Archive | Aqidah RSS feed for this section

Istiwa dan Duduk

31 Jan

Sebuah rumor disebarkan oleh orang-orang tertentu bahwa Ibnu taimiyah memaknakan istiwa dengan duduk serta menetapkan sifat duduk kepada Allah layaknya makhluk.Lantaran persangkaan tersebut mereka mengatakan bahwa Ibnu taimiyah adalah seorang Mujassimah.

Dengan bermohon pertolongan dari Allah yang Dzatnya tinggi diatas Arsy, Saya akan membahas rumor ini agar hal yang samar menjadi jelas.

Rumor ini tersebar lewat perkataan seorang alim ahli Tafsir yang bernama Abu Hayyan al Andalusi. Beliau mengatakan:

وقد قرأت في كتاب لأحمد بن تيمية هذا الذي عاصرناه وهو بخطه سماه ‏كتاب العرش: “إن الله يجلس على الكرسي وقد أخلى مكانا يقعد معه فيه رسول الله ‏”، ‏تحيَّل عليه مح مد بن عبد  الحق وكان أظهر أنه داعية له حتى أخذه منه ‏وقرأنا ذلك فيه

Aku telah membaca sebuah kitab milik Ibnu Taimiyah yang sejaman denganku, kitab tersebut merupakan tulisannya yang dia namakan “kitab al Arsyi” : Sesungguhnya Allah duduk diatas kursi dan ia mengosongkan tempat untuk duduk Rasulullah bersamanya. Continue reading

Advertisements

Fitnah Tajsim

21 Sep

Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda?

Jika anda jawab “yah” maka anda belum tentu benar.

Jika anda jawab “tidak”  Maka anda kemungkinan salah.

Loh kok. Mumet…. Bingung???

Apa itu Jism? Continue reading

Pembelaan Untuk Al Mizzi

19 Aug

Pengantar

Disekeliling Ibnu Taimiyah terdapat orang-orang terkemuka dalam bidangnya. Salah satunya adalah Ulama hadits tawadhu nan sabar yang terkenal dengan Nama Al Mizzi[1] yang merupakan mertua dari Ibnu katsir-seorang ahli tafsir terkemuka  dan pernah dipenjara karena membela pendapat Ibnu Taimiyah Continue reading

Ibnu Taimiyah dan Ta’wil

2 Jul

Pengantar

Cobaan bertubi sepertinya tak henti menjumpai Ibnu Taimiyah bahkan hingga lebih dari 700 tahun dari wafatnya, namun perumpaan beliau layaknya cendana yang memang harus dibakar agar tercium wanginya, dan terbukti bahwa wangi dan keagungannya tak lekang oleh zaman.

Kali ini tuduhan aneh menyambangi beliau.

Bagaiman tidak aneh, atas dasar permusuhannya dengan Aqidah takwillah beliau keluar masuk penjara dan bahkan menghembuskan nafas terakhirnya dibalik jeruji besi didalam benteng yang kokoh. Continue reading

MAJMU FATAWA : Definisi Sahabat antara Khos dan Am

23 Mar

Sahabat-sahabat Rasulullah adalah Mukmin Pilihan, Rasulullah Bersabda:

خير القرون القرن الذي بعثت فيهم ثمّ الذين يلونهم، ثمّ الذين يلونهم[ 1 ]

Generasi paling baik adalah generasi dimana aku diutus (Shahabat, pent)  kemudian generasi selanjutnya (tabiin, pent) kemudian generasi Selanjutnya (Tabiut tabiin, pent). (Muttafaq alaih)

Siapapun yang pernah melihat Rasulullah adalah sahabat sebatas ukuran tersebut.

Rasulullah Bersabda:

“Akan berperang sekumpulan tentara, lalu ditanyakan kepada mereka: Adakah di antara kalian yang merupakan shahabat Rasulullah saw.? Mereka menjawab: Ya, ada. Lalu mereka diberi kemenangan (mengalahkan musuh). Kemudian datang lagi sekumpulan  tentara yang berperang, lalu ditanyakan kepada mereka: Adakah di antara kalian orang yang pernah melihat Rasulullah saw. Mereka menjawab: Ya, ada. Kemudian mereka pun diberi kemenangan.”[2] Kemudian disebutkan generasi  yang ketiga.

Dari sini disimpulkan bahwa hukum melihat rasulullah disamakan dengan ketetapan sebagai sahabat.

Lafadz Shahabat mengandung makna umum dan khusus, Continue reading

AUNUL MA’BUD: Larangan Melakukan Safar untuk ngalap Berkah dan Ziarah

19 Mar

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah telah bersabda :

((لا تُشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد)) رواه البخاري ومسلم، وفي رواية عند مسلم ((لا تشدوا))

Artinya:” tidaklah  suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan Pada Riwayat lain “Janganlah kalian mempersiapkan perjalanan (bersafar)”

Namun pemahaman hadits ini dipertentangkan oleh para Ulama. Kita memang harus memaklumi bahwa setiap ulama yang telah memenuhi syarat untuk Melakukan hal tersebut berhak untuk berfatwa dalam hal ini.

Sebelumnya saya tegaskan bahwa larangan ini berlaku untuk orang yang safar semata-mata dengan tujuan untuk Tabarruk dan atau ziarah, Adapun misalnya orang yang ingin menziarahi kubur nabi shallalahu alaiwi Wasallam, maka Pensyarah Sunan Abu Dawud memberi jalan keluar pada akhir tulisannya tentang syarah hadits ini dengan mengatakan:

“Ketahuilah bahwasanya ziarah kekubur nabi Shallallahu alaiwi Wasallam termasuk ketaatan yang paling mulia dan kesunnahan yang paling utama, Namun hendaknya seorang yang ingin bersafar untuk berniat menziarahi Masjid Nabawi baru kemudian mengunjungi Kubur Nabi shallallahu Alaihi Wasallam dan bershalawat kepadanya.

Ya Allah berilah kami anugrah untuk menziarahi masjid nabawi dan Kubur nabi Shallahu Alaihi Wasallam. Amin”

Anehnya, Ibnu Taimiyah kerap dipersalahkan sebagai Orang yang menyendiri dalam memahami hadits ini dan dianggap menyimpang bahkan dipenjarakan karena mentafsirkan hadits ini sesuai dengan hasil Ijtihadnya.

Tulisan ini  merupakan Salinan pendapat ulama yang mentafsirkan hadits ini tanpa sedikitpun menyebut nama Ibnu Taimiyah namun pendapatnya sama dengan beliau. Hal ini sengaja saya lakukan agar kaum Muslimin mengetahui bahwa keharaman melakukan Safar  untuk berziarah telah diharamkan oleh banyak Ulama selain Ibnu Taimiyah. Continue reading

MAJMU FATAWA: Arah (jihat) terkait sifat Allah

11 Mar

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang orang yang meyakini “arah” (terkait sifat Allah,red), Apakah dia Mubtadi, Kafir, atau tidak?

Beliau menjawab:

Adapun barang siapa yang meyakini adanya arah, Jika ia berkeyakinan bahwa Allah didalam makhluknya yang Ia diliputi oleh ciptaannya dan dibatasi oleh langit, hingga sebagian makhluk berada diatasnya dan sebagian berada dibawahnya, maka pemilik keyakinan tersebut adalah Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia berkeyakinan bahwa Allah membutuhkan sesuatu yang membawanya -ke Arsy atau lainnya-, Maka Pemilik keyakina tersebut juga Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia menjadikan sifat Allah sama dengan Sifat makhluk-makhluknya dengan mengatakan: Istiwa Allah sama dengan istiwa makhlukNya, nuzulNya seperti nuzul makhlukNya, atau yang semisal itu, maka dia juga Ahli bid’ah yang sesat.

Sesungguhnya Kitab dan Sunnah serta akal telah menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai makhluknya sedikitpun. Allah juga tidak membutuhkan apapun, terpisah dari makhluknya dan tinggi diatasnya. Continue reading