Archive | Fatwa RSS feed for this section

MAJMU FATAWA : Definisi Sahabat antara Khos dan Am

23 Mar

Sahabat-sahabat Rasulullah adalah Mukmin Pilihan, Rasulullah Bersabda:

خير القرون القرن الذي بعثت فيهم ثمّ الذين يلونهم، ثمّ الذين يلونهم[ 1 ]

Generasi paling baik adalah generasi dimana aku diutus (Shahabat, pent)  kemudian generasi selanjutnya (tabiin, pent) kemudian generasi Selanjutnya (Tabiut tabiin, pent). (Muttafaq alaih)

Siapapun yang pernah melihat Rasulullah adalah sahabat sebatas ukuran tersebut.

Rasulullah Bersabda:

“Akan berperang sekumpulan tentara, lalu ditanyakan kepada mereka: Adakah di antara kalian yang merupakan shahabat Rasulullah saw.? Mereka menjawab: Ya, ada. Lalu mereka diberi kemenangan (mengalahkan musuh). Kemudian datang lagi sekumpulan  tentara yang berperang, lalu ditanyakan kepada mereka: Adakah di antara kalian orang yang pernah melihat Rasulullah saw. Mereka menjawab: Ya, ada. Kemudian mereka pun diberi kemenangan.”[2] Kemudian disebutkan generasi  yang ketiga.

Dari sini disimpulkan bahwa hukum melihat rasulullah disamakan dengan ketetapan sebagai sahabat.

Lafadz Shahabat mengandung makna umum dan khusus, Continue reading

Advertisements

AUNUL MA’BUD: Larangan Melakukan Safar untuk ngalap Berkah dan Ziarah

19 Mar

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah telah bersabda :

((لا تُشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد)) رواه البخاري ومسلم، وفي رواية عند مسلم ((لا تشدوا))

Artinya:” tidaklah  suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan Pada Riwayat lain “Janganlah kalian mempersiapkan perjalanan (bersafar)”

Namun pemahaman hadits ini dipertentangkan oleh para Ulama. Kita memang harus memaklumi bahwa setiap ulama yang telah memenuhi syarat untuk Melakukan hal tersebut berhak untuk berfatwa dalam hal ini.

Sebelumnya saya tegaskan bahwa larangan ini berlaku untuk orang yang safar semata-mata dengan tujuan untuk Tabarruk dan atau ziarah, Adapun misalnya orang yang ingin menziarahi kubur nabi shallalahu alaiwi Wasallam, maka Pensyarah Sunan Abu Dawud memberi jalan keluar pada akhir tulisannya tentang syarah hadits ini dengan mengatakan:

“Ketahuilah bahwasanya ziarah kekubur nabi Shallallahu alaiwi Wasallam termasuk ketaatan yang paling mulia dan kesunnahan yang paling utama, Namun hendaknya seorang yang ingin bersafar untuk berniat menziarahi Masjid Nabawi baru kemudian mengunjungi Kubur Nabi shallallahu Alaihi Wasallam dan bershalawat kepadanya.

Ya Allah berilah kami anugrah untuk menziarahi masjid nabawi dan Kubur nabi Shallahu Alaihi Wasallam. Amin”

Anehnya, Ibnu Taimiyah kerap dipersalahkan sebagai Orang yang menyendiri dalam memahami hadits ini dan dianggap menyimpang bahkan dipenjarakan karena mentafsirkan hadits ini sesuai dengan hasil Ijtihadnya.

Tulisan ini  merupakan Salinan pendapat ulama yang mentafsirkan hadits ini tanpa sedikitpun menyebut nama Ibnu Taimiyah namun pendapatnya sama dengan beliau. Hal ini sengaja saya lakukan agar kaum Muslimin mengetahui bahwa keharaman melakukan Safar  untuk berziarah telah diharamkan oleh banyak Ulama selain Ibnu Taimiyah. Continue reading

MAJMU FATAWA : Pembunuhan Husain bin Ali bin Abu Thalib

12 Mar

Banyak sekali bertebaran kisah-kisah tentang terbunuhnya Husain dari berbagai sumber terutama dari kalangan Syiah. Disini saya mencoba menyusun tulisan dari beberapa tulisan yang telah ada dengan mendasarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan juga Muridnya ibnu Katsir dalam kitabnya Al bidayah Wannihayah disertai sumber-sumber otentik dari hadits-hadits dan atsar yang telah sah.

Isyarat akan terbunuhnya Husain

Jauh hari sebelum Husain terbunuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita Kepada Ali bin Abi Thalib  bahwa Husain akan wafat dalam keadaan terbunuh. Adz-Dzahabi rahimahullah membawakan dari  dari ‘Ali, ia berkata:

“Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kedua mata beliau bercucuran air mata, lalu beliau bersabda: “Jibril baru saja datang, ia menceritakan kepadaku bahwa Husain kelak akan mati dibunuh. Kemudian Jibril berkata: “Apakah engkau ingin aku ciumkan kepadamu bau tanahnya?”. Aku menjawab: “Ya. Jibril lalu menjulurkan tangannya, ia menggenggam tanah satu genggaman. Lalu ia memberikannya kepadaku. Sehingga karena itulah aku tidak kuasa menahan air mataku”.[1]

Kronologi terbunuhnya Husain Radiyallahu anhu

Ketika Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu resmi menjadi khalifah, maka Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu juga sangat memuliakannya, bahkan sangat memperhatikan kehidupan Husain Radhiyallahu ‘anhu dan saudaranya, sehingga sering memberikan hadiah kepada keduanya. Tetapi, ketika Yazid bin Mu’awiyah diangkat sebagai khalifah, Husain Radhiyallahu ‘anhu bersama Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhu termasuk yang tidak mau berbai’at. Bahkan penolakan itu terjadi sebelum Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu wafat ketika Yazid sudah ditetapkan sebagai calon khalifah pengganti Mu’awiyah. Continue reading

MAJMU FATAWA: Arah (jihat) terkait sifat Allah

11 Mar

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang orang yang meyakini “arah” (terkait sifat Allah,red), Apakah dia Mubtadi, Kafir, atau tidak?

Beliau menjawab:

Adapun barang siapa yang meyakini adanya arah, Jika ia berkeyakinan bahwa Allah didalam makhluknya yang Ia diliputi oleh ciptaannya dan dibatasi oleh langit, hingga sebagian makhluk berada diatasnya dan sebagian berada dibawahnya, maka pemilik keyakinan tersebut adalah Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia berkeyakinan bahwa Allah membutuhkan sesuatu yang membawanya -ke Arsy atau lainnya-, Maka Pemilik keyakina tersebut juga Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia menjadikan sifat Allah sama dengan Sifat makhluk-makhluknya dengan mengatakan: Istiwa Allah sama dengan istiwa makhlukNya, nuzulNya seperti nuzul makhlukNya, atau yang semisal itu, maka dia juga Ahli bid’ah yang sesat.

Sesungguhnya Kitab dan Sunnah serta akal telah menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai makhluknya sedikitpun. Allah juga tidak membutuhkan apapun, terpisah dari makhluknya dan tinggi diatasnya. Continue reading

MAJMU FATAWA : dimana ALLAH?

10 Mar

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Salah Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.” Sedangkan yang satunya lagi berkata, “Sesungguhnya Allah itu tidak dibatasi oleh tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i rodhiAllahu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar?

Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Alhamdulillah, keyakinan Asy Syafi’i rohimahulloh dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.

Begitu pula Abu Hanifah rohmatullohi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah.

Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah Continue reading

Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash

9 Mar

Muawiyah dan Amr Bin Ash termasuk orang-orang beriman. Tidak ada satupun salaf yang menuduh mereka sebagai orang munafik. Bahkan telah Tsabit dalam kitab sohih bahwasanya Amr bin Ash ketika membaiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ia berkata :”Agar Allah mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu”. Maka Rasulullah bersabda: “ tidakkah engkau tahu bahwasanya Islam akan Memusnahkan apa yang telah lalu?”[1].

Dan diketahui bahwa yang Islam yang memusnahkan (dosa,red) merupakan Islamnya orang-orang beriman, bukan Islamnya Orang-orang Munafik.

Amr Bin Ash juga termasuk orang yang berhijrah setelah Hudaibiyah secara sukarela bukan paksaan. Sedangkan orang-orang Muhajirin bukanlah orang Munafik, tetapi yang munafik adalah sebagian orang yang telah ada didalam kaum Anshar yang merupakan Penduduk Madinah. Ketika para pemuka dan kebanyakan penduduknya Masuk Islam, sebagian orang-orang Munafik tersebut berpura-pura sebagai pemeluk Islam. Berbeda dengan  Penduduk Mekkah yang Para pemuka dan kebanyakan Penduduknya adalah kafir, tidak ada yang menunjukkan Keimanannya kecuali orang-orang yang sungguh-sungguh beriman baik lahir maupun batin. Continue reading

Distorsi Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Maulid Nabi

16 Feb

Ada orang yang menyangka bahwa Ibnu Taimiyah membolehkan Maulid lewat nukilan dari tulisan beliau pada Kitab Iqtidha Sirothol Mustaqim.

Saya ajak ikhwan semua untuk meneliti apakah yang dikatakan oleh yang bersangkutan memang benar atau hanya sebuah pengelabuan.
Kitab yang digunakan sebagai sandaran dalam hal ini adalah kitab Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim karya Ibnu Taimiyah terbitan Darl fikr libanon
Adapun terbitan yang saya gunakan sebagai pembanding adalah terbitan Maktabah Ar-Rusyd – Riyadl (terdiri dari dua jilid), tahqiq : Prof. Dr. Naashir bin ‘Abdil-Karim Al-‘Aql hafidhahullah.

halaman cover

Perlu diketahui bahwa pembahasan ini secara khusus untuk mengungkapkan pendapat Ibnu Taimiyah yang sebenarnya tentang Maulid, bukan bid’ah tidaknya Maulid.

Silahkan mendownload kitab Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim agar tidak ada keraguan dan kecurangan dalam Pembahasan ini Continue reading