At Thufi antara pujian dan fitnah

10 May

Ibnu Taimiyah kerap terfitnah, kali ini hujaman itu disinyalir datang dari seorang Yang berlaqab At Thufi, nama lengkapnya adalah Sulaiman bin Abdul Qawi bin karim bin Said.

Fitnah tersebut dinukil Oleh Ibnu Hajar dalam Kitabnya Durarul Kaaminah fii a’yan Al Miah Ats Tsaminah.[1]

Ibnu Hajar menukil perkataan At Thufi yang banyak menisbatkan keburukan kepada Ibnu Taimiyah dari perkataan siapapun yang ia dengar sekalipun dari seorang Syiah Mu’tazilah Qadariyah[2] atau bahkan Musuh Ibnu Taimiyah Seperti Al Bakri. Diantaranya peristiwa yang mirip dengan fitnah Ibnu bathutah tentang nuzul, serangan Ibnu taimiyah terhadap Abu Bakar, Umar, dan yang paling banyak adalah tuduhan-tuduhan seputar ibnu taimiyah telah merendahkan Ali bin Abu Thalib dan keluarganya[3].

Sekalipun diawal At Thufi mengakui kepiawaian Ibnu Taimiyah dan kehebatannya dalam menyampaikan pelajaran tafisir, fiqh dan hadits. Bahkan mengatakan tak seorangpun mampu menandingi kehebatan tersebut, tapi setelah itu dia menggambarkan Ibnu taimiyah sebagai seorang Mujassim dan Nashibi dengan banyak mengambil pendapat dari pemuka syiah , diantaranya dari Muhammad bin Abu Bakar As Syakakini[4].

Karena banyaknya penukilan At Thufi dari Syiah, penulis merasa curiga dengan orang ini, Al Hamdulillah Allah memudahkan saya dalam mendapat biografi orang ini.

Kecurigaan saya ternyata terkuak. Biografi At Thufi ternyata ditulis oleh banyak ulama diantaranya Al Hafidz Ibnu Rajab dalam Dzail Thabaqatil Hanabilah. Sekalipun orang ini memiliki beberapa keutamaan dan tulisan-tulisan yang bermanfaat, namun tidak disangka ternyata ia dituduh  tenggelam dalam bid’ah Rafidah.

Al Hafidz ibnu Rajab berkata :

Dia memiliki banyak syair yang indah, Qasidah-qasidah tentang pujian kepada nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan Qasidah yang panjang tentang pujian terhadap Imam Ahmad. Namun begitu, dia adalah seorang syiah yang menyimpang I’tiqadnya dari Sunnah. Ia bahkan Mengatakan tentang dirinya sendiri:

حنبلي رافضي أشعري       هذه أحـد الـعـبـر

Hanabilah, rafidhah, Asy’ariyah    semuanya adalah  teladan.

Dia juga memiliki Qasidah-Qasidah tentang Rafidhah yang terdapat pada banyak karangan-karangannya, Dia pun mengarang kitab yang berjudul : “Al Adzaabul Waasib ala Arwahin Nawaasib” (Adzab yang kekal atas arwah Nawasib[5])

Termasuk akal bulusnya yang menjijikan adalah perkataannya didalam  syarah Arbain Nawawi (karangannya, red) : “Ketahuilah bahwa sebab-sebab khilaf yang terjadi diantara para ulama adalah pertentangan antar berbagai riwayat dan nash dan sebagian orang mengatakan penyebabnya adalah Umar bin khattab karena para sahabat mengijinkannya mengkodifikasi sunnah dikala itu.”

Selanjutnya Ibnu Rajab mengatakan:

“At Thufi bermukim di Madinah An Nabawiyyah selama beberapa saat dan bersahabat dengan As Sakaakini al Mu’tazili dan kedua bersama-sama dalam kesesatan dan Allah telah membuka kedoknya serta mempercepat pembalasan atasnya di negeri Mesir”

Selanjutnya Ibnu rajab menukil Perkataan Tajuddin Ahmad bin Maktum Al Qaisy:

…..terkenal dengan ke-Rafidhah-annya dan celaannya terhadap Abu Bakar dan Putrinya Aisyah Radhiyallahu Anhuma, serta sejumlah sahabat Radhiyallahu Anhum. Sebagaimana dikutip oleh Orang-orang yang pernah berjumpa dengannya mengetahui sikapnya. Diantaranya adalah perkataannya pada sebuah Qashidah

كم بين من شك في خلافته    وبين من قيل: إنه الـلَّـه

Berapa banyak orang yang meragukan kekhalifahannya
dan yang mengatakan bahwa dia Adalah Allah.

Permasalahan itupun diadukan kepada Qadhi Qudhat Hanabilah Saaduddiin Al Haritsi, dan kemudian terbukti, lalu ia dihadapkan kepada sebagian wakil-wakilnya untuk dipukul dan di ta’zir serta untuk diumumkan (kesesatannya, red).”

Ibnu Rajab menutup Kisah orang ini dengan mengatakan:

“aku berkata: sebagian Syaikh Kami menyebutkan bahwa diakhir hidupnya ia menampakkan pertobatannya ketika dipenjara, inilah bagian dari Taqiyyah dan kemunafikannya; karena diakhir umurnya -ketika bermukim didekat Madinah- Dia ber berjumpa dengan As Sakaakini yang merupakan pemuka Rafidah serta bersahabat dengannya. Ia menggubah Syair yang isinya mencela Abu Bakar Shiddiq Radiyallahu Anhu”.[6]

Pernyataan pernyataan serupa ditulis oleh beberapa Huffadz diantaranya oleh Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam Durarul Kaminah, bahkan Az Zahabi langsung menisbatkan kata Syii’ dibelakang namanya. Dalam Kitab Al ubar fii Khobari man ghubar. Beliau mengatakan :

ومات العلامة النجم سليمان بن عبد القوي الطوفي الحنبلي الشيعي الشاعر، صاحب شرح الروضة، وكان على بدعته كثير العلم، عاقلاً، متديناً. مات ببلد الخليل كهلاً.انتهى

Al Allamah Najmuddin Sulaiman bin Abdul Qawi At Thufi Al Hambali As Syii’ As syairi, pemilik syarah Raudhah.  Berbuat bid’ah, namun banyak Ilmunya, cerdas, dan religius, Wafat di negeri al Kholil (Ibrahim, red)

Oleh karena itu penulis berharap semoga kabar-kabar tentang taubatnya adalah kebenaran. Az Zahabi juga mendoakan dan berharap ia telah bertaubat dalam kitabnya siyar A’lamin Nubala, dan lagi ia memiliki banyak karangan yang bermanfaat dalam mazhab hambali dan bahkan syaikh Abdurrahman As Saadi telah mentahqiq sebuah Nadzam miliknya yang berisi 15 ribu bait tentang Fiqh Mazhab Hanabilah, beliau juga menyimpan beberapa manuskrip yang merupakan karangan At Thufi.

At Thufi juga disinyalir merupakan murid ibnu taimiyah dan atau gurunya ibnu Taimiyah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab diawal biografi Ibnu Taimiyah dalam kitab Dzail Thabaqatil Hanabilah.

Adapun celaannya terhadap ibnu taimiyah dalam Durarul kaminah maka perlu dipahami bahwa itu belum tentu pendapat At Thufi, karena kalimat-kalimat At Thufi yang ditampilkan oleh Ibnu Hajar adalah bentuk nukilan dan identifikasi At Thufi terhadap pendapat orang lain tentang ibnu Taimiyah diantaranya As Sakaakini dan Al Bakri. dia juga kerap mengatakan “sebagian orang menisbatkan”, “dinisbatkan kepadanya”, “satu kaum menisbatkan” dll (lihat tulisan berwarna merah dalam teks Durarul kaminah) yang menunjukkan bahwa itu bukan pendapatnya. Adapun yang jelas merupakan pendapatnya adalah perkataannya diawal Nukilan Ibnu Hajar dimana At Thufi mengatakan :

وكان يتكلم على المنبر على طريقة المفسرين مع الفقه والحديث فيورد في ساعة من الكتاب والسنة واللغة والنظر ما لا يقدر أحد على أن يورده في عدة مجالس كأنه هذه العلوم بين عينيه فأخذ منها ما يشاء

Dan ia (Ibnu Taimiyah) berbicara diatas mimbar layaknya seorang mufassir dan ahli fiqh serta Hadits. Dia melihat menerangkan Al Kitab, sunnah dan bahasa serta penelitian dalam berbagai majelis dengan kemampuan yang tidak bisa ditandingi seorangpun. Sepertinya ilmu-ilmu tersebut didepan matanya lalu ia mengambil apapun yang ia inginkan dari kitab-kitab tersebut.

Dia juga mengatakan:

وكان من أذكياء العالم

Dia termasuk orang yang cerdas dan alim.

(lihat tulisan berwarna hijau dalam teks Durarul kaminah)

Setelah mengucapkan dua pujian diatas, barulah dia mulai menukil dan menisbatkan cerita-cerita miring tentang ibnu Taimiyah dari orang lain yang merupakan Ahli Bid’ah. Dari sini terlihat bahwa pendapat beliau sesungguhnya adalah memuji Ibnu Taimiyah karena hanya itulah yang murni berasal darinya sesuai susunan kalimat yang terdapat dalam naskah Durarul Kaminah, namun kalaupun bukan demikian maka cukuplah celaan para Huffadz termasuk Ibnu Rajab sebagai hakim bahwasanya cerita-cerita miring tentang ibnu Taimiyah tersebut tidak bisa dipercaya karena berasal dari orang yang sesat Aqidahnya.

Yang membuat miris dan ironis adalah orang-orang sekarang yang menisbatkan celaan terhadap Ibnu Taimiyah dari At Thufi, padahal At Thufi menukilnya dari orang-orang sesat.

Semoga bermanfaat.

Saudaramu: dobdob


[1] Silahkan membaca biografi ibnu Taimiyah yang termaktub dalam Kitab ini khususnya nukilan Ibnu Hajar terhadap perkataan At Thufi tentang Ibnu Taimiyah agar lebih memahami alur tulisan saya

[2] Yaitu  Muhammad Bin Abu Bakar As Sakaakini yang merupakan Sahabatnya dalam kesesatan.

[3] Dari sini kita harus berhati-hati dan cerdas dalam membaca kitab sirah semodel Durarul kaminah, khususnya tentang Ibnu Taimiyah. Sebagai sejarawan yang adil, Ibnu Hajar telah menampilkan para pihak yang membenci Ibnu Taimiyah maupun yang menyanjungnya, dan ditempat tertentu beliau menyisipkan pendapat pribadinya. Kita harus dengan cerdas memilah dan memilihnya, jangan sampai kita salah mengidentifikasi dan malah menisbatkan penukilan kalimat oleh Ibnu Hajar dari Musuh-musuh Ibnu Taimiyah Kepada Ibnu Hajar sendiri seperti yang banyak dilakukan Oleh penentang dakwah salafiyah. Dengan gampangnya mereka mengatakan bahwa Ibnu Hajar telah berkomentar miring terhadap Ibnu taimiyah dalam kitab Durarul Kaminah, padahal yang mereka nukil adalah perkataan orang lain yang dinukil Oleh Ibnu Hajar dalam kitab Durarul Kaminah. Hal ini diperparah dengan minimnya pengetahuan mereka dengan bahasa arab, apalagi cetakan Durarul Kaminah tidak menyertakan paragraph dan titik serta tanda baca yang memadai. Orang yang membaca sepotong-sepotong apalagi terjemahan pasti akan mudah terkecoh. Sebagai contoh yang amat jelas tentang  pendapat pribadi Ibnu Hajar didalam kitabnya tersebut tentang Ibnu Taimiyah adalah kalimatnya diawal biografi Ibnu Taimiyah yang mengatakan :

أحمد بن عبد الحليم بن عبد السلام بن عبد الله بن أبي القاسم بن تيمية الحراني ثم الدمشقي الحنبلي تقي الدين أبو العباس بن شهاب الدين ابن مجد الدين

ولد في عاشر ربيع الأول سنة 661 وتحول به أبوه من حران سنة 67 فسمع من ابن عبد الدائم والقاسم الأربلي والمسلم ابن علان وابن أبي عمر والفخر في آخرين وقرأ بنفسه ونسخ سنن أبي داود وحصل الأجزاء ونظر في لرجال والعلل وتفقه وتمهر وتميز وتقدم وصنف ودرس وأفتى وفاق الأقران وصار عجباً في سرعة الاستحضار وقوة الجنان والتوسع في المنقول والمعقول والإطالة على مذاهب السلف والخلف

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdis Salam Bin Abdillah bin Abil Qasim bin Taimiyah Al Harran, ad Dimasqy, Al hambay, Taqiyuddin Abul abbas bin syihabuddin bin Majduddin Ibnu Taimiyah.

Lahir pada tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 661 Hijriah, kemudia ia Pindah bersama bapaknya dari harran pada tahu 667 Hijriah. Belajar dari ibnu Abdid Daaim, al Qasim al Irbili, Muslim bin Allan, ibnu abi Umar, dan Al fakhri. Belajar secara Otodidak dan menyalin sunan Abu Daud hingga beberapa bagian. Meneliti rijal dan cacat (hadits), Paham, Mahir, istimewa, terdepan, dan juga telah mengarang, mengajar, berfatwa, melebihi batas generasinya, mengagumkan dalam hal kecepatan mengingat, Kuat jiwanya, luas pengetahuan aqli dan naqlinya, dan memiliki pengetahuan mazhab salaf dan kholaf yang luas.

[4] Dia adalah seorang yang banyak berguru kepada Ahlussunnah namun anehnya banyak mengadopsi pemahaman syiah, ungkapan yang terkenal tentang orang ini adalah “seorang Syii yang berpemahaman Sunni dan seorang sunni yang cendrung kepada syiah. Ibnu Hajar menulis biografi orang ini dalam Durarul kaminah no 1088 dengan mengatakan bahwa penyebab orang ini jatuh kepada Aqidah syiah adalah karena berguru kepada seorang syiah. Dia menganut Qadariyah dan pernah berbantah-banatahan dengan ibnu Taimiyah karena disebabkan keyakinan qadariyahnya tersebut. Dikatakan bahwa dia telah bertaubat diakhir hidupnya namun beberapa tahun setelah wafatnya ditemukan kitab yang ditetapkan oleh sekumpulan ulama damaskus sebagai tulisannya yang isinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang zindiq. Dalam Durarul kaminah no.1551 beliau mengatakan bahwa Anaknya yang bernama Hasan dihukum mati dan dianggap zindik karena mengkafirkan Bukhari dan Muslim, menuduh putri keduanya berbuat zina, dan mengatakan bahwa jibril telah salah

[5] Nawashib adalah sighat muntahal Jumu’ (jamak)dari nashib sedangkan Nashibi adalah nisbat kepada pelakunya. Mereka adalah pencela ahlul bait, namun terkadang kata nashibi ini juga sering disematkan oleh syiah kepada ulama ahlussunnah yang gemar membongkar taashub dan ghuluw mereka terhadap Ali bin Abu thalib dan keluarganya. Untuk hal ini Ibnu rajab mencela At Thufi.

[6] Saya mendapati beberapa pembelaan terkait tuduhan-tuduhan yang dialamat kepada At thufi diantaranya banyaknya karangan beliau yang sesuai dengan apa yang ditempuh oleh ulama sunni, namun keterangan beberapa Huffadz terutama Ibnu Rajab dan Ibnu Hajar membuat posisi At Thufi makin terpuruk dan sulit untuk mengangkat derajatnya kembali. Kesyiahannya juga amat terlihat ketika dia mengobral penisbatan keburukan-keburukan terhadap ibnu Taimiyah padahal ia menukilnya dari ahli bid’ah. Adalah hal yang lumrah bahwa syiah membenci Ibnu taimiyah karena karangan-karangan beliau yang membongkar kesesatan mereka. Silahkan membaca pembelaan untuk beliau: http://tnzih.com/showthread.php?t=2740

Teks nukilan Ibnu Hajar dari At Thufi  dalam Kitab Durarul Kaminah

قال الطوفي

سمعته يقول:” من سألني مستفيداً حققت له ومن سألني متعنتاً نقضته فلا يلبث أن ينقطع فأكفي مؤنته وذكر تصانيفه

وقال في كتابه: أبطال الحيل

عظيم النفع وكان يتكلم على المنبر على طريقة المفسرين مع الفقه والحديث فيورد في ساعة من الكتاب والسنة واللغة والنظر ما لا يقدر أحد على أن يورده في عدة مجالس كأنه هذه العلوم بين عينيه فأخذ منها ما يشاء ويذر ومن ثم نسب أصحابه إلى الغلو فيه واقتضى له ذلك العجب بنفسه حتى زهى على أبناء جنسه واستشعر أنه مجتهد فصار يرد على صغير العلماء وكبيرهم قويهم وحديثهم حتى انتهى إلى عمر فخطأه في شيء فبلغ الشيخ إبراهيم الرقي فأنكر عليه فذهب إليه واعتذر واستغفر وقال في حق علي أخطأ في سبعة عشر شيئاً ثم خالف فيها نص الكتاب منها اعتداد المتوفي عنها زوجها أطول الأجلين وكان لتعصبه لمذهب الحنابلة يقع في الأشاعرة حتى أنه سب الغزالي فقام عليه قوم كادوا يقتلونه ولما قدم غازان بجيوشه التتر إلى الشام خرج إليه وكلمه بكلام قوي فهم بقتله ثم نجا واشتهر أمره من يومئذ واتفق الشيخ نصر المنبجي كان قد تقدم في الدولة لاعتقاد بيبرس الجاشنكير فيه فبلغه أن ابن تيمية يقع في ابن العربي لأنه كان يعتقد أنه مستقيموأن الذي ينسب إليه من الاتحاد أو الإلحاد من قصور فهم من ينكر عليه فأرسل ينكر عليه وكتب إليه كتاباً طويلاً ونسبه وأصحابه إلى الاتحاد الذي هو حقيقة الإلحاد فعظم ذلك عليهم وأعانه عليه قوم آخرون ضبطوا عليه كلمات في العقائد مغيرة وقعت منه في مواعيده وفتاويه فذكروا أنه ذكر حديث النزول فنزل عن المنبر درجتين فقال كنز ولي هذا فنسب إلى التجسيم ورده على من توسل بالنبي صلّى الله عليه وسلّم أو استغاث فأشخص من دمشق في رمضان سنة خمس وسبعمائة فجرى عليه ما جرى وحبس مراراً فأقام على ذلك نحو أربع سنين أو أكثر وهو مع ذلك يشغل ويفتي إلى أن اتفق أن الشيخ نصراً قام على الشيخ كريم الدين الآملي شيخ خانقاه سعيد السعداء فأخرجه من الخانقاه وعلى شمس الدين الجزري فأخرجه من تدريس الشريفية فيقال أن الآملي دخل الخلوة بمصر أربعين يوماً حتى زالت دولة بيبرس وخمل ذكر نصر وأطلق ابن تيمية إلى الشام وافترق الناس فيه شيعاً فمنهم من نسبه إلى التجسيم لما ذكر في العقيدة الحموية والواسطية وغيرهما من ذلك كقوله أن اليد والقدم والساق والوجه صفات حقيقية لله وأنه مستوٍ على العرش بذاته فقيل له يلزم من ذلك التحيز والانقسام فقال أنا لا أسلم أن التحيز والانقسام من خواص الأجسام فالذم بأنه يقول بتحيز في ذات الله ومنهم من ينسبه إلى الزندقة لقوله أن النبي صلّى الله عليه وسلّم لا يستغاث به وأن في ذلك تنقيصاً ومنعاً من تعظيم النبي صلّى الله عليه وسلّم وكان أشد الناس عليه في ذلك النور البكري فإنه لما له عقد المجلس بسبب ذلك قال بعض الحاضرين يعذر فقال البكري لا معنى لهذا القول فإنه إن كان تنقيصاً يقتل وإن لم يكن تنقيصاً لا يعذر ومنهم من ينسبه إلى النفاق لقوله في علي ما تقدم ولقوله أنه كان مخذ ولا حيث ما توجه،

وأنّه حاول الخلافة مراراً فلم ينلها وإنما قاتل للرياسة لا للديانة

ولقوله أنه كان يحب الرياسة وأن عثمان كان يحب المال

ولقوله أبو بكر أسلم شيخاً يدري ما يقول وعلي أسلم صبياً والصبي لا يصح إسلامه على قول، وبكلامه في قصة خطبة بنت أبي جهل ومات ما نسبها من الثناء على

وقصة أبي العاص ابن الربيع وما يؤخذ من مفهومها فإنه شنع في ذلك فألزموه بالنفاق لقوله صلّى الله عليه وسلّم ” ولا يبغضك إلا منافق

ونسبه قوم إلى أنه يسعى في الإمامة الكبرى فإنه كان يلهج بذكر ابن تومرت ويطريه فكان ذلك مؤكداً لطول سجنه

وله وقائع شهيرة وكان إذا حوقق وألزم يقول:” لم أر هذا!”، “إنما أردت كذا!”. فيذكر احتمالاً بعيداً

قال

وكان من أذكياء العالم وله في ذلك أمور عظيمة منها أن محمد بن أبي بكر السكاكيني عمل أبياتاً على لسان ذمي في إنكار القدر وأولها:حاول الخلافة مراراً فلم ينلها وإنما قاتل للرياسة لا للديانة ،

ولقوله أنه كان يحب الرياسة وأن عثمان كان يحب المال،

ولقوله أبو بكر أسلم شيخاً يدري ما يقول وعلي أسلم صبياً والصبي لا يصح إسلامه على قول، وبكلامه في قصة خطبة بنت أبي جهل ومات ما نسبها من الثناء على…

وقصة أبي العاص ابن الربيع وما يؤخذ من مفهومها فإنه شنع في ذلك، فألزموه بالنفاق لقوله صلّى الله عليه وسلّم ” ولا يبغضك إلا منافق ” ونسبه قوم إلى أنه يسعى في الإمامة الكبرى فإنه كان يلهج بذكر ابن تومرت ويطريه فكان ذلك مؤكداً لطول سجنه وله وقائع شهيرة وكان إذا حوقق وألزم يقول لم أر هذا إنما أردت كذا فيذكر احتمالاً بعيداً قال وكان من أذكياء العالم وله في ذلك أمور عظيمة منها أن محمد بن أبي بكر السكاكيني عمل أبياتاً على لسان ذمي في إنكار القدر وأولها:
أيا علماء الدين ذمي دينكم … تحير دلوه بأعظم حجة
إذا ما قضى ربي بكفري بزعمكم … ولم يرضه مني فما وجه حيلتي
فوقف عليها ابن تيمية فثنى إحدى ركبتيه على الأخرى وأجاب في مجلسه قبل أن يقوم بمائة وتسعة عشر بيتاً أولها:
سؤالك يا هذا سؤال معاند … مخاصم رب العرش باري البرية

وكان يقول أنا فأقرت في الأقفاص

%d bloggers like this: