz Al-Kinany, Abu Nu’aim Al-Ashbahany, Al-Bukhary, Abu Utsman Ash-Shabuny, Ibnu Khuzaimah, Utsman Ad-Darimy, Al-Khaththaby, dan Ibnu Abdil Barr; para Fuqoha dari berbagai madzhab terutama Syafi’iyyah dan Hanabilah; para Masyayikh Shufiyyah seperti Abu Sulaiman Ad-Darany, Al-Junayd, Sahl At-Tustury, Abu Utsman An-Naisabury, dan Abdul Qadir Al-Jailany; para Mutakallimin dari kalangan Jahmiyyah klasik, Muktazilah, Kullabiyyah, Karramiyyah, Asy’ariyyah, Hisyamiyyah, Syi’ah, Hanabilah, dll. terutama Ibnu Kullab, Abu ‘Ali Al-Jubba’iy, Al-Asy’ary, Abdul Jabbar Al-Hamadzany, Al-Baqillany, Abul Husein Al-Bashry, Ibnu ‘Aqil, Ibnu Tawmart, Ibnu Furak, Ibnul Haisham, Ibnu Hazm, Ibnuz Zaghuny, Al-Juwainy, Al-Ghazzaly, Asy-Syahrastany, Ar-Rozy, Al-Amidy, Al-Armawy, Al-Abhury; para Falasifah baik yang berada di Dunia Islam seperti Al-Farabi Ibnu Sina, Ikhwan Ash-Shafa, Abul Barakat, Ath-Thusy, dan Ibnu Rusyd, maupun Aristoteles dan para Falasifah yang hidup sebelum dan setelahnya; juga dari kalangan Falasifah Tashawwuf seperti Sahruwardy, Ibnu Sab’in, Ibnu ‘Araby, dan At-Tilmisany; serta dari kalangan Bathiniyyah dan Qaramithah. Uniknya, keluasan materi dan ketelitian analisa ini ternyata muncul dalam sebuah buku yang semula hanya dimaksudkan untuk menjawab kritis sebuah kaedah: “taqdimu’l ma‘qulat ‘ala’s sam‘iyyat” yang banyak dijadikan sebagai qanun kully oleh Ar-Razy dll.

    Pantaslah kalau kemudian Imam Adz-Dzahabi menyatakan :

    “Ajaib dalam kecerdasan dan kegesitan fikirannya; pionir dalam pengetahuan akan Al-Kitab, As-Sunnah, dan Ikhtilaf; lautan dalam ilmu-ilmu naqli; di masanya, dia adalah anak tunggal zaman dalam hal keilmuan, kezuhudan, keberanian, kedermawanan, amar ma’ruf, nahi munkar, dan kemelimpahan karya … Maka jika disebutkan TAFSIR, dialah pembawa benderanya; jika disejajarkan para FUQAHA, dialah mujtahid mutlak mereka; jika para HUFFADH HADITS itu hadir, maka dialah yang layak bicara dan yang lain terdiam … jika disebut nama-nama MUTAKALLIMIN, maka dialah yang menonjol dan menjadi referensi mereka; dan jika Ibnu Sina memimpin barisan FALASIFAH, dialah yang menghempaskan dan mengalahkan mereka. Dia juga memiliki wawasan yang mendalam mengenai NAHWU, SHARAF, dan LUGHAH. Dia lebih agung dari apa yang bisa dilukiskan oleh lisanku atau yang coba digambarkan oleh penaku!” (Al-Jami’: 254-255).

    Demikian.

    • dobdob March 2, 2011 at 5:23 pm #

      hadanallahu waiyyakum ajmain

  8. Abdul Syukur March 3, 2011 at 9:52 am #

    Wuih demikian rumit pemikiran filsafat.

    saya menilai sebetulnya Asy’ariyyah dll itu TIDAK MEMBICARAKAN Sifat Khaliq (Allah), melainkan mereka tenggelam membicarakan Sifat Makhluq yang disandarkan kepada Allah.

    Ust. dob dob, kalau boleh tau pemahaman filsafat Asy’ariyyah seperti yang dituliskan oleh Pak Heditya itu bersumber dari Imam Asy’ari atau pemahaman dari Ulama yang mengaku pengikut Imam Asy’ari namun lahir jauh (ratusan tahun) setelah sang Imam Asy’ari wafat?

    saya masih penasaran, sebetulnya ajaran asli Imam Asy’ari itu yang seperti apa sih?…karena kan menurut Hafidz Ibnu Katsir di akhir hayatnya beliau kembali pada manhaj salaf.

    Tetapi kalau melihat kenyataan saat ini kesannya jadi Neo Asy’ari Jahmiy, ditambah lagi yang mengaku “bersanad” ilmunya pun tidak bisa dengan tegas dan jelas menjelaskan ini lho ajaran asli Imam Asy’ari, …yang ini ajaran dari Syaikh Fulan yang merasa sepaham dengan Imam Asy’ari dan memberikan penjelasan dalam hal ini…gitu.

    Karena sepintas dari yang pernah saya baca Syaikh Ibnu Taimiyah pun memuji Asy’ariyyah tetapi Asy’ariyyah yang menetapkan Sifat Allah, bukan Asy’ariyyah Jahmiyah

    Mohon penjelasannya Ustadz

    • dobdob March 3, 2011 at 10:04 am #

      yang saya lihat, Asyári lebih berkembang dengan menggunakan kitab-kitab ulama pengikut yang menisbatkan diri pada Asyáriyah, oleh karena itu dalam pelajaran Aqidahnya mereka justeru tidak menggunakan kitab-kitab karangan abu Hasan Al asyári. belum lagi makin kemari antara ajaran Asyári dan maturidu seolah menjadi satu. mana ada orang yang mengenal sifat 7 atau sifat 13, yang mereka kenal adalah sifat 20. padahal Asyariyah itu hanya mengakui 7 sifat dan maturi itu mengakui 13 sifat. para ulama dari kalangan Salafy menganggap mereka mengadopsi Aqidah sang Imam Ketika beliau dalam masa transisi antara Muktazilah dan Ahlussunnah dimana beliau membantah orang muktazilah dengan paradigma berpikir Muktazilah yang sebelumnya dia telah peluk selama 40 tahun dibawah Bimbingan Al Jubbai al Mu’tazili

      Saya tidak tahu kalau Ibnu taimiyah Memuji Asyáriyah dalam posisi membenarkan Aqidah mereka secara umum. Tapi Aqidah mereka adalah yang paling dekat dengan Ahlussunnah. Ibnu Taimiyah justeru Habis-habisan melakukan Radd kepada mereka dan bahkan dakwah dan tulisan syaikh berkutat pada bantahan kepada mutakallimin dari kalangan Asyáriyah dan Syiah

  9. Tommi March 3, 2011 at 10:37 am #

    Bukannya imam Asy’ari sendiri melalui 3 fase dalam kehidupannya :

    1. Mu’tazilah
    2. Kullabiyah
    3. Kembali pada manhaj salaf

    Kalo dari yg saya pernah baca, asy’ariyah mutaakhirin mentok pada fase kedua bahkan pada beberapa org (saya pernah baca tulisan2 di weblognya) malah terjatuh pada jahmiyah yg lebih parah.

    Anyway, klo dari penjelasan akhi Haditya, memang rumit dalam memahami penjelasan aqidah Asy’ariyah, saya sendiri sampe baca beberapa kali tuh komentarnya, dan pd akhirnya saya sampai pada 1 kesimpulan, aqidah mereka telah banyak terpengaruh oleh filsafat dan ilmu kalam. Saya sendiri ga ngerti tuh apa maksud dari “ta’alluq tanjiizy hadiits” (manifestasi aktual yang tidak azali, punya domain waktu tertentu), hehehe sptnya rumit sekali ya cara berpikirnya. Jadi inget mata kuliah fisika kuantum😀.

    Saya salut sama akhi Haditya, saya yakin beliau pasti sudah banyak melahap buku2 ilmu kalam dan tasawuf, sampe ngelotok begitu penjelasannya.

  10. haditya endrakusuma March 4, 2011 at 9:50 pm #

    Menanggapi pak Tommi, saya jadi ingat penjelasan ust. Nidlol di mailing list insistnet, tentang pengaruh-pengaruh filsafat dan mazhab kalam lainnya terhadap Asy’ariyah.

    Memang benar bahwa Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri, semula ingin total berafiliasi ke Imam Ahmad dan Ahlul Hadits (lihat “Al-Ibaanah” dan “Al-Maqaalaat”). Akan tetapi karena referensi yang dipakai Al-Asy’ari tidak langsung ke Imam Ahmad (tapi melalui
    Ibnu Kullab atau As-Saji & Al-Barbahary), maka ada beberapa kekeliruan yang tetap tertanam (khususnya tentang Kalam Nafsi). Ibnu Kullab sendiri, pemikirannya muncul sebagai reaksi radikal terhadap kalangan Muktazilah yang menganggap Al-Quran itu Makhluq.

    Sementara, dikalangan muta’akhirin Asy’ariyyah. Doktrin Asy’ariyyah lama kelamaan mendekati Jahmiyah, Mu’tazillah dan Filsafat paripatetik (Neoplatonis). Hal ini disebabkan, para “proponen” utama penggiat Asy’ariyyah seperti Imam al-Qusyairi, Imam Haramain al-Juwaini dan Fakhruddin ar-Razy “menggemari” pemikiran Jahmiyah, Mu’tazillah dan Ibn Sina.

    Pengaruh Jahmiyah didapat dari al-Qusyairi (sebab beliau pernah belajar ke Ibn Furak, dari khurasan). Pengaruh Mu’tazilah didapet dari al-Juwaini, beliau dikenal menggemari buku-buku al-Juba’I dan sedang filsafat dari ar-Razy, dikenal penggemar Ibn Sina.

    Memang diakhir hayatnya banyak para penggiat mazhab Asy’ariyyah ini, seperti Imam al-Asy’ari, al-Ghazali, al-Juwaini dan ar-Razy melakukan regregasi pertaubatan meninggalkan ranah Kalam dan menekuni serta berketapan pada para Ahlul Hadits, serta beberapa dari mereka menulis wasiat risalah perbaikan.

  11. haditya endrakusuma March 4, 2011 at 10:20 pm #

    Pak Abdul Syukur,

    Sebetulnya Imam Ibn Taimiyah bukan “memuji” tapi memberikan padangan yang Proporsional. Beliau sangat mendahulukan ilmu dan keadilan “al-‘ilmu wa’l ‘adlu” dalam mengomentari setiap masalah. Sebab, Ilmu yang kuat akan melahirkan penilaian yang inshâf dan obyektif, sedangkan keadilan yang kuat akan menjauhkan diri dari ifraath dan tafriith. Dua prinsip ini sering sekali ditekankan oleh Ibnu Taimiyyah dalam karya-karyanya dan dalam peristiwa-peristiwa aktual di perjalanan hidupnya.

    “Berbicara mengenai (penilaian terhadap) orang lain, haruslah atas dasar ilmu dan keadilan, bukan atas dasar ketidaktahuan dan kedzaliman sebagaimana perilaku para Ahlul Bid’ah.” (Minhaaju’s Sunnah: IV/337);

    “Dan karena pengikut para nabi itu adalah penganut Ilmu dan Keadilan, maka ucapan (penilaian) para penganut Islam dan Sunnah terhadap para penganut Kufur dan Bid’ah itu adalah atas dasar pengetahuan dan keseimbangan, bukan atas dasar dugaan dan ambisi diri” (Al-Jawaab Ash-Shahiih: I/107);

    “Maka kita harus mengimani semua yang datang dari Allah dan menetapkan kebenaran. Kita tidak mengikuti ambisi dan tidak juga berbicara tanpa dasar ilmu. Kita harus mengikuti jalan Pengetahuan dan Keadilan. Dan itulah jalan ittiba’ Kitab dan Sunnah. Adapun orang yang menerima sebagian kebenaran dan mengingkari sebagian yang lain, maka perbuatannya tersebut merupakan penyebab perpecahan dan pertentangan” (Majmuu’ Fataawa: IV/450).

    Proporsionalitas penilaian ini membuat Imam Ibnu Taimiyyah selalu menghindari perilaku generalisasi yang serampangan. Penilaiannya terhadap sesama pegiat satu disiplin ilmu tertentu atau sesama penganut sebuah aliran tertentu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan latar belakang metodologis dan sosio-historis masing-masing orang. Ibnu Taimiyyah akan mempertajam penyikapan terhadap para pemimpin Bid’ah yang jelas-jelas secara sadar menentang ajaran-ajaran Islam, dan akan melunak serta mempertimbangkan berbagai macam apologi untuk tokoh-tokoh yang sekedar “terpengaruh” atau mengikuti konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan bid’ah secara tidak sadar.

    Penyikapannya terhadap orang-orang yang belum mengerti juga sangat kontras dengan penyikapannya terhadap orang-orang yang sudah mengerti. Demikian juga antara yang diam-diam saja dengan yang sudah melakukan propaganda, dan antara penilaian secara umum dengan penilaian secara spesifik.

    “Tidak semua orang yang menyelisihi Aqidah ini kemudian pasti akan ‘celaka’. Sebab penyelisih itu bisa saja merupakan seorang mujtahid yang akan diampuni kesalahannya oleh Allah. Atau ilmu yang sampai kepadanya belum mencapai tingkatan hujjah. Atau dia juga memiliki banyak kebaikan lain yang dengannya Allah menutupi kesalahannya … Substansi dari pernyataan ini adalah bahwa barangsiapa yang meyakini Aqidah tersebut, maka dia akan selamat dalam hal Aqidah. Adapun orang yang menyelisihinya, ia bisa jadi selamat dan bisa jadi juga tidak selamat.”;

    “Karena itu, para tokoh Ilmu dan Sunnah tidaklah serta merta mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, meskipun orang-orang tersebut telah mengkafirkan mereka. Sebab pengkafiran adalah sebuah vonis syar’i, maka seseorang tidak boleh membalas perbuatan tersebut dengan yang serupa. Sebagaimana orang yang berusta atas nama Anda dan berzina dengan keluarga Anda juga tidak boleh Anda balas dengan balik berdusta atas nama dia dan berzina dengan keluarganya, sebab dusta dan zina itu terlarang karena hak Allah. Begitu juga dengan pengkafiran, perbuatan ini juga terlarang karena hak Allah. Maka kita tidak boleh mengkafirkan siapapun kecuali orang-orang yang memang telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya. ” (Ar-Raddu ‘Ala’l Bakry: II/492)

    Prinsip ini juga membuat Ibnu Taimiyyah selalu mengakui dan menerima kebenaran dari manapun datangnya, serta menolak kekeliruan dari manapun hal itu berasal. Kemudian juga mengakui jasa-jasa para penganut bid’ah tersebut dalam usahanya memperjuangkan Islam menghadapi musuh dari luar.

    Pandangan yang proporsional inilah diterapkannya dalam memandang Asy’ariyyah sebagai sebuah sekte yang berisi orang-orang terkemuka yang tentunya jauh lebih baik daripada Mu’tazilah dan Syi’ah, apalagi Jahmiyyah dan Falasifah:

    “Maka mereka merupakan kalangan sekte Kalam yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Ahlul Hadits. Bahkan, mereka terhitung sebagai bagian dari Ahlus Sunnah jika dibandingkan dengan Mu’tazsilah, Rafidhah, dll. Bahkan merekalah tokoh-tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah di daerah-daerah yang para tokoh bid’ahnya adalah Mu’tazilah, Rafidhah, dan sejenisnya” (Naqdlu’t Ta’siis: II/87);

    “Kullabiyyah dan Asy’ariyyah lebih baik daripada mereka (Jahmiyyah, Najjariyyah, dan Dlarariyyah) dalam permasalahan Shifat. Sebab mereka menetapkan shifat-shifat ‘aqliyyah, dan para pemuka mereka juga secara umum menetapkan shifat-shifat khabariyyah” (Ar-Risalah At-Tadmuriyyah);

    “Asy’ariyyah itu lebih baik daripada Muktazilah dan Rafidhah di mata orang-orang yang paham apa yang ia katakan dan takut kepada Allah dalam apa yang ia ucapkan” (Minhaaju’s Sunnah: I/313);

    “Kemudian tidak satupun dari mereka (para pemuka Asya’irah), melainkan semuanya pernah punya jasa terpuji untuk Islam dan kebaikan-kebaikan yang bagus. Mereka juga punya jasa dalam membantah banyak pelaku Ilhad dan Bid’ah, serta dalam membela banyak Ulama Sunnah dan Aimmah Agama sebagaimana jamak diketahui oleh siapapun yang mengenal mereka dan menilai mereka secara proporsional dan atas dasar pengetahuan. ” (Dar’u’t Ta‘aarudl: I/283).

    Demikian.

  12. haditya endrakusuma March 5, 2011 at 8:30 am #

    Pak Tommi :

    Saya salut sama akhi Haditya, saya yakin beliau pasti sudah banyak melahap buku2 ilmu kalam dan tasawuf, sampe ngelotok begitu penjelasannya.

    Hadit:

    Ya Akhi, saya orang biasa saja akh, ilmu saya masih jauh kadarnya bahkan dibanding dengan al akh. Ust. Dobdob saya masih jauh dibawah beliau, dan terus terang saya banyak belajar dari ust. Dobdob di forum ini.

    Kalau terlihat saya “menguasai” kalam & Filsafat sebetulnya tidak demikian karena justru saya mendapat “pencerahan” dan “penjelasan” yang komprehensif atas kalam dan filsafat adalah dari Penjelasan-penjelasan al Imam Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah. Penjelasan beliau lebih mendalam dari apa yang saya baca dari buku-buku para Filosuf maupun Mutakkalimin itu sendiri.

    Kalau antum membaca karya-karya beliau, adalah sudah cukup bahkan lebih dari cukup. Sangat banyak informasi dan pemahaman tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam ranah filsafat, Kalam bahkan sampai logika, kosmologi dan astronomi yang akan anda dapatkan (tanpa harus anda baca dari buku-buku para penggiatnya sendiri). Maka tak salah kalau beliau dijuluki ulama / cendikiawan yang multidisipliner keilmuannya.

    Paparan yang kami kemukakan tentang kalam nafsi dan filsafat serta tasawwuf falasifah itu pun dari penjelasan-penjelasan beliau rahimahullah.

  13. supriyanto May 12, 2011 at 11:12 am #

    salam saudaraku ,
    penjelasan mengenai syaikul islam ibnu Taimiyyah sudah sangat jelas dan aktual .ada sebagian saudara kita yang belum mengenal secara khusus lewat kitab kitab karangannya .hanya mengandalkan kebencian buta , semoga Allah merahmati kita dan membuka lebar dada orang – orang yang membenci beliau …..amiin.

  14. Penuntut Ilmu January 4, 2012 at 11:43 am #

    bismillah..
    smoga Allah meneguhkan antum dlm al-haq.
    Barakallahu fiikum wa jazakmullahu khairan.

  15. Penuntut Ilmu January 4, 2012 at 11:45 am #

    bismillah..
    smoga Allah meneguhkan antum dlm al-haq.
    wahai saudaraku, berilah tanggapan terhadap apa yg ditulis dlm: http://dasfdagaafgaaa.blogspot.com/ karena di dlmnya banyak syubhat yg cukup berbahaya.
    Barakallahu fiikum wa jazakmullahu khairan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: